Pages - Menu

Kamis, 15 Januari 2015

Pentingnya Keterlibatan Orang Tua Dalam Perkembangan Anak

Pentingnya Memahami Perkembangan Anak

Masa balita merupakan masa emas (golden age) bagi anak. Di masa ini, anak mengalami tumbuh kembang yang luar biasa, baik dari segi fisik, emosi, kognitif maupun psikososial. Apa sebaiknya yang dilakukan orang tua?
Perkembangan anak adalah segala perubahan yang terjadi pada anak, dilihat dari berbagai aspek, antara lain aspek fisik (motorik), emosi, kognitif, dan psikososial (bagaimana anak berinteraksi dengan lingkungannya). Orang tua sebaiknya memperhatikan perkembangan anak sejak dini, bahkan sejak orang tua berencana untuk memiliki anak. Kesiapan orang tua untuk memiliki anak akan sangat memengaruhi perkembangan anak tersebut selanjutnya.
Saat calon ibu mengetahui kehamilannya, perkembangan janin mulai dapat diperhatikan, antara lain menjaga pola makan (misalnya menghindari makanan berlemak), menghilangkan kebiasaan merokok atau penggunaan obat-obatan yang dapat memengaruhi janin, serta menerapkan pola hidup sehat. Bentuk perhatian lainnya adalah dengan memeriksakan kesehatan calon ibu dan janin secara rutin ke dokter kandungan.
Dengan demikian, perkembangan janin dapat terus dipantau, dan bila ada keterlambatan ataupun gangguan, misalnya gerakan janin lemah atau terjadi keterlambatan pada pertumbuhan organ-organ tubuh, dapat segera diketahui dan segera dicari alternatif tindakan atau pengobatannya.
Perkembangan anak meliputi seluruh perubahan, baik perubahan fisik, perkembangan kognitif, emosi, maupun perkembangan psikososial yang terjadi dalam usia anak (infancytoddlerhood di usia 0­-3 tahun, early childhood usia 3-6 tahun, dan middle childhood usia 6-11 tahun).
Masing-masing aspek di atas memiliki tahapan-tahapan sendiri. Pada usia 1 bulan, misalnya pada aspek motorik kasarnya, anak sudah bisa menggerakkan tangan dan kakinya. Pada motorik halus, misalnya anak sudah bisa menolehkan kepalanya.
Yang juga harus dipahami orang tua, tahap perkembangan pada masing-masing anak berbeda. Anak bisa terlambat berjalan tapi cepat berbicara. Toleransinya adalah enam bulan. Jika lebih dari enam bulan anak belum bisa melaksanakan tugas perkembangan sesuai usianya, sebaikya segera ditangani.
Sejauh masih dalam rentang toleransi yang enam bulan itu, tidak masalah. Beri anak stimulasi, latihan, dan dukungan. Orang tua juga harus siap, misalnya jika pada usia setahun anak belum bisa berdiri sendiri, padahal harusnya sudah bisa berdiri sendiri tanpa dipegangi. Kita lihat, apakah memang secara fisik terhambat atau dari kecil memang terbiasa dipegangi terus.
Jika kasusnya adalah lingkungan yang tidak mendukung, kita tidak bisa bilang bahwa perkembangan anak terlambat. Harus dicoba mengubah lingkungan lebih dulu. Kalau ternyata setelah distimulasi anak mampu, berarti bukan motoriknya yang terganggu, tetapi lebih pada lingkungan yang kurang memberi stimulant.
Keterlambatan 6 bulan dalam tumbuh kembang merupakan peringatan bagi orang tua dan harus segera diperiksa. Oleh karena itu, selalu memperhatikan perkembangan anak sangat penting, karena semakin cepat keterlambatan diketahui dan ditangani, semakin besar kemungkinan anak untuk dapat kembali berfungsi sesuai tahap perkembangannya.
Jika orang tua mengabaikan, hal-hal kecil seperti ini akan lewat begitu saja. Akibatnya, pada saat beberapa aspek itu menyatu menjadi hambatan, sulit bagi profesional (dokter atau psikolog) untuk memberikan intervensi, karena sudah terlambat. Intervensi dini terhadap keterlambatan anak akan memberikan hasil yang lebih optimal dibandingkan jika penanganan tidak segera dilakukan.
Apa saja aspek-aspek perkembangan anak yang harus diketahui orang tua?
1.                                                                                 PERKEMBANGAN FISIK
Berkaitan dengan perkembangan gerakan motorik, yakni perkembangan pengendalian gerakan tubuh melalui kegiatan yang terkoordinir antara susunan saraf, otot, otak, dan spinal cord. Perkembangan motorik meliputi motorik kasar dan halus. Motorik kasar adalah gerakan tubuh yang menggunakan otot-otot besar atau sebagian besar atau seluruh anggota tubuh yang dipengaruhi oleh kematangan anak itu sendiri.
Contohnya kemampuan duduk, menendang, berlari, naik-turun tangga dan sebagainya.
Sedangkan motorik halus adalah gerakan yang menggunakan otot-otot halus atau sebagian anggota tubuh tertentu, yang dipengaruhi oleh kesempatan untuk belajar dan berlatih. Misalnya, kemampuan memindahkan benda dari tangan, mencoret-coret, menyusun balok, menggunting, menulis dan sebagainya.
Mana yang lebih penting? Keduanya diperlukan agar anak dapat berkembang optimal. Bedanya, kalau perkembangan motorik kasar sangat tergantung kematangan anak. “Kita tidak bisa memosisikan anak untuk berjalan atau berlari saat itu juga, padahal anak belum siap baik secara fisik maupun psikis misalnya.
Sementara motorik halus bisa dilatih. Anak-anak yang perkembangan motorik halusnya kurang, biasanya disebabkan stimulasi dari lingkungan juga kurang.
Latihan menulis, meronce atau meremas-remas lilin misalnya bisa dilakukan melatih motorik halus.
2.                                                                                 PERKEMBANGAN EMOSI
Ini harus dipupuk sejak dini. Misalnya, orang tua harus bisa memberikan kehangatan, sehingga anak akan merasa nyaman. Anak juga akan belajar dari model di lingkungannya. Nah, apa yang ia rasakan akan ia berikan kembali ke lingkungannya. Jika orang tuanya bersikap hangat, ia pun akan bersikap yang sama terhadap lingkungannya. Bayangkan jika orang tua tak pernah memberikan kehangatan pada anak. Anak akan merasa ditolak. Akibatnya, ia bisa depresi yang tentu akan memengaruhi kemampuannya berinteraksi dengan lingkungan. Akibat lain, anak bisa takut mencoba, malu bertemu dengan orang, dan sebagainya.
3.                                                                                 PERKEMBANGAN KOGNITIF
Perkembangan kognitif atau proses berpikir anak adalah proses menerima, mengolah sampai memahami info yang diterima. Aspeknya antara lain intelegensi, kemampuan memecahkan masalah, serta kemampuan berpikir logis. Intinya adalah kemampuan anak mengembangkan kemampuan berpikir.
Kemampuan ini berkaitan dengan bahasa dan bisa dilatih sejak anak mulai memahami kata. Pada tahap dimana anak mulai memberikan respon dan memahami kata, bisa dimasukkan informasi-informasi sederhana. Misalnya, aturan-aturan yang ada di lingkungan. Bisa juga mengenalkan konsep-konsep dasar, seperti warna, angka, dan sebagainya. Dn perlu diingat bahwa proses pengenalan ini harus dilakukan dengan cara bermain.
Hambatan dalam bidang kognitif bisa dilihat dari seberapa cepat atau lambat anak menangkap informasi yang diberikan, atau seberapa sulit anak mengungkapkan pikiran. Keterlambatan seperti ini berkaitan dengan kapasitas intelektual yang akan menjadi terbatas pula.

