Parameter bahagia
kita kelak di akhirat tidak ditentukan oleh pendidikan akademis, bukan sekedar pasangan, harta, jabatan. Di
alam kubur nanti insyaAllah kita tak akan ditanya berapa nilai rapormu,berapa
rankingmu, berapa IP-mu,kita ditanya,apakah ilmu kita manfaat atau tidak. Kita harus memiliki motivasi sejati, saat motivasi hidup sejati terpatri dalam diri kita, kita tidak akan disibukkan dengan hal-hal sepele, kita tidak akan berbetah-betahan dengan yang namanya kata galau. Kita akan cepat bangkit kembali. InsyAllah....
Pages - Menu
▼
Jumat, 24 April 2015
Menata Hati
Jawaban yang masih abstrak, Sesaat terbesit kembali pertanyaan-pertanyaan yang kerap kali di lontarkan,,, sudah siapkah?.
tenanglah, saatnya nanti semua akan terjawab, bukan menolak akan hal baik itu, akan tetapi ini masalah kesiapan, tenanglah esok akan ada hari bahagia buat aku, kamu, kita. entah itu kapan, lama ataukah dalam waktu dekat, bukankah itu tidak menjadi halangan untuk meniatkan sesuatu yang baik, dan bukan sesuatu yang harus di hindari bahkan untuk di tolak, akan tetapi semuanya butuh yang namanya proses. bahkan belum punya satu hal pun yang menjadi alasan untuk menolak ataupun menerima...
Senin, 20 April 2015
Introspeksi
Tak kala proses dalam kehidupan harus terus di arungi, fase demi fase di lalui, asam garam kehidupan tak ayal dirasakan, bukan hidup tanpa adanya karang yang terjal yang menjadi penghalang, eeeiit, sebenarnya itu hanya sebagai penghantar dalam membawa langkah ke dermaga yang di tuju.
kehidupan di dunia ini tak ayal hanya kehidupan yang fana, hanya sebgaai persinggahan sementara menuju ke kehidupan yang kekal. sudah sepatutnya sebagai yang do'if menyadari sesungguhnya apa pun yang dimiliki sekarang hanyalah titipan dari Yang Maha Esa (Allah SWT) dan suatu saat entah besok, bahkan satu jam lagi, satu menit lagi bahkan hitungan detik, jika garis tangan telah ditentukan, maka titipan itu sekejab akan di ambil. sehabis-habisnya. Kehidupan di dunia ini tidak akan keluar dari sebuah sekenario yang telah di tentukan oleh Zat Esa itu kawan. Terkadang diri terisak, tak kala melihat kedudukan di jadikan bahan sanjungan, dijadikan raja dijadikan sesuatu yang di eluh-eluhkan, tak kenal saudara rela saling sikut saling tendang demi mendapatkan perhatian yang empunya kedudukan.
saat seorang biasa yang selalu di letakkan di lapisan bawah, yang nampak seperti tidak memiliki kedudukan apa-apa di nomor belakangkan, ingatlah mereka tidak selamanya mereka akan selalu diam untuk diperlakukan secara rendah, setidaknya mereka lebih terhormat daripada yang menghalalkan segala cara demi mendapat sanjungan dari yang empunya kedudukan, setidaknya mereka lebih menghormati diri mereka sendiri.
Suatu saat semua akan terbongkar, suatu saat nampak siapa yang selalu di rendahkan, tawakal, istiqomah, dan bersabbarlah kawan, seperti kata-kata bijak yang tidak asing di telinga " Roda itu selalu berputar kawan, ada saat posisi di atas dan berada di posisi bawah". Seperti kehidupan terkadang berada di kesuksesan dan kadang berada di keterpurukan. Berdo'a agar selalu diberikan kerendahan hati, semangat untuk menjalani hidup dan diberkahi Allah. Do'a kan mereka di bukakan pintu hidayah agar kembali kejalan yang benar dan bisa saling menghargai orang lain yang pada dasarnya memiliki kedudukan yang sama di hadapan Yang Maha Esa (Allh SWT.)
didedikasikan untuk hamba Allah.
Sabtu, 11 April 2015
Anak Ekspresif
Merawat dan membesarkan anak yang ekspresif secara emosional adalah
satu tantangan terbesar bagi orangtua karena umumnya orangtua tidak
mengizinkan anak-anak mengekspresikan perasaannya. Sayangnya, banyak
risiko besar yang tersimpan dibalik anak-anak yang kurang ekspresif.
