Kamis, 03 April 2014
Kisah Sahabat Rasulullah (Abbad bin Bisyr ), ahli ibadah yang gagah berani
05.33
No comments
Abbad
bin Bisyr, adalah seorang sahabat yang tidak asing lagi dalam sejarah
dakwah islamiyah. Ia tidak hanya termasuk di antara para 'abid (ahli
ibadah), bertakwa, dan menegakkan shalat setiap malam dengan membaca
beberapa juz Al Quran, tapi juga tergolong di kalangan para pahlawan,
yang gagah berani, dalam menegakkan kalimat Allah. Tidak hanya itu, ia
juga seorang penguasa yang cakap, berbobot, dan dipercaya dalam urusan
harta kekayaan kaum muslimin.
Ketika Islam mulai tersiar
di Madinah, Abbad bin Hisyr Al Asyhaly masih muda. Kulitnya yang bagus
dan wajahnya yang rupawan memantulkan cahaya kesucian. Dalam kegiatan
sehari-hari dia memperlihatkan tingkah laku yang baik, bersikap seperti
orang-orang yang sudah dewasa, kendati usianya belum mencapai dua puluh
lima tahun. Dia mendekatkan diri kepada seorang dai dari Mekah yaitu
Mush'ab bin Umair. Dalam tempo singkat hati keduanya terikat dalam
ikatan iman yang kokoh. Abbad mulai belajar membaca Al-Quran kepada
Mushab. Suaranya merdu, menyejukkan dan menawan hati. Begitu senangnya
membaca kalamullah, sehingga menjadi kegiatan utama baginya.
Diulang-ulangnya siang dan malam, bahkan dijadikannya suatu kewajiban.
Karena
itu dia terkenal di kalangan para sahabat sebagai imam dan pembaca
Al-Quran. Pada suatu malam Rasulullah SAW sedang melaksanakan shalat
tahajud di rumah Aisyah yang berdempetan dengan Masjid. Terdengar oleh
beliau suara Abbad bin Bisyr membaca Quran dengan suara yang merdu,
laksana suara Jibril ketika menurunkan wahyu ke dalam hatinya. "Ya
Aisyah, suara Abbad bin Bisyrkah itu?" tanya Rasulullah. "Betul, ya
Rasulullah!" jawab Aisyah. Rasulullah berdoa, "Ya Allah, ampunilah
dia!" Abbad bin Bisyr turut berperang bersama-sama Rasulullah SAW dalam
setiap peperangan yang beliau pimpin. Dalam peperangan-peperangan itu
dia bertugas sebagai pembawa Alquran. Ketika Rasulullah kembali dari
peperangan Dzatur Riqa', beliau beristirahat dengan seluruh pasukan
muslim di lereng sebuah bukit.
Seorang prajurit muslim
menawan seorang wanita musyrik yang ditinggal pergi oleh suaminya.
Ketika suaminya datang kembali, didapatinya istrinya sudah tiada. Dia
bersumpah dengan Lata dan 'Uzza akan menyusul Rasulullah dan pasukan
kaum muslimin, dan tidak akan kembali kecuali setelah menumpahkan darah
mereka. Setibanya di tempat perhentian di atas bukit, Rasulullah
bertanya kepada mereka, "Siapa yang bertugas berjaga malam ini?" Abbad
bin Bisyr dan Amar bin Yasir berdiri, "Kami, ya Rasulullah!" kata
keduanya serentak. Rasulullah telah menjadikan keduanya bersaudara
ketika kaum Muhajirin baru tiba di Madinah. Ketika keduanya keluar ke
mulut jalan (pos penjagaan), Abbad bertanya kepada Ammar, "Siapa di
antara kita yang berjaga lebih dahulu?" "Saya yang tidur lebih dulu!"
jawab Amar yang bersiap-siap untuk berbaring tidak jauh dari tempat
penjagaan.
Suasana malam itu tenang, sunyi dan nyaman.
Bintang gemintang, pohon-pohon dan batu-batuan, seakan sedang bertasbih
memuji kebesaran Allah. Hati Abbad tergiur hendak turut melakukan
ibadah. Dalam sekejap ia pun larut dalam manisnya ayat-ayat Al Quran
yang dibacanya dalam sholat. Nikmat shalat dan tilawah (bacaan Al Quran)
berpadu menjadi satu dalam jiwanya. Dalam sholat dibacanya surat Al
Kahfi dengan suara memilukan, merdu bagi siapa pun yang mendengarnya.
Ketika dia sedang bertasbih dalam cahaya ilahi yang meningkat tinggi,
tenggelam dalam kelap-kelip pancarannya, seorang laki-laki datang memacu
langkah tergesa-gesa.
