Sabtu, 14 Maret 2015

Temper Tantrum Pada Anak


Temper tantrum adalah ledakan kemarahan yang terjadi secara tiba-tiba, tanpa terencana. Pada anak-anak, ini bukan hanya untuk mencari perhatian dari orang dewasa saja. Ketika mengalami tantrum, anak-anak cenderung melampiaskan segala bentuk kemarahannya. Baik itu menangis keras-keras, berteriak, menjerit-jerit, memukul, menggigit, mencubit, dsb.
Normalnya, tantrum (baca: marah-marah) pada anak-anak hanya terjadi sekitar 30 detik sampai 2 menit saja. Tapi, jika kemarahan berlanjut sampai pada tingkat yang membahayakan dirinya atau orang lain, maka ini bisa menjadi hal yang sangat serius.
Temper tantrum biasanya terjadi pada anak usia 1-4 tahun, hal yang normal, tapi jika tidak mendapat penanganan yang tepat, sampai anak lewat usia 4 tahun, tantrum ini bisa saja masih melekat pada anak. Tapi don't worry be happy, bila kita menanganinya dengan tepat, tantrum anak akan berkurang dengan sendirinya seiring bertambah usianya.
Bagaimana cara menyiasatinya?

Mengatasi anak-anak yang sedang mengamuk itu gampang-gampang susah. Penuh dilema. Tapi, ada beberapa kiat yang bisa kita gunakan untuk mengatasi masalah ini.

1. Cari tahu penyebabnya. Dengan mengetahui penyebab anak-anak mengamuk, kita akan mudah menentukan langkah yang harus kita ambil dalam menghadapi mereka.
Pemicu/penyebab tantrum antara lain:
a. Frustrasi. Jangan dikira hanya orang dewasa saja yang bisa frustrasi. Anak-anak pun mengalami hal ini. Misalnya, anak-anak akan menjadi cepat marah manakala mereka tidak bisa mencapai sesuatu yang sangat mereka inginkan. Dalam artian, mereka gagal. Kegagalan memicu rasa frustrasi, dan akhirnya kemarahan itupun meledak.
b. Lelah. Anak-anak yang kelelahan, dan menjadi mudah marah. Aktivitasnya yang padat dan sedikit waktu bermain akan membuat anak-anak cepat marah dan emosi.
c. Orangtua terlalu mengekang. Sikap orangtua yang terlalu banyak mendikte dan mengekang anak, juga dapat berpengaruh bagi emosinya. Anak-anak yang merasa jenuh dengan kekangan orangtuanya, suatu saat akan mencapai titik puncak kejenuhan. Dan marah-marah adalah salah satu bentuk ledakan tersebut.
d. Sifat dasar anak yang emosional. Beberapa anak mewarisi sifat dasar emosional dari orangtuanya. Mereka ini cenderung tidak sabaran, gampang marah meski karena hal-hal kecil.
e. Keinginan tak dipenuhi. Salah satu kesalahan yang sering kali dilakukan orangtua adalah mereka begitu mudahnya membujuk anak-anak dengan iming-iming. Menangis sedikit, anak dibujuk dengan es krim atau mainan. Nah, akhirnya ini akan menjadi kebiasaan, dan anak-anak mengenali pola ini. Suatu ketika, ia memiliki keinginan akan sesuatu, ia akan menangis dan mengamuk jika keinginan tersebut tidak segera dipenuhi oleh orangtuanya.

2. Jangan ikut emosi.
Biasanya, orangtua akan ikut-ikutan menjadi emosi manakala anak mereka mengamuk. Orangtua bisa memukul, mencubit, dsb. Apakah itu solusi? Tidak. Anak-anak bukannya akan belajar mengatasi kemarahan mereka, tapi malah semakin menganggap orangtuanya jahat.