Mereka berisiko menyimpan kemarahan yang lebih besar dari batas normal.
Berikut beberapa cara untuk membesarkan anak menjadi lebih ekspresif,
namun tetap bersikap hormat sehingga tidak merugikan lingkungan
sosialnya kelak.
1. Kembangkan Praktek Pengasuhan
Seorang bayi perlu menjadi anak terlebih dahulu untuk dapat
mengekspresikan perasaan. Inilah sebabnya penting bagi para orangtua
menjadi responsif terhadap isyarat bayi.
Bayi berusia satu bulan akan menangis untuk mengekspresikan kebutuhan
makan maupun digendong. Sayangnya, kerapkali orangtua tak menangkap
isyarat ini. Kendati beberapa orangtua juga mampu menanggapi secara
sensitif isyarat bayi. Sementara, bayi juga belajar tentang impuls yang
memiliki makna. Tangisan dimaknai bayi sebagai sebuah upaya membawa
tanggapan yang menghibur dari orangtua. Kemudian, bayi juga akan belajar
mengarahkan kebutuhan dalam hal-hal baik.
Menjadi terbuka dan responsif terhadap isyarat bayi, juga dapat
menegaskan ekspresi diri bayi. Ketika orangtua mengantisipasi kebutuhan
dengan menanggapi sinyal pra menangis, bayi belajar lebih banyak cara
mengekspresikan diri sendiri. Bayi kemudian memahami jika dirinya tidak
harus menangis untuk mendapatkan apa yang dibutuhkan.
Hal ini membuat bayi lebih mampu menikmati berada bersama
lingkungannya. Dimana bayi menyadari, ada jaminan orang tuanya akan
terus bersikap simpatik dengan kebutuhan. Bayi yang terhubung dengan
orangtuanya akan menjadi anak yang mampu mengenali dan menunjukkan
perasaan yang terdalam. Sebaliknya, bayi yang terputus dari koneksi
dengan orangtuanya akan sulit menyatakan apa yang dirasakan.
Mengupayakan anak yang ekspresif juga dapat dirintis dengan
mengupayakan penjadwalan. Bayi yang dirawat terjadwal, dibiarkan saja
menangis, dan diperlakukan terlalu disiplin (karena ketakutan berlebih
akan dampak memanjakan anak, Red.), akan belajar secara awal tentang
dunia pengasuhan yang tidak selalu responsif terhadap kebutuhan. Dia
akan belajar berhenti bertanya. Begitu pula, akan berhenti mengungkapkan
dan mengidentifikasi perasaan di usia dini. Pada permukaan, bayi akan
belajar memperlihatkan dirinya sebagai “orang baik” yang tidak
mengganggu siapapun. Bayi akan menyesuaikan jadwal secara fleksibel,
tidur sepanjang malam dan berusaha nyaman dengan sekitar. Anak yang
dipaksa dan ditekan secara internal ini akan menyimpan kemarahan di
dalam dirinya. Ia boleh saja nampak “baik” dan “cukup disiplin”.
Sayangnya ini bukan sebuah perkembangan yang baik.
Atau, bukan bayi yang “baik” yang didapat, justru bayi “pemarah” yang
kerap menangis keras ketika menerima jawaban. Mereka berubah lebih
menjengkelkan dan marah secara terbuka. Bayi-bayi ini akan menjadi anak
yang sulit dihadapi. Ketika kemarahan ini terbawa hingga dewasa,
anak-anak ini justru berisiko berakhir di kantor konsultan psikologi.
2. Dorong Perasaan Balita
Bayi yang ekspresif dan orangtua yang responsif menjadi kombinasi
terbaik bagi masa balita. Ini karena bayi belajar mendengar dan
menerjemahkan isyarat pada tahun pertama, sehingga lebih mampu
mengekspresikan dirinya.
Setelah bayi tumbuh lebih besar dan memiliki kebutuhan yang lebih
besar, bayi belajar mengekspresikan kebutuhan yang berhubungan dengan
perasaannya. Beberapa Ibu memberitahu, mereka kesulitan memahami balita
karena mereka tak memiliki cukup kosakata yang dapat dipahami. Lalu
beberapa Ibu juga menuntut balitanya mampu “mengatakan” sesuatu yang
dibutuhkannya. Sayangnya, beberapa balita justru “mengatakan”
keinginannya dengan ekspresi di mata. Dan, balita tahu persis apa yang
ingin diberitahukannya kepada Anda. Mata mereka seringkali lebih fasih
berbicara daripada lidahnya. Mata balita mampu berbicara “sejujur
jiwanya” kendati kerap mengungkapkan kata-kata secara kacau.
