Malam hari ini Sabtu, 4 April 2015 terjadi gerhana bulan total
di beberapa wilayah di Indonesia. Dalam Islam, mengerjakan salat
gerhana hukumnya sunnah muakkad (sunnah yang dianjurkan). Oleh
karenanya, tata cara shalat gerhana bulan dan doa sholat gerhana bulan
menjadi topik pokok untuk umat Islam demi menjalankan sunnah Rasul.
Rasulullah Muhammad saw. bersabda, “Sesungguhnya matahari dan bulan
adalah bukti tanda-tanda kekuasaan Allah. Sejatinya tidak terjadi
gerhana pada keduanya karena kematian seseorang, dan tidak pula (terjadi
gerhana) karena hidupnya seseorang. Oleh karena itu, bila kalian
melihatnya, maka berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, shalat dan
bersedekahlah.” (Muttafaqun ‘alaihi).
Berdasarkan riwayat di atas, telah dijelaskan bahwa gerhana adalah sesuatu yang alamiah,
bukan perkara mistis, tetapi merupakan bukti kebesaran Allah semata.
Oleh karenanya, kaum muslimin hendaknya menunaikan shalat gerhana, baik
untuk gerhana matahari atau bulan.
Lebih diutamakan shalat ini dikerjakan secara berjamaah.
Diriwayatkan, “Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam keluar
menuju masjid, kemudian beliau berdiri, selanjutnya bertakbir dan
sahabat berdiri dalam shaf di belakangnya.” (Muttafaqun ‘alaihi).
Lalu, kapan waktu yang tepat untuk mengerjakan shalat gerhana tersebut? Shalat dikerjakan sejak terjadinya gerhana hingga peristiwa tersebut berakhir.
Adapun untuk memanggil umat untuk mengerjakan salat tersebut, tidak
ada azan atau iqamah. Meskipun demikian, umat bisa diingatkan dengan
seruan agar berjamaah salat gerhana, misalnya dengan mengumandangkan pengumuman “ash-shalatu jâmi’ah” (sesungguhnya shalat akan didirikan).
Bagaimana tata cara shalat gerhana? Shalat tersebut dilakukan dalam
dua rakaat, dengan masing-masing rakaat dilakukan dua ruku’. Setelah
membaca Surah Al fatihah dan surah lain, kita melakukan ruku’ pertama.
Kemudian, bangkit berdiri lagi untuk membaca surat Al Fatihah dan surah
lain. Barulah kemudian ruku’, i’tidal, dan seterusnya hingga rakaat
pertama selesai. Kemudian, tata cara tersebut diulang pada rakaat kedua.
Urut-urutan tata cara shalat gerhana adalah sebagai berikut.
1. Niat
2. Takbiratul Ikram
3. Membaca surat Al Fatihah dan surat panjang
4. Ruku’ panjang
5. Bangkit dari ruku’ (i’tidal) dengan mengucapkan ‘sami’allahu liman hamidah’. Kemudian membaca Al Fatihah dan surat lainnya
6. Ruku’ lagi (panjang, tetapi lebih pendek dari ruku’ pertama)
7. I’tidal
8. Sujud
9. Duduk di antara dua sujud
10. Sujud kedua
11. Berdiri lagi untuk rakaat kedua, membaca surat Al Fatihah dan surah lain
12. Ruku’
13. Bangkit dari ruku’ (i’tidal) dengan mengucapkan ‘sami’allahu liman hamidah’. Kemudian membaca Al Fatihah dan surat lainnya.
14. Ruku’ lagi
15. I’tidal
16. Sujud
17. Duduk di antara dua sujud
18. Sujud kedua
19. Duduk Tahiyah akhir
20. Salam
2. Takbiratul Ikram
3. Membaca surat Al Fatihah dan surat panjang
4. Ruku’ panjang
5. Bangkit dari ruku’ (i’tidal) dengan mengucapkan ‘sami’allahu liman hamidah’. Kemudian membaca Al Fatihah dan surat lainnya
6. Ruku’ lagi (panjang, tetapi lebih pendek dari ruku’ pertama)
7. I’tidal
8. Sujud
9. Duduk di antara dua sujud
10. Sujud kedua
11. Berdiri lagi untuk rakaat kedua, membaca surat Al Fatihah dan surah lain
12. Ruku’
13. Bangkit dari ruku’ (i’tidal) dengan mengucapkan ‘sami’allahu liman hamidah’. Kemudian membaca Al Fatihah dan surat lainnya.
14. Ruku’ lagi
15. I’tidal
16. Sujud
17. Duduk di antara dua sujud
18. Sujud kedua
19. Duduk Tahiyah akhir
20. Salam







0 komentar:
Posting Komentar