Ketika dilihatnya dari kejauhan
seorang hamba Allah sedang beribadat di mulut jalan, dia maklum
Rasulullah dan para sahabat pasti berada di sana. Sedangkan orang yang
sedang shalat itu adalah pengawal yang bertugas jaga. Orang itu segera
menyiapkan panah dan memanah Abbad tepat mengenainya. Abbad mencabut
panah yang bersarang di tubuhnya sambil meneruskan bacaan dan tenggelam
dalam sholat. Orang itu memanah lagi dan mengenai Abbad dengan jitu.
Abbad mencabut pula anak panah kedua ini dari tubuhnya seperti yang
pertama. Kemudian orang itu memanah lagi. Abbad mencabutnya pula seperti
dua buah panah yang terdahulu.
Giliran jaga bagi Amar bin
Yasir pun tiba. Abbad merangkak ke dekat saudaranya itu, lalu
membangunkannya seraya berkata, "Bangun! Aku terluka parah dan lemas!"
Sementara itu, ketika melihat mereka berdua, si pemanah buru-buru
melarikan diri. Amar menoleh kepada Abbad. Dilihatnya darah mengucur
dari tiga buah lubang luka di tubuh Abbad. "Subhanallah! Mengapa engkau
tidak membangunkan ketika panah pertama mengenaimu?" tanyanya keheranan.
"Aku sedang membaca Al Quran dalam shalat. Aku tidak ingin memutuskan
bacaanku sebelum selesai. Demi Allah, kalaulah tidak karena takut akan
menyia-nyiakan tugas yang dibebankan Rasulullah, menjaga mulut jalan
tempat kaum muslimin berkemah, biarlah tubuhku putus daripada memutuskan
bacaan dalam shalat," jawab Abbad. Ketika perang memberantas
orang-orang murtad berkecamuk di masa Abu Bakar ra, khalifah menyiapkan
pasukan besar untuk menindas kakacauan yang ditimbulkan Musailamah Al
Kadzdzab.
Abbad bin Bisyr termasuk pelopor dalam
ketentaraan tersebut. Setelah diperhatikannya celah-celah pertempuran,
Abbad berpendapat kaum muslimin tidak mungkin menang karena kaum
Muhajirin kaum Anshar saling menyerahkan urusan satu sama lain. Bahkan
mereka saling membenci dan saling mencela. Abbad yakin kaum muslimin
tidak akan menang dalam pertempuran dengan pasukan yang tidak kompak
itu. Kecuali bila kaum Anshar dan Muhajirin membentuk pasukannya
masing-masing dengan tanggung jawab sendiri-sendiri. Dengan begitu dapat
diketahui dengan jelas mana pejuang yang sungguh-sungguh. Sebelum
pertempuran yang menentukan itu dimulai. Abbad bermimpi dalam tidurnya
seolah-olah dia melihat langit terbuka.
Setelah dia
memasukinya, dia langsung menggabungkan diri ke dalam dan mengunci
pintu. Ketika subuh tiba, Abbad menceritakan mimpinya itu kepada Abu
Said Al Khudri, "Demi Allah itu seperti benar-benar kejadian, hai Abu
Said!" Ketika perang mulai berlangsung, Abbad naik ke suatu bukit kecil
seraya berteriak, "Hai kaum Anshar, berpisahlah kalian dari tentara
yang banyak itu! Pecahkan sarung pedang kalian! Jangan tinggalkan Islam
terhina atau tenggelam, niscaya bencana akan menimpa kalian." Abbad
mengulang-ulang seruannya sehingga sekitar empat ratus prajurit
berkumpul di sekelilingnya. Di antara mereka terdapat perwira seperti
Tsabit bin Qais, Al Barra bin Malik, dan Abu Dujanah, pemegang pedang
Rasulullah SAW.
Abbad dan pasukannya menyerbu memecah
pasukan musuh dan menyebar maut dengan pedangnya. Kemunculannya
menyebabkan pasukan Musailamah Al Kadzdzab terdesak mundur dan melarikan
diri ke Kebun Maut. Di sana dekat pagar tembok Kebun Maut, Abbad gugur
sebagai syahid. Tubuhnya penuh dengan luka bekas pukulan pedang,
tusukan lembing, panah yang menancap. Para sahabat hampir tak
mengenalinya, kecuali setelah melihat beberapa tanda di bagian tubuhnya
yang lain. Semoga Allah memberikan pahala kepadanya dengan surga firdaus
seperti para syuhada' lainnya. Amin
Langganan:
Komentar (Atom)