4.                                                                                 PERKEMBANGAN PSIKOSOSIAL

Berkaitan dengan interaksi anak dengan lingkungannya. Misalnya, di usia setahun, anak sudah bisa bermain dengan teman-teman seusianya. Jika anak sudah punya kemampuan itu, orang tua bisa memberikan dukungan. Anak juga sebaiknya juga dikenalkan dengan lingkungan baru. Ajarkan ia cara beradaptasi.
Hambatan perkembangan psikososial akan membuat anak mengalami kecemasan, sulit berinteraksi dengan orang yang baru dikenal, bisa juga jadi pemalu. Atau sebaliknya, jika orang tua overprotektif, anak menjadi sulit berpisah dengan orang tua, sulit mengerjakan segala sesuatuya sendiri karena tidak pernah diberi kesempatan untuk itu. Pemahaman mengenai pentingnya usia dini.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Tumbuh Kembang Anak

Ada 4 faktor yang berperan dalam tumbuh kembang anak, yakni:
1.      Biologik/fisiologik: Genetika, adanya kelainan fisiologis (seperti: disfungsi saraf pusat, malnutiri, dan lainnya).
2.      Psikologik: Proses mental-psikologiks (seperti: hubungan emosional, motivasi, minat, bakat, perkembangan kognisi, persepsi, dan kreativitas).
3.      Lingkungan: Keadaan lingkungan, stimulasi, fasilitas (seperti: kesehatan lingkungan, instrumen lingkungan, ketersediaan permainan, dan lainnya).
4.      Interaksi dari beberapa faktor.

