Merawat dan membesarkan anak yang ekspresif secara emosional adalah
satu tantangan terbesar bagi orangtua karena umumnya orangtua tidak
mengizinkan anak-anak mengekspresikan perasaannya. Sayangnya, banyak
risiko besar yang tersimpan dibalik anak-anak yang kurang ekspresif.
Mereka berisiko menyimpan kemarahan yang lebih besar dari batas normal.
Berikut beberapa cara untuk membesarkan anak menjadi lebih ekspresif,
namun tetap bersikap hormat sehingga tidak merugikan lingkungan
sosialnya kelak.
1. Kembangkan Praktek Pengasuhan
Seorang bayi perlu menjadi anak terlebih dahulu untuk dapat
mengekspresikan perasaan. Inilah sebabnya penting bagi para orangtua
menjadi responsif terhadap isyarat bayi.
Bayi berusia satu bulan akan menangis untuk mengekspresikan kebutuhan
makan maupun digendong. Sayangnya, kerapkali orangtua tak menangkap
isyarat ini. Kendati beberapa orangtua juga mampu menanggapi secara
sensitif isyarat bayi. Sementara, bayi juga belajar tentang impuls yang
memiliki makna. Tangisan dimaknai bayi sebagai sebuah upaya membawa
tanggapan yang menghibur dari orangtua. Kemudian, bayi juga akan belajar
mengarahkan kebutuhan dalam hal-hal baik.
Menjadi terbuka dan responsif terhadap isyarat bayi, juga dapat
menegaskan ekspresi diri bayi. Ketika orangtua mengantisipasi kebutuhan
dengan menanggapi sinyal pra menangis, bayi belajar lebih banyak cara
mengekspresikan diri sendiri. Bayi kemudian memahami jika dirinya tidak
harus menangis untuk mendapatkan apa yang dibutuhkan.
Hal ini membuat bayi lebih mampu menikmati berada bersama
lingkungannya. Dimana bayi menyadari, ada jaminan orang tuanya akan
terus bersikap simpatik dengan kebutuhan. Bayi yang terhubung dengan
orangtuanya akan menjadi anak yang mampu mengenali dan menunjukkan
perasaan yang terdalam. Sebaliknya, bayi yang terputus dari koneksi
dengan orangtuanya akan sulit menyatakan apa yang dirasakan.
Mengupayakan anak yang ekspresif juga dapat dirintis dengan
mengupayakan penjadwalan. Bayi yang dirawat terjadwal, dibiarkan saja
menangis, dan diperlakukan terlalu disiplin (karena ketakutan berlebih
akan dampak memanjakan anak, Red.), akan belajar secara awal tentang
dunia pengasuhan yang tidak selalu responsif terhadap kebutuhan. Dia
akan belajar berhenti bertanya. Begitu pula, akan berhenti mengungkapkan
dan mengidentifikasi perasaan di usia dini. Pada permukaan, bayi akan
belajar memperlihatkan dirinya sebagai “orang baik” yang tidak
mengganggu siapapun. Bayi akan menyesuaikan jadwal secara fleksibel,
tidur sepanjang malam dan berusaha nyaman dengan sekitar. Anak yang
dipaksa dan ditekan secara internal ini akan menyimpan kemarahan di
dalam dirinya. Ia boleh saja nampak “baik” dan “cukup disiplin”.
Sayangnya ini bukan sebuah perkembangan yang baik.
Atau, bukan bayi yang “baik” yang didapat, justru bayi “pemarah” yang
kerap menangis keras ketika menerima jawaban. Mereka berubah lebih
menjengkelkan dan marah secara terbuka. Bayi-bayi ini akan menjadi anak
yang sulit dihadapi. Ketika kemarahan ini terbawa hingga dewasa,
anak-anak ini justru berisiko berakhir di kantor konsultan psikologi.
2. Dorong Perasaan Balita
Bayi yang ekspresif dan orangtua yang responsif menjadi kombinasi
terbaik bagi masa balita. Ini karena bayi belajar mendengar dan
menerjemahkan isyarat pada tahun pertama, sehingga lebih mampu
mengekspresikan dirinya.
