Pentingnya Memahami Perkembangan Anak
Masa balita merupakan
masa emas (golden age) bagi anak. Di masa ini, anak mengalami tumbuh kembang
yang luar biasa, baik dari segi fisik, emosi, kognitif maupun psikososial. Apa
sebaiknya yang dilakukan orang tua?
Perkembangan anak
adalah segala perubahan yang terjadi pada anak, dilihat dari berbagai aspek,
antara lain aspek fisik (motorik), emosi, kognitif, dan psikososial (bagaimana
anak berinteraksi dengan lingkungannya). Orang tua sebaiknya memperhatikan
perkembangan anak sejak dini, bahkan sejak orang tua berencana untuk memiliki
anak. Kesiapan orang tua untuk memiliki anak akan sangat memengaruhi
perkembangan anak tersebut selanjutnya.
Saat calon ibu
mengetahui kehamilannya, perkembangan janin mulai dapat diperhatikan, antara
lain menjaga pola makan (misalnya menghindari makanan berlemak), menghilangkan
kebiasaan merokok atau penggunaan obat-obatan yang dapat memengaruhi janin,
serta menerapkan pola hidup sehat. Bentuk perhatian lainnya adalah dengan
memeriksakan kesehatan calon ibu dan janin secara rutin ke dokter kandungan.
Dengan demikian,
perkembangan janin dapat terus dipantau, dan bila ada keterlambatan ataupun
gangguan, misalnya gerakan janin lemah atau terjadi keterlambatan pada
pertumbuhan organ-organ tubuh, dapat segera diketahui dan segera dicari
alternatif tindakan atau pengobatannya.
Perkembangan anak
meliputi seluruh perubahan, baik perubahan fisik, perkembangan kognitif, emosi,
maupun perkembangan psikososial yang terjadi dalam usia anak (infancytoddlerhood
di usia 0-3 tahun, early childhood usia 3-6 tahun, dan middle childhood usia
6-11 tahun).
Masing-masing aspek
di atas memiliki tahapan-tahapan sendiri. Pada usia 1 bulan, misalnya pada
aspek motorik kasarnya, anak sudah bisa menggerakkan tangan dan kakinya. Pada
motorik halus, misalnya anak sudah bisa menolehkan kepalanya.
Yang juga harus
dipahami orang tua, tahap perkembangan pada masing-masing anak berbeda. Anak
bisa terlambat berjalan tapi cepat berbicara. Toleransinya adalah enam bulan.
Jika lebih dari enam bulan anak belum bisa melaksanakan tugas perkembangan
sesuai usianya, sebaikya segera ditangani.
Sejauh masih dalam
rentang toleransi yang enam bulan itu, tidak masalah. Beri anak stimulasi,
latihan, dan dukungan. Orang tua juga harus siap, misalnya jika pada usia
setahun anak belum bisa berdiri sendiri, padahal harusnya sudah bisa berdiri
sendiri tanpa dipegangi. Kita lihat, apakah memang secara fisik terhambat atau
dari kecil memang terbiasa dipegangi terus.
Jika kasusnya adalah
lingkungan yang tidak mendukung, kita tidak bisa bilang bahwa perkembangan anak
terlambat. Harus dicoba mengubah lingkungan lebih dulu. Kalau ternyata setelah
distimulasi anak mampu, berarti bukan motoriknya yang terganggu, tetapi lebih
pada lingkungan yang kurang memberi stimulant.
Keterlambatan 6
bulan dalam tumbuh kembang merupakan peringatan bagi orang tua dan harus segera
diperiksa. Oleh karena itu, selalu memperhatikan perkembangan anak sangat
penting, karena semakin cepat keterlambatan diketahui dan ditangani, semakin
besar kemungkinan anak untuk dapat kembali berfungsi sesuai tahap perkembangannya.
Jika orang tua
mengabaikan, hal-hal kecil seperti ini akan lewat begitu saja. Akibatnya, pada
saat beberapa aspek itu menyatu menjadi hambatan, sulit bagi profesional
(dokter atau psikolog) untuk memberikan intervensi, karena sudah terlambat.
Intervensi dini terhadap keterlambatan anak akan memberikan hasil yang lebih
optimal dibandingkan jika penanganan tidak segera dilakukan.
Apa saja aspek-aspek
perkembangan anak yang harus diketahui orang tua?
1.
PERKEMBANGAN FISIK
Berkaitan dengan perkembangan gerakan motorik, yakni
perkembangan pengendalian gerakan tubuh melalui kegiatan yang terkoordinir
antara susunan saraf, otot, otak, dan spinal cord. Perkembangan motorik
meliputi motorik kasar dan halus. Motorik kasar adalah gerakan tubuh yang
menggunakan otot-otot besar atau sebagian besar atau seluruh anggota tubuh yang
dipengaruhi oleh kematangan anak itu sendiri.
Contohnya kemampuan duduk, menendang, berlari, naik-turun
tangga dan sebagainya.
Sedangkan motorik halus adalah gerakan yang menggunakan otot-otot halus atau
sebagian anggota tubuh tertentu, yang dipengaruhi oleh kesempatan untuk belajar
dan berlatih. Misalnya, kemampuan memindahkan benda dari tangan,
mencoret-coret, menyusun balok, menggunting, menulis dan sebagainya.
Mana
yang lebih penting? Keduanya diperlukan agar anak dapat berkembang optimal.
Bedanya, kalau perkembangan motorik kasar sangat tergantung kematangan anak.
“Kita tidak bisa memosisikan anak untuk berjalan atau berlari saat itu juga,
padahal anak belum siap baik secara fisik maupun psikis misalnya.
Sementara motorik halus bisa dilatih. Anak-anak yang
perkembangan motorik halusnya kurang, biasanya disebabkan stimulasi dari
lingkungan juga kurang.
Latihan menulis, meronce atau meremas-remas lilin misalnya
bisa dilakukan melatih motorik halus.
2.
PERKEMBANGAN EMOSI
Ini harus dipupuk sejak dini. Misalnya, orang tua harus bisa
memberikan kehangatan, sehingga anak akan merasa nyaman. Anak juga akan belajar
dari model di lingkungannya. Nah, apa yang ia rasakan akan ia berikan kembali
ke lingkungannya. Jika orang tuanya bersikap hangat, ia pun akan bersikap yang
sama terhadap lingkungannya. Bayangkan jika orang tua tak pernah memberikan
kehangatan pada anak. Anak akan merasa ditolak. Akibatnya, ia bisa depresi yang
tentu akan memengaruhi kemampuannya berinteraksi dengan lingkungan. Akibat
lain, anak bisa takut mencoba, malu bertemu dengan orang, dan sebagainya.
3.
PERKEMBANGAN KOGNITIF
Perkembangan kognitif atau proses berpikir anak adalah
proses menerima, mengolah sampai memahami info yang diterima. Aspeknya antara
lain intelegensi, kemampuan memecahkan masalah, serta kemampuan berpikir logis.
Intinya adalah kemampuan anak mengembangkan kemampuan berpikir.
Kemampuan ini berkaitan dengan bahasa dan bisa dilatih sejak
anak mulai memahami kata. Pada tahap dimana anak mulai memberikan respon dan
memahami kata, bisa dimasukkan informasi-informasi sederhana. Misalnya,
aturan-aturan yang ada di lingkungan. Bisa juga mengenalkan konsep-konsep
dasar, seperti warna, angka, dan sebagainya. Dn perlu diingat bahwa proses
pengenalan ini harus dilakukan dengan cara bermain.
Hambatan dalam bidang kognitif bisa dilihat dari seberapa
cepat atau lambat anak menangkap informasi yang diberikan, atau seberapa sulit
anak mengungkapkan pikiran. Keterlambatan seperti ini berkaitan dengan
kapasitas intelektual yang akan menjadi terbatas pula.
4.
PERKEMBANGAN PSIKOSOSIAL
Berkaitan dengan interaksi anak dengan lingkungannya. Misalnya, di usia
setahun, anak sudah bisa bermain dengan teman-teman seusianya. Jika anak sudah
punya kemampuan itu, orang tua bisa memberikan dukungan. Anak juga sebaiknya
juga dikenalkan dengan lingkungan baru. Ajarkan ia cara beradaptasi.
Hambatan perkembangan psikososial akan membuat anak
mengalami kecemasan, sulit berinteraksi dengan orang yang baru dikenal, bisa
juga jadi pemalu. Atau sebaliknya, jika orang tua overprotektif, anak menjadi
sulit berpisah dengan orang tua, sulit mengerjakan segala sesuatuya sendiri
karena tidak pernah diberi kesempatan untuk itu. Pemahaman mengenai pentingnya
usia dini.
Faktor-faktor
yang Mempengaruhi Tumbuh Kembang Anak
Ada
4 faktor yang berperan dalam tumbuh kembang anak, yakni:
1.
Biologik/fisiologik: Genetika, adanya kelainan fisiologis (seperti:
disfungsi saraf pusat, malnutiri, dan lainnya).
2.
Psikologik: Proses mental-psikologiks (seperti: hubungan
emosional, motivasi, minat, bakat, perkembangan kognisi, persepsi, dan
kreativitas).
3.
Lingkungan: Keadaan lingkungan, stimulasi, fasilitas
(seperti: kesehatan lingkungan, instrumen lingkungan, ketersediaan permainan,
dan lainnya).
4.
Interaksi dari beberapa faktor.
Anak adalah buah
hati. Orang tua akan selalu memberikan yang terbaik bagi anak-anak mereka.
Terkadang tanpa sadar orang tua sering mengabaikan mengenai pertumbuhan dan
perkembangan anak.
Berbeda dengan otak orang dewasa, otak
balita (bawah lima tahun) lebih plastis.
Oleh karena itu, masa liam tahun pertama kehidupan merupakan masa
yang sangat peka terhadap lingkungan dan masa ini berlangsung sangat
pendek serta tidak dapat diulang lagi, maka masa balita disebut sebagai “masa keemasan” (golden period), “jendela kesempatan” (window of opportunity) dan
“masa kritis” (critical period).
Pembinaan tumbuh kembang anak secara
komprehensif dan berkualitas yang diselenggarakan melalui kegiatan stimulasi,
deteksi dan intervensi dini penyimpangan tumbuh kembang balita dilakukan pada
“masa kritis” (0-5 tahun). Melakukan
stimulasi yang memadai artinya merangsang otak balita sehingga perkembangan
kemampuan gerak, bicara, dan bahasa, sosialisasi dan kemandirian pada balita
berlangsung secara optimal sesuai dengan umur anak. Melakukan deteksi dini
penyimpangan tumbuh kembang artinya melakukan skrining atau mendeteksi secara
dini adanya penyimpangan tumbuh kembang
balita termasuk menindaklanjuti setiap keluhan orang tua terhadap masalah
tumbuh kembang balitanya. Melakukan intervensi dini penyimpangan tumbuh
kembang balita artinya melakukan tindakan
koreksi dengan memanfaatkan plastisitas otak anak untuk memperbaiki
penyimpangan tumbuh kembang pada anak agar tumbuh kembangnya kembali normal
atau penyimpangannya tidak semakin berat. Apabila balita perlu dirujuk, maka
rujukan juga harus dilakukan sedini mungkin sesuai dengan indikasi.
Apek-Aspek
Perkembangan yang Dipantau
1. Gerak kasar (motorik kasar): aspek yang
berhubungan dengan kemampuan melakukan gerakan dan sikap tubuh yang melibatkan
otot-otot besar seperti duduk, berdiri, dan sebagainya.
2. Gerak halus (motorik halus): aspek yang
berhubungan dengan kemampuan melakukan gerakan yang melibatkan bagian-bagian
tubuh tertentu dan dilakukan oleh otot-otot kecil, tetapi memerlukan koordinasi
yang cermat seperti, menulis, menjimpit dsb.
3. Kemampuan bicara dan bahasa: aspek yang berhubungan dengan kemampuan untuk
memberi respon terhadap suara, berbicara, berkomunikasi, mengikuti perintah,
dsb.
4. Sosialisasi dan kemandirian: aspek yang
berhubungan dengan kemampuan mandiri anak, berpisah dengan ibu/pengasuh,
bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungannya, dsb.
3 Jenis Deteksi Tumbuh Kembang:
1. Deteksi Dini Penyimpangan Pertumbuhan
(status gizi)
2. Deteksi Dini Penyimpangan perkembangan:
untuk mengetahui gangguan perkembangan anak (keterlambatan), gangguan daya
lihat, gangguan daya dengar
3. Deteksi Dini penyimpangan mental
emosional, yaitu untuk mengetahui adanya masalah mental emosional, autism, dan
gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktifitas.
Bagaimana Menstimulasi anak?
Untuk tumbuh kembang anak yang optimal
harus dilakukan stimulasi. Stimulasi dapat dilakukan dengan Alat Permainan
Edukasi (APE). Syarat APE yang baik adalah aman, desain harus jelas, mempunyai
aspek pengembangan, ukuran dan berat APE harus sesuai dengan usia anak. Contoh
APE antara lain bola (menstimulasi motorik kasar), pensil (motorik halus),
puzzle dan buku gambar (kecerdasan kognitif). Peran orang tua sangat besar
dalam tumbuh kembang anak baik stimulasinya maupun pengawasannya.
Cara Menstimulasi (Merangsang) Perkembangan Anak
Umur 0 - 4 Bulan
Sering memeluk dan menimang
bayi dengan penuh kasih sayang.
Gantung benda berwarna cerah yang bergerak dan bisa dilihat bayi.
Ajak bayi tersenyum dan bicara.
Perdengarkan musik pada bayi.
Umur 1 Bulan
Pada umur 1 Bulan, bayi bisa
:
Menatap ke ibu
Mengeluarkan suara o...o...o
Tersenyum
Menggerakkan tangan dan kaki
Pada umur 3 bulan, bayi bisa:
Mengangkat kepala tegak
ketika tengkurap
Tertawa
Menggerakkan kepala ke kiri dan kanan
Membalas tersenyum ketika diajak bicara/terseyum
Mengoceh spontan atau bereaksi dengan mengoceh
JIka pada usia 3 bulan, bayi belum bisa melakukan hal di atas, bawa bayi ke
tenaga kesehatan.
Umur 4 - 6 Bulan
Sering tengkurapkan bayi.
Gerakkan benda ke kiri dan kanan, di depan matanya.
Perdengarkan berbagai bunyi-bunyian.
Beri mainan benda yang besar dan berwarna
6 BULAN
Pada umur 6 bulan, Bayi
bisa:
Berbalik dari telungkup ke telentang
Mempertahankan posisi kepala tetap tegak
Meraih benda yang ada di dekatnya
Menirukan bunyi
Menggenggam mainan
Tersenyum ketika melihat mainan/gambar yang menarik
JIka pada usia 6 bulan, bayi belum bisa melakukan hal di atas, bawa bayi ke
bidan/perawat/dokter
Umur 6 - 12 bulan
Ajari bayi duduk
Ajak main ci-luk-ba
Ajari memegang dan makan biskuit
Ajari memegang benda kecil dengan 2 jari
Ajari berdiri dan berjalan dengan berpegangan
Ajak bicara sesering mungkin Latih mengucapkan ma.. ma.. pa.. pa
Beri mainan yang aman dipukul-pukul
Pada umur 9 bulan, bayi bisa:
Merambat
Mengucapkan ma..ma.., da..da..da…
Meraih benda sebesar kacang
Mencari benda/mainan yang dijatuhkan
Bermain tepuk tangan atau ci-luk-ba
Makan kue/biskuit sendiri
Pada umur 12 bulan, bayi bisa
Berdiri dan berjalan
berpegang
Memegang benda kecil
Meniru kata sederhana seperti ma..ma… pa..pa….
Mengenal anggota keluarga
Takut pada orang yang belum dikenal
Menunjuk apa yang diinginkan tanpa menangis/merengek
Jika pada usia 9 atau 12 bulan, bayi belum bisa melakukan hal di atas, bawa
bayi ke bidan/perawat/dokter
Umur 1 - 2 tahun
Ajari berjalan di
undakan/tangga
Ajak membersihkan meja dan menyapu
Ajak membereskan mainan
Ajari mencoret-coret di kertas
Ajari menyebut bagian tubuhnya
Bacakan cerita
anak
Ajak bernyanyi
Ajak bermain
Berikan pujian kalau ia berhasil melakukan sesuatu
Umur 2 Tahun
Pada umur 2 tahun, anak
bisa:
Naik tangga dan berlari-lari
Mencoret-coret pensil pada kertas
Dapat menunjuk 1 atau lebih bagian tubuhnya
Menyebut 3 – 6 kata yang mempunyai arti, seperti bola, piring, dan sebagainya
Memegang cangkir sendiri
Belajar makan-minum sendiri
Jika pada usia 2 tahun, anak belum bisa melakukan hal di atas, bawa anak ke bidan/perawat/dokter.
Umur 2 - 3 tahun
Ajari berpakaian sendiri
Ajak melihat buku bergambar
Bacakan cerita anak
Ajari makan di piringnya sendiri
Ajari cuci tangan
Ajari buang air besar dan kecil di tempatnya
Umur 3 tahun
Pada umur 3 tahun, anak bisa:
Mengayuh sepeda roda tiga
Berdiri di atas satu kaki tanpa berpegangan
Bicara dengan baik menggunakan 2 kata
Mengenal 2 – 4 warna
Menyebut nama, umur dan tempat
Menggambar garis lurus Bermain dengan teman
Melepas pakaiannya sendiri Mengenakan sepatu sendiri
Jika pada usia 2 – 3 tahun, anak belum bisa melakukan hal di atas, bawa anak ke
bidan/perawat/dokter.
Umur 3 - 5 tahun
Minta anak menceritakan apa
yang ia lakukan
Dengarkan ia ketika bicara
Jika ia gagap, ajari bicara pelan-pelan
Awasi dia mencoba hal baru
Pada umur 5 tahun, anak bisa:
Melompat-lompat 1 kaki,
menari, dan berjalan lurus
Menggambar orang 3 bagian (kepala, badan, tangan/kaki)
Menggambar tanda silang dan lingkaran
Menangkap bola kecil dengan kedua tangan
Menjawab pertanyaan dengan kata-kata yang benar
Menyebut angka, menghitung jari
Bicaranya mudah dimengerti
Berpakaian sendiri tanpa dibantu
Mengancing baju atau pakaian boneka
Menggosok gigi
tanpa bantuan
Jika pada usia 5
tahun, anak belum bisa melakukan hal di atas, bawa anak ke
bidan/perawat/dokter.