Stimulasi, Deteksi, dan Intervensi  Dini Tumbuh Kembang Si Kecil Antisipasi Kelainan

Anak adalah buah hati. Orang tua akan selalu memberikan yang terbaik bagi anak-anak mereka. Terkadang tanpa sadar orang tua sering mengabaikan mengenai pertumbuhan dan perkembangan anak.
Berbeda dengan otak orang dewasa, otak balita (bawah lima tahun) lebih plastis.  Oleh karena itu, masa liam tahun pertama kehidupan merupakan  masa  yang sangat peka terhadap lingkungan dan masa ini berlangsung sangat pendek serta tidak dapat diulang lagi, maka masa balita disebut sebagai  “masa keemasan” (golden period), “jendela kesempatan” (window of opportunity)  dan “masa kritis” (critical period).
Pembinaan tumbuh kembang anak secara komprehensif dan berkualitas yang diselenggarakan melalui kegiatan stimulasi, deteksi dan intervensi dini penyimpangan tumbuh kembang balita dilakukan pada “masa kritis”  (0-5 tahun). Melakukan stimulasi yang memadai artinya merangsang otak balita sehingga perkembangan kemampuan gerak, bicara, dan bahasa, sosialisasi dan kemandirian pada balita berlangsung secara optimal sesuai dengan umur anak. Melakukan deteksi dini penyimpangan tumbuh kembang artinya melakukan skrining atau mendeteksi secara dini adanya penyimpangan tumbuh  kembang balita termasuk menindaklanjuti setiap keluhan orang tua terhadap masalah tumbuh kembang balitanya. Melakukan intervensi dini penyimpangan tumbuh kembang balita artinya melakukan tindakan  koreksi dengan memanfaatkan plastisitas otak anak untuk memperbaiki penyimpangan tumbuh kembang pada anak agar tumbuh kembangnya kembali normal atau penyimpangannya tidak semakin berat. Apabila balita perlu dirujuk, maka rujukan juga harus dilakukan sedini mungkin sesuai dengan indikasi.
Apek-Aspek Perkembangan yang Dipantau
1.       Gerak kasar (motorik kasar): aspek yang berhubungan dengan kemampuan melakukan gerakan dan sikap tubuh yang melibatkan otot-otot besar seperti duduk, berdiri, dan sebagainya.
2.       Gerak halus (motorik halus): aspek yang berhubungan dengan kemampuan melakukan gerakan yang melibatkan bagian-bagian tubuh tertentu dan dilakukan oleh otot-otot kecil, tetapi memerlukan koordinasi yang cermat seperti, menulis, menjimpit dsb.
3.       Kemampuan bicara dan bahasa:  aspek yang berhubungan dengan kemampuan untuk memberi respon terhadap suara, berbicara, berkomunikasi, mengikuti perintah, dsb.
4.       Sosialisasi dan kemandirian: aspek yang berhubungan dengan kemampuan mandiri anak, berpisah dengan ibu/pengasuh, bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungannya, dsb.
3 Jenis Deteksi Tumbuh Kembang:
1.       Deteksi Dini Penyimpangan Pertumbuhan (status gizi)
2.       Deteksi Dini Penyimpangan perkembangan: untuk mengetahui gangguan perkembangan anak (keterlambatan), gangguan daya lihat, gangguan daya dengar
3.       Deteksi Dini penyimpangan mental emosional, yaitu untuk mengetahui adanya masalah mental emosional, autism, dan gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktifitas.

Bagaimana Menstimulasi anak?
Untuk tumbuh kembang anak yang optimal harus dilakukan stimulasi. Stimulasi dapat dilakukan dengan Alat Permainan Edukasi (APE). Syarat APE yang baik adalah aman, desain harus jelas, mempunyai aspek pengembangan, ukuran dan berat APE harus sesuai dengan usia anak. Contoh APE antara lain bola (menstimulasi motorik kasar), pensil (motorik halus), puzzle dan buku gambar (kecerdasan kognitif). Peran orang tua sangat besar dalam tumbuh kembang anak baik stimulasinya maupun pengawasannya.
Cara Menstimulasi (Merangsang) Perkembangan Anak

Umur 0 - 4 Bulan

Sering memeluk dan menimang bayi dengan penuh kasih sayang.
Gantung benda berwarna cerah yang bergerak dan bisa dilihat bayi.
Ajak bayi tersenyum dan bicara.
Perdengarkan musik pada bayi.