Setelah bayi tumbuh lebih besar dan memiliki kebutuhan yang lebih
besar, bayi belajar mengekspresikan kebutuhan yang berhubungan dengan
perasaannya. Beberapa Ibu memberitahu, mereka kesulitan memahami balita
karena mereka tak memiliki cukup kosakata yang dapat dipahami. Lalu
beberapa Ibu juga menuntut balitanya mampu “mengatakan” sesuatu yang
dibutuhkannya. Sayangnya, beberapa balita justru “mengatakan”
keinginannya dengan ekspresi di mata. Dan, balita tahu persis apa yang
ingin diberitahukannya kepada Anda. Mata mereka seringkali lebih fasih
berbicara daripada lidahnya. Mata balita mampu berbicara “sejujur
jiwanya” kendati kerap mengungkapkan kata-kata secara kacau.
3. Upayakan Lebih Mendekat
Balita adalah manusia kecil dengan kebutuhan yang besar. Sayangnya,
mereka masih memiliki kemampuan terbatas untuk berkomunikasi. Sebagai
orangtua, cobalah membantu mereka.
Buatlah kontak mata dengan mereka ketika berbicara. Cobalah lebih
mencurahkan perhatian ketika tidak mengerti apa yang sedang balita Anda
coba katakan. Berikan pula cukup apresiasi dengan isyarat tubuh seperti
menganggukkan kepala, kontak mata, dan tepukan lembut di bahu. Bahkan
disaat Anda sedang sangat sibuk dan sulit berbicara dengan bertatap
mata, cobalah lakukan kontak suara dengannya. Ingat, anak belum cukup
dewasa untuk memahami mengapa orang dewasa sangat sibuk dengan
kebutuhannya. Mereka hanya ingin Anda berbicara dengannya. Karena itu
cobalah berbicara “katakan pada mama, apa yang kamu inginkan...” dan
anak akan merasa Anda peduli padanya.
Seorang anak berusia dua tahun dan jarinya terluka, menjerit histeris
pada Ibunya. Sang Ibu pun memeriksa lukanya lalu berkata, “Tunjukkan
mana yang sakit. Seberapa buruk lukamu, sayang?." Kendati dirinya
mengetahui, luka itu tidak separah jeritannya, namun tindakannya melihat
ke dalam mata dengan simpatik dan memeriksa jarinya menunjukkan
sensitivitas dirinya sebagai orangtua. Setelah Ibu selesai membalutkan
plester elastis dan membereskan lukanya, lalu memeluk sang anak beberapa
menit sebelum mengalihkan perhatian ke hal lain. Orangtua kerap kali
tak ingin membuat hal-hal sepele menjadi besar, sedangkan anak-anak
terkadang over sensitif dengan hal-hal yang terjadi pada tubuhnya. Dalam
sudut pandang seorang anak, hal-hal kecil seperti tertusuk peniti
adalah sebuah pengalaman yang traumatis. Ia membutuhkan perban untuk
membalut lukanya. Jadikan momen-momen semacam ini sebagai kesempatan
lebih dekat pada anak-anak.
4. Hindari Menasehati
Anak-anak memang kerap menjengkelkan, melelahkan, dan benar-benar
mengganggu ketika mereka berlebihan. Sadarilah, anak-anak memang
lazimnya begitu. Mereka kerap melakukan pertunjukan dramatis di waktu
yang kurang tepat. Namun demikian, peristiwa "kecil" ini penting bagi
mereka.
Jangan menasehati anak ketika dirinya marah. Ketika anak marah dan
duduk menyendiri, cobalah lihat ke dalam mata dan berikan waktu baginya
untuk mengekspresikan diri. Tahan keinginan untuk membongkar
kemarahannya. Umumnya orangtua justru ingin marah, menghakimi dan sok
logis ketika anak sedang marah. Anak-anak belum tentu memiliki cara
pandang yang reseptif untuk menerimanya. Penyampaian orang dewasa justru
membuat anak-anak menekan perasaannya.
Menasehati akan memberi pesan Anda tidak dapat menerima emosinya. Ini
akan membuat anak bungkam. Anak jug akan kehilangan kemampuan
mengekspresikan dirinya dan Anda pun menjadi orangtua yang kurang dapat
menerima sehingga anak tidak bisa terbuka pada Anda.
>>berbagai sumber







0 komentar:
Posting Komentar