3. Abaikan dan ajari anak mengatasi kemarahannya.
Jangan turuti semua hal yang diinginkan pada saat itu juga. Bersikap cuek dan tidak memperdulikan kemarahannya, sebenarnya adalah cara yang sangat jitu untuk membuatnya tahu, bahwa kemarahannya tidak bisa membeli keinginannya. Katakan padanya, bahwa hanya anak-anak yang menyampaikan keinginan dengan cara yang baiklah yang akan mendapatkan keinginannya itu dari Anda. Bukan dengan amukan, tangisan, bahkan berguling-guling. Sikap tegas dan konsistensi Anda dengan sikap ini akan membuatnya berlatih lebih disiplin.
- Bila tantrum terjadi di rumah, dudukkan dia di tempat yang aman atau masukkan anak ke kamar. Tinggalkan dia setelah mengatakan padanya bahwa dia boleh meninggalkan tempat duduk itu/keluar kamar bila sudah tenang. Bila tidak memungkinkan untuk ditinggalkan sendirian, temani dia, tapi jangan memberikan respon apa pun. Cukup dengan berdiam saja dan hindari kontak mata dengannya. Jika anak melakukan hal yang berbahaya, seperti membenturkan kepala ke tembok atau lantai, bunda bisa peluk/gendong anak dan biarkan anak menangis dlm pelukan bunda.
- Bila tantrum terjadi di area publik dan Anda belum bisa mengajaknya langsung pulang, bawa anak ke tempat yang memungkinkan Anda untuk memiliki privasi. Misalnya, bawa dia ke dalam mobil atau cari pojokan/tempat dimana anak tdk mjd pusat perhatian. Temani dia tanpa merespon apa pun terhadap tantrumnya.

4. Ajak bicara
Setelah anak tenang, bicarakan dengannya soal perilakunya tadi. Katakan padanya bahwa dia baru saja mengalami tantrum, dan tantrum adalah perilaku yang tidak baik dan tidak bisa diterima. Diskusi seperti ini akan lebih diterima anak, karena umumnya anak ingin bersikap baik. Minta padanya untuk mengatakan ‘Aku marah’ setiap kali dia marah. Minta dia untuk mengulangi ucapan itu, setelah itu tanyakan padanya apa yang akan dia lakukan bila dia marah. Tanyakan juga apakah ketika marah dia akan memukul, berteriak, atau menangis, untuk menegaskan permintaan Anda. Lakukan diskusi ini setiap kali dia tantrum. Pelan-pelan, dia akan bisa mengatasi tantrumnya.

5. Buat kesepakatan
Untuk menghindari tantrum di area publik, buat kesepakatan lebih dulu sebelum keluar rumah. Katakan ke mana dan apa tujuan Anda, serta perilaku yang Anda harapkan darinya. Katakan pula perilaku apa yang tidak Anda harapkan darinya, karena perilaku itu akan mengganggu orang lain. Kalau mengajaknya ke supermarket, sebelum pergi Anda bisa menanyakan apa yang ingin dibelinya nanti. Bila Anda setuju, Anda harus konsisten dengan permintaannya, sehingga belanja Anda tidak membengkak dengan barang-barang yang mendadak diinginkannya.

6. Alihkan perhatian
Daripada menanggapi tantrumnya, lebih baik alihkan perhatiannya, misalnya dengan mengajaknya beraktivitas ringan. Memindahkannya ke ruangan lain atau mengajaknya ke teras rumah bisa juga dilakukan untuk mengganti suasana.

7. Kenali batas
Mengenali batas kemampuan anak Anda bisa mencegah tantrum. Misal bila dia sudah lelah, jangan paksakan untuk terus berbelanja bersamanya. Saat anak terlihat mengantuk, ajak anak untuk tidur, dll.

8. Bebas terbatas
Beri anak kebebasan untuk menentukan hal-hal kecil yang ingin atau harus dilakukannya. Misalnya, tanyakan apakah dia ingin menyikat gigi sebelum atau sesudah mandi, apakah dia ingin pisang atau semangka. Memiliki otonomi kecil seperti ini akan membuatnya merasa mandiri.

9. Waktu berdua
Menghabiskan waktu hanya berdua dengannya dengan bermain dan berbicara dengannya secara teratur sepanjang hari bisa membantu ledakan emosinya menguap. Saat bersama dengannya, katakana batasan-batasan yang boleh dan tidak boleh dilakukannya.
Lebih mudah mencegah terjadinya temper tantrum daripada mengendalikannya setelah terjadi. Berikut sejumlah tips untuk mencegah temper tantrum dan apa yang bisa Anda katakan pada anak Anda:

1. Beri penghargaan pada anak atas perbuatan positif yang dilakukan. Ketika mereka melakukan hal yang baik, katakan, “Wah, baik sekali kamu mau berbagi dengan teman.”
2. Jangan menanyakan sesuatu hal yang memang sebenarnya harus mereka lakukan. Jangan bertanya, “Kamu mau makan sekarang?” tapi katakan, “Sekarang waktunya makan.”
3. Berikan kebebasan anak memilih. Dengan memberinya sedikit ‘kekuasaan’ akan mengurangi kemungkinan munculnya perlawanan darinya. Katakan hal seperti, “Mana yang mau kamu lakukan lebih dulu, menyikat gigi atau ganti piyama?”
4. Jauhkan barang-barang yang memang tidak boleh disentuhnya. Pada waktu pelajaran kesenian, misalnya, jauhkan gunting dari jangkauan anak bila ia memang belum bisa menggunakannya.
5. Alihkan perhatian anak dengan kegiatan lain ketika mereka tantrum akan suatu hal yang tidak boleh dilakukan atau tidak boleh dipegang. Misalnya, “Yuk, kita baca buku sama-sama.”
6. Pindahkan anak dari situasi yang menimbulkan temper tantrum. Katakan, “Kita jalan-jalan sebentar, yuk!”
7. Ajarkan anak untuk meminta tanpa temper tantrum dan Anda akan memenuhi permintaannya. Katakan, “Coba minta pada Ibu dengan sopan dan Ibu akan ambilkan mainan itu.”
8. Yakinkan anak telah cukup beristirahat dan sudah kenyang pada situasi yang mungkin menimbulkan temper tantrum. Anda bisa mengatakan, “Sebentar lagi makan siang siap. Sambil menunggu, ini ada biskuit untukmu.”
9. Hindari kebosanan. Katakan, “Wah, kamu sudah bekerja cukup lama. Kita istirahat dulu yuk. Kita main masak-masakan.”
10. Ciptakan lingkungan yang aman di mana anak bisa mengeksplor tanpa adanya masalah atau bahaya.
11. Tingkatkan level toleransi Anda. Apakah Anda sebenarnya bisa memenuhi kebutuhannya? Periksa kembali, sudah berapa kali Anda mengatakan “Tidak”. Hindari bertengkar karena hal-hal kecil.
12. Buatlah rutinitas dan kebiasaan sehingga anak belajar. Bagi guru, coba awali pelajaran dengan sharing-time dan adakan kesempatan agar anak bisa berinteraksi satu sama lain.
13. Beri tanda pada anak sebelum kegiatan berakhir sehingga ia bisa mempersiapkan diri. Katakan, “Nanti kalau timer-nya berbunyi 5 menit lagi, itu tandanya waktu untuk mematikan TV dan tidur.”
14. Ketika berkunjung ke tempat baru atau banyak orang tak dikenal, jelaskan padanya apa yang akan terjadi. Katakan, “Nanti di museum, jangan jauh-jauh dari temanmu ya.”
15. Berikan tugas-tugas atau kegiatan yang sesuai dengan tingkat perkembangan anak agar ia tidak menjadi frustrasi bila tidak berhasil melakukannya.
16. Ajak anak bercanda untuk menarik perhatiannya dan agar ia lupa pada tantrumnya.
Post-Tantrum Management

1. Jangan pernah, dalam kondisi apa pun, menyerah terhadap tantrum anak. Hal ini justru akan meningkatkan jumlah dan frekuensi tantrum itu sendiri.
2. Jelaskan pada anak bahwa ada cara yang lebih baik untuk mendapatkan keinginannya.
3. Jangan berikan penghargaan (reward) berupa apa pun setelah anak tenang dari tantrumnya. Anak bisa belajar bahwa temper tantrum merupakan cara yang bagus untuk mendapatkan hadiah sesudahnya.
4. Jangan pernah membiarkan temper tantrum mengganggu hubungan positif Anda dengan anak Anda.
5. Ajarkan anak bahwa rasa marah merupakan perasaan yang dimiliki semua orang dan ajarkan untuk mengekspresikan kemarahannya dengan lebih baik (tidak destruktif).
Kapan Harus Mencari Bantuan?
BAGI ORANGTUA. Jika setelah mencoba berbagai metode intervensi di atas, tantrum justru meningkat baik dari sisi frekuensi, intensitas, maupun durasi, konsultasikan dengan dokter anak Anda. Anda juga harus berkonsultasi ke dokter jika anak Anda telah melukai dirinya atau orang lain, depresi, menunjukkan tanda-tanda rendah diri, atau ketergantungan secara berlebihan pada orangtua/guru. Dokter juga bisa memeriksa kemungkinan adanya masalah pendengaran/penglihatan, penyakit kronis, atau kondisi lainnya seperti sindrom Asperger, keterlambatan bicara, atar kesulitan belajar, yang bisa menjadi sumber temper tantrum anak Anda. Dokter juga bisa memberikan referensi psikolog atau lembaga kesehatan mental yang bisa memberikan bantuan pada Anda dan anak Anda.

Sumber :

0 komentar:

Posting Komentar