Umur 1 Bulan
Pada umur 1 Bulan, bayi bisa :
Menatap ke ibu
Mengeluarkan suara o...o...o
Tersenyum
Menggerakkan tangan dan kaki
Pada umur 3 bulan, bayi bisa:
Mengangkat kepala tegak ketika tengkurap
Tertawa
Menggerakkan kepala ke kiri dan kanan
Membalas tersenyum ketika diajak bicara/terseyum
Mengoceh spontan atau bereaksi dengan mengoceh                             

JIka pada usia 3 bulan, bayi belum bisa melakukan hal di atas, bawa bayi ke tenaga kesehatan.
Umur 4 - 6 Bulan
Sering tengkurapkan bayi.
Gerakkan benda ke kiri dan kanan, di depan matanya.
Perdengarkan berbagai bunyi-bunyian.
Beri mainan benda yang besar dan berwarna

6 BULAN

Pada umur 6 bulan, Bayi bisa:
Berbalik dari telungkup ke telentang
Mempertahankan posisi kepala tetap tegak
Meraih benda yang ada di dekatnya
Menirukan bunyi
Menggenggam mainan
Tersenyum ketika melihat mainan/gambar yang menarik

JIka pada usia 6 bulan, bayi belum bisa melakukan hal di atas, bawa bayi ke bidan/perawat/dokter

Umur 6 - 12 bulan

Ajari bayi duduk
Ajak main ci-luk-ba
Ajari memegang dan makan biskuit
Ajari memegang benda kecil dengan 2 jari
Ajari berdiri dan berjalan dengan berpegangan
Ajak bicara sesering mungkin Latih mengucapkan ma.. ma.. pa.. pa
Beri mainan yang aman dipukul-pukul

Pada umur 9 bulan, bayi bisa:
Merambat
Mengucapkan ma..ma.., da..da..da…
Meraih benda sebesar kacang
Mencari benda/mainan yang dijatuhkan
Bermain tepuk tangan atau ci-luk-ba
Makan kue/biskuit sendiri

Pada umur 12 bulan, bayi bisa

Berdiri dan berjalan berpegang
Memegang benda kecil
Meniru kata sederhana seperti ma..ma… pa..pa….
Mengenal anggota keluarga
Takut pada orang yang belum dikenal
Menunjuk apa yang diinginkan tanpa menangis/merengek

Jika pada usia 9 atau 12 bulan, bayi belum bisa melakukan hal di atas, bawa bayi ke bidan/perawat/dokter

Umur 1 - 2 tahun
Ajari berjalan di undakan/tangga
Ajak membersihkan meja dan menyapu
Ajak membereskan mainan
Ajari mencoret-coret di kertas
Ajari menyebut bagian tubuhnya
Bacakan cerita anak
Ajak bernyanyi
Ajak bermain
Berikan pujian kalau ia berhasil melakukan sesuatu
Umur 2 Tahun
Pada umur 2 tahun, anak bisa:
Naik tangga dan berlari-lari
Mencoret-coret pensil pada kertas
Dapat menunjuk 1 atau lebih bagian tubuhnya
Menyebut 3 – 6 kata yang mempunyai arti, seperti bola, piring, dan sebagainya
Memegang cangkir sendiri
Belajar makan-minum sendiri

Jika pada usia 2 tahun, anak belum bisa melakukan hal di atas, bawa anak ke bidan/perawat/dokter.

Umur 2 - 3 tahun

Ajari berpakaian sendiri
Ajak melihat buku bergambar
Bacakan cerita anak
Ajari makan di piringnya sendiri
Ajari cuci tangan
Ajari buang air besar dan kecil di tempatnya

Umur 3 tahun

Pada umur 3 tahun, anak bisa:
Mengayuh sepeda roda tiga
Berdiri di atas satu kaki tanpa berpegangan
Bicara dengan baik menggunakan 2 kata
Mengenal 2 – 4 warna
Menyebut nama, umur dan tempat
Menggambar garis lurus Bermain dengan teman
Melepas pakaiannya sendiri Mengenakan sepatu sendiri
Jika pada usia 2 – 3 tahun, anak belum bisa melakukan hal di atas, bawa anak ke bidan/perawat/dokter.

Umur 3 - 5 tahun
Minta anak menceritakan apa yang ia lakukan
Dengarkan ia ketika bicara
Jika ia gagap, ajari bicara pelan-pelan
Awasi dia mencoba hal baru

Pada umur 5 tahun, anak bisa:
Melompat-lompat 1 kaki, menari, dan berjalan lurus
Menggambar orang 3 bagian (kepala, badan, tangan/kaki)
Menggambar tanda silang dan lingkaran
Menangkap bola kecil dengan kedua tangan
Menjawab pertanyaan dengan kata-kata yang benar
Menyebut angka, menghitung jari
Bicaranya mudah dimengerti
Berpakaian sendiri tanpa dibantu
Mengancing baju atau pakaian boneka
Menggosok gigi tanpa bantuan
Jika pada usia 5 tahun, anak belum bisa melakukan hal di atas, bawa anak ke bidan/perawat/dokter.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar