Berdasarkan sebuah penelitian, peran ayah sangat penting dalam
membangun kecerdasan emosional anak. Seorang ayah sebagai kepala
keluarga sekaligus pengambil keputusan utama dalam keluarga memiliki
posisi penting dalam mendidik anak. Seorang anak yang dibimbing oleh
ayah yang peduli, perhatian dan menjaga komunikasi akan cenderung
berkembang menjadi anak yang lebih mandiri, kuat, dan memiliki
pengendalian emosional yang lebih baik dibandingkan anak yang tidak
memiliki ayah seperti itu.
Hal ini bukan berarti mengabaikan peran sama yang dimiliki oleh
seorang ibu. Secara natural biasanya seorang ibu akan terlibat aktif
dalam membesarkan anaknya, sedangkan seorang ayah belum tentu mengambil
peran yang sama. Posisi ayah biasanya tergantung sejauh mana dia melihat
peran pentingnya dan kemudian memutuskan untuk terlibat. Karenanya
dalam beberapa penelitian menunjukkan peran ayah memegang kunci yang
menentukan bagaimana kondisi anaknya ketika besar nanti.
Dalam masyarakat kita, disadari atau tidak ada semacam perbedaan
antara peran ayah dan ibu. Sering kali seorang ayah dipersepi cukup baik
jika telah bertanggung jawab untuk pemenuhan urusan keuangan keluarga.
Adapun urusan pengasuhan dan pendidikan anak lebih banyak dipegang oleh
seorang ibu. Ibulah yang memandikan, mengganti popok, menggendong, atau
membujuk ketika anak menangis. Secara umum tugas-tugas tadi dianggap
sebagai kewajiban alami seorang ibu. Sedangkan ayah cukup melakukannya
sesekali dan itu pun kalau dia punya waktu di tengah kesibukan
pekerjaannya. Seorang ayah yang tidak melakukannya masih dianggap wajar
saja.
Tak jarang seorang ayah yang kelelahan dan tertekan di pekerjaan
malah membawa kemarahan dan ketidaknyamanan bagi anak-anaknya di rumah.
Anak yang ingin mengajak bermain dianggap mengganggu istirahat, anak
yang ingin dekat secara emosional dianggap terlalu manja, atau anak yang
bertanya dijawab seadanya sehingga akhirnya akan timbul jarak antara
seorang ayah dengan anaknya.
Menciptakan Kedekatan Ayah dan Anak
Menciptakan kedekatan antara seorang ayah dengan anak adalah sebuah
investasi yang sangat berharga. Anda akan menyesal jika tidak memulainya
sejak awal dan baru merasakan sesuatu yang ganjil ketika anak mulai
besar. Hubungan Anda dan anak akan terasa kaku, formal dan berjarak. Hal
ini sering terlupakan oleh seorang ayah yang memiliki kesibukan tinggi
sehingga baru menyadari ada yang salah antara hubungannya dengan anak
setelah beberapa waktu kemudian dan itu mungkin sudah terlambat.
Pernahkah Anda mendengar cerita seorang ayah yang sibuk berangkat pagi
dan pulang malam, suatu hari pulang lebih awal dan anaknya ketakutan
karena merasa ayahnya adalah orang asing yang tidak dikenal?
Peran ayah untuk memenuhi nafkah keluarga adalah pekerjaan mulia.
Pekerjaan tersebut dalam banyak hal juga menyita waktu dan energi yang
tidak sedikit. Walaupun demikian, bukan berarti menjadi alasan untuk
tidak menyediakan waktu yang cukup untuk menjalin kedekatan dan menjadi
pelatih emosi bagi anak-anak Anda.
Jika Anda seorang ayah, berikut beberapa tips yang dapat dilakukan
untuk menciptakan kedekatan dengan anak sekaligus menjadi pelatih emosi
yang baik bagi sang anak.
1. Terlibat dalam pengasuhan dan perawatan anak
Mulailah membiasakan diri untuk berbagi tugas dan terlibat langsung
dalam pengasuhan dan perawatan anak. Atur jadwal dengan istri kapan
giliran Anda bertugas memandikan anak, mengganti popoknya, membuatkan
susu, menemani sang anak ketika sulit tidur, membacakan cerita pengantar
sebelum tidur, berdiskusi tentang apa yang dialami sang anak bersama
teman-temannya serta menjalin komunikasi untuk membantu sang anak
melihat persoalan yang dialaminya. Dengan terlibat langsung dalam
pengasuhan dan perawatan, akan terjalin hubungan emosional antara Anda
dan anak. Ada kedekatan yang muncul dan sang anak akan bisa merasakan
perhatian ayahnya.
Mungkin Anda sudah terlalu lelah ketika pulang kerja. Atau Anda
berangkat sangat pagi dan pulang sudah larut malam. Jika demikian
situasinya maka carilah momen-momen di mana Anda bisa menjalin kedekatan
seperti ketika makan bersama, berkomunikasi ketika mengantar anak ke
sekolah, menyediakan waktu di akhir minggu untuk bercengkrama, berdialog
dan saling membina kedekatan. Ingat ada hal yang berbeda ketika Anda
mengajak jalan-jalan anak di akhir minggu tanpa terlibat secara
emosional dibandingkan dengan melakukan aktivitas bersama yang saling
mendekatkan satu sama lain.
2. Ikut bermain bersama anak
Adakalanya anak mengajak bermain, maka ikutilah permainannya dengan
sepenuh hati. Ada banyak bahasa tak tersurat yang tersampaikan ketika
seorang ayah ikut menemani anaknya bermain dan berperan sebagai teman
sekaligus pelindung bagi sang anak. Jangan sampai karena kesibukan Anda
membuat kegiatan bermain ini dialihkan kepada istri atau malah orang
lain seperti baby sitter dan pembantu.
Ada permainan yang berbeda yang dirasakan anak ketika bermain dengan
ayahnya dibandingkan dengan ibu. Lewat ayah anak akan mengenal permainan
yang melibatkan kontak fisik atau aktivitas luar ruangan yang lebih
menguras energi. Permainan ini sangat membantu anak untuk melatih
keberanian dan kemandirian selama sang ayah tidak memaksakan dan terlalu
mengatur dalam permainan-permainan tersebut. Berilah kesempatan sang
anak untuk bereksplorasi dan membuat keputusan dalam permainannya sambil
sesekali Anda terlibat dan memberi penjelasan untuk membantunya membuat
keputusan.
3. Kenali siapa teman anak Anda
Siapa saja teman bermain anak Anda? Tahukah Anda siapa namanya? Di
mana tinggalnya? Apa kegiatan yang dilakukan anak Anda bersama mereka?
Seorang ayah yang baik mengenal dengan siapa saja anaknya bergaul. Ayah
memberi arahan sekaligus menjadi teman diskusi bagi anak untuk
menceritakan pengalamannya bersama teman, kekhawatirannya, dan
kegembiraannya. Dengan mengenal teman-temannya maka Anda mendapatkan
informasi yang jauh lebih banyak tentang anak Anda sehingga lebih
sedikit yang perlu dikhawatirkan. Anda juga akan mengenali bahasa “pergaulan” anak Anda.
Di tengah pergaulan sekarang yang relatif kurang kondusif, mengenal
teman main anak Anda akan menjadi benteng berharga. Anda akan tahu apa
yang dipelajari sang anak dari temannya. Sebagai ayah Anda bisa menjadi
penengah dan penyeimbang informasi. Kasus anak-anak yang terlibat
narkoba atau penyimpangan lainnya sering dimulai dari pergaulan dengan
teman-temannya. Sang anak tidak pernah mendapat informasi dari ayah
ibunya dan ketika dia sedang mencoba-coba berbagai hal, datanglah
teman-temannya yang mengambil kontrol dan memberi pengaruh buruk.
4. Menjalin komunikasi yang membangun
Mungkin Anda merasa sudah berkomunikasi dengan anak dengan menanyakan
bagaimana kabarnya di sekolah, apa yang dia pelajari, atau bagaimana
hasil ujiannya kemarin. Jika Anda menanyakan hal tersebut hanya sekadar
ingin tahu atau sebagai basa-basi pembicaraan, maka komunikasi tersebut
hanya membawa dampak yang terbatas.
Menjalin komunikasi yang dimaksud di sini adalah komunikasi yang
intensif di mana ada proses saling percaya satu sama lain. Di sinilah
peran ayah sebagai pelatih emosi akan sangat dibutuhkan. Lewat
komunikasi Anda mengetahui apa yang dirasakan sang anak, bagaimana
pendapatnya tentang suatu persoalan, apa yang membuatkan senang, apa
yang membuatnya khawatir sehingga Anda sebagai ayah dapat memberikan
masukan yang membangun agar sang anak dapat mengelola emosi-emosi yang
dirasakannya dan belajar mengambil tindakan yang diperlukan.
Mungkin anak Anda sedang ketakutan karena ada jagoan di sekolah yang
sering memalak. Anda bisa menggali perasaan anak Anda dan apa yang dia
lakukan untuk menghadapi situasi tersebut. Kehadiran Anda akan membantu
sang anak memahami persoalannya secara lebih luas dan dia bisa belajar
mengatasinya sendiri. Pelajaran ini nantinya akan sangat berharga ketika
sang anak mulai beranjak dewasa. Jika di masa kecil dia sudah belajar
menangani hal-hal kecil yang dapat dia kelola, maka ketika dewasa dia
akan mampu menangani persoalan-persoalan yang lebih berat dan
membutuhkan kematangan emosional.
Banyak orangtua yang sebenarnya sangat menyayangi anaknya namun dalam
komunikasi cenderung menjadi orangtua yang mengabaikan. Mereka
mendengarkan tapi tidak memperhatikan. Mereka mengerti tapi tidak
menunjukkan empati. Mereka merasa membantu tapi sebenarnya tidak
membangun. Insya Allah bagian ini akan saya ulas dalam posting berbeda.
5. Mendidik Anak Lewat Permainan dan Tanya Jawab
Proses pendidikan anak yang terbaik seringkali tidak didapatkan
secara formal, melainkan lewat aktivitas ringan berupa permainan atau
tanya jawab. Ketika bermain mungkin anak Anda merasa kecewa karena
kalah. Sebagai ayah Anda dapat membantu sang anak untuk mengenali
perasaan kecewa tersebut dan bagaimana menanganinya. Suatu saat mungkin
tanpa diduga anak Anda menanyakan suatu pertanyaan. Jawaban yang baik
dan tepat sesuai kadar kemampuan sang anak mencerna saat itu akan
menjadi pelajaran berharga baginya.
Manfaatkanlah setiap proses bermain dan tanya jawab sebagai ajang
pendidikan anak Anda. Disanalah Anda dapat menanamkan nilai-nilai moral,
bagaimana mengelola emosi, bagaimana menghadapi kehidupan, atau
bagaimana berinteraksi dengan orang lain. Ada banyak orangtua yang malas
menjawab ketika anaknya bertanya. Kadang-kadang hal ini tidak selalu
disengaja melainkan karena pertanyaan tersebut dianggap tidak penting
atau terlalu remeh sehingga tidak perlu dijawab. Ketahuilah ketika itu
dilakukan, Anda telah melewatkan suatu kesempatan emas untuk mendidik
anak Anda.







0 komentar:
Posting Komentar