3. Upayakan Lebih Mendekat
Balita adalah manusia kecil dengan kebutuhan yang besar. Sayangnya,
mereka masih memiliki kemampuan terbatas untuk berkomunikasi. Sebagai
orangtua, cobalah membantu mereka.
Buatlah kontak mata dengan mereka ketika berbicara. Cobalah lebih
mencurahkan perhatian ketika tidak mengerti apa yang sedang balita Anda
coba katakan. Berikan pula cukup apresiasi dengan isyarat tubuh seperti
menganggukkan kepala, kontak mata, dan tepukan lembut di bahu. Bahkan
disaat Anda sedang sangat sibuk dan sulit berbicara dengan bertatap
mata, cobalah lakukan kontak suara dengannya. Ingat, anak belum cukup
dewasa untuk memahami mengapa orang dewasa sangat sibuk dengan
kebutuhannya. Mereka hanya ingin Anda berbicara dengannya. Karena itu
cobalah berbicara “katakan pada mama, apa yang kamu inginkan...” dan
anak akan merasa Anda peduli padanya.
Seorang anak berusia dua tahun dan jarinya terluka, menjerit histeris
pada Ibunya. Sang Ibu pun memeriksa lukanya lalu berkata, “Tunjukkan
mana yang sakit. Seberapa buruk lukamu, sayang?." Kendati dirinya
mengetahui, luka itu tidak separah jeritannya, namun tindakannya melihat
ke dalam mata dengan simpatik dan memeriksa jarinya menunjukkan
sensitivitas dirinya sebagai orangtua. Setelah Ibu selesai membalutkan
plester elastis dan membereskan lukanya, lalu memeluk sang anak beberapa
menit sebelum mengalihkan perhatian ke hal lain. Orangtua kerap kali
tak ingin membuat hal-hal sepele menjadi besar, sedangkan anak-anak
terkadang over sensitif dengan hal-hal yang terjadi pada tubuhnya. Dalam
sudut pandang seorang anak, hal-hal kecil seperti tertusuk peniti
adalah sebuah pengalaman yang traumatis. Ia membutuhkan perban untuk
membalut lukanya. Jadikan momen-momen semacam ini sebagai kesempatan
lebih dekat pada anak-anak.
4. Hindari Menasehati
Anak-anak memang kerap menjengkelkan, melelahkan, dan benar-benar
mengganggu ketika mereka berlebihan. Sadarilah, anak-anak memang
lazimnya begitu. Mereka kerap melakukan pertunjukan dramatis di waktu
yang kurang tepat. Namun demikian, peristiwa "kecil" ini penting bagi
mereka.
Jangan menasehati anak ketika dirinya marah. Ketika anak marah dan
duduk menyendiri, cobalah lihat ke dalam mata dan berikan waktu baginya
untuk mengekspresikan diri. Tahan keinginan untuk membongkar
kemarahannya. Umumnya orangtua justru ingin marah, menghakimi dan sok
logis ketika anak sedang marah. Anak-anak belum tentu memiliki cara
pandang yang reseptif untuk menerimanya. Penyampaian orang dewasa justru
membuat anak-anak menekan perasaannya.
Menasehati akan memberi pesan Anda tidak dapat menerima emosinya. Ini
akan membuat anak bungkam. Anak jug akan kehilangan kemampuan
mengekspresikan dirinya dan Anda pun menjadi orangtua yang kurang dapat
menerima sehingga anak tidak bisa terbuka pada Anda.
>>berbagai sumber
Rabu, 08 April 2015
Anak Jadi Korban Perceraian
Perceraian antara pasangan pasti memunculkan reaksi
pada anak. Bagaimana agar anak tak menyimpan kemarahan terhadap orang
tuanya, sehingga ia dapat bahagia menjalankan hidupnya sebagai anak keluarga bercerai?
Kasihan anak-anak, mereka yang jadi korban,demikian kata-kata yang sering kita dengar dan, rasanya kita sepakati, bila mendengar ada pasangan yang bercerai. Proses perceraian selalu menyakitkan bagi anak. Apa sih dampak perceraian ibu dan ayah pada anak-anaknya? Dan, bagaimana cara meminimalkan dampak negatifnya?
Kasihan anak-anak, mereka yang jadi korban,demikian kata-kata yang sering kita dengar dan, rasanya kita sepakati, bila mendengar ada pasangan yang bercerai. Proses perceraian selalu menyakitkan bagi anak. Apa sih dampak perceraian ibu dan ayah pada anak-anaknya? Dan, bagaimana cara meminimalkan dampak negatifnya?
Selasa, 07 April 2015
Jilbab Bukan Menjadi Halangan
Polri akhirnya mengeluarkan surat keputusan perizinan bagi polwan
untuk menggunakan jilbab, setelah sekian lama mengalami perdebatan
panjang. Selain di Indonesia, peraturan penggunaan jilbab ini sebelumnya
sudah ditetapkan di berbagai negara.
Penggunaan jilbab bagi polwan bukan suatu halangan dalam menjalani tugas mereka sebagai aparat penegak hukum. Jangankan jadi polisi, wanita berjilbab pun bisa jadi penerbang tempur. Hal ini dibuktikan oleh Ayesha Farooq, yang merupakan pilot tempur wanita pertama di Pakistan.
Ayesha adalah salah satu wanita pertama berkemampuan tempur terbaik dari 19 wanita yang ikut tes pilot di Angkatan Udara Pakistan. Dia dipercaya menerbangkan pesawat jet tempur buatan China, F7PG bersama dengan rekan pilot pria lainnya di Skuadron 20.
Selain menjadi pilot tempur wanita, yang membuat wanita asal kota Bawalpur, Provinsi Punjab ini meraih banyak pujian adalah jilbab yang digunakannya. Meski berjilbab, jilbab tak jadi halangan dalam menjalani tugasnya.
"Saya tidak merasakan perbedaan apa pun. Kami melakukan aktivitas yang sama, melakukan pengeboman yang tepat," ujar Ayesha yang ditemui di pangkalan militer Mushaf di utara Pakistan, dilansir Dailymail 2013 lalu.

Selama bekerja, Ayesha tidak pernah melepas jilbab hijau zaitunnya itu. Menurutnya, dalam satu dekade terakhir, mulai banyak wanita yang bekerja sebagai pilot AU dan membantu Pakistan melawan serangan pemberontak. Hal ini dilihat sebagai sebuah sikap menuju perubahan status perempuan.
"Karena terorisme dan lokasi negeri kami yang sangat penting sehingga kami mencoba tetap bertahan," kata Ayesha, merujuk militansi Taliban dan meningkatnya kekerasan sektarian di negeri itu.
Sumber: Merdeka.com
Penggunaan jilbab bagi polwan bukan suatu halangan dalam menjalani tugas mereka sebagai aparat penegak hukum. Jangankan jadi polisi, wanita berjilbab pun bisa jadi penerbang tempur. Hal ini dibuktikan oleh Ayesha Farooq, yang merupakan pilot tempur wanita pertama di Pakistan.
Ayesha adalah salah satu wanita pertama berkemampuan tempur terbaik dari 19 wanita yang ikut tes pilot di Angkatan Udara Pakistan. Dia dipercaya menerbangkan pesawat jet tempur buatan China, F7PG bersama dengan rekan pilot pria lainnya di Skuadron 20.
Selain menjadi pilot tempur wanita, yang membuat wanita asal kota Bawalpur, Provinsi Punjab ini meraih banyak pujian adalah jilbab yang digunakannya. Meski berjilbab, jilbab tak jadi halangan dalam menjalani tugasnya.
"Saya tidak merasakan perbedaan apa pun. Kami melakukan aktivitas yang sama, melakukan pengeboman yang tepat," ujar Ayesha yang ditemui di pangkalan militer Mushaf di utara Pakistan, dilansir Dailymail 2013 lalu.
Selama bekerja, Ayesha tidak pernah melepas jilbab hijau zaitunnya itu. Menurutnya, dalam satu dekade terakhir, mulai banyak wanita yang bekerja sebagai pilot AU dan membantu Pakistan melawan serangan pemberontak. Hal ini dilihat sebagai sebuah sikap menuju perubahan status perempuan.
"Karena terorisme dan lokasi negeri kami yang sangat penting sehingga kami mencoba tetap bertahan," kata Ayesha, merujuk militansi Taliban dan meningkatnya kekerasan sektarian di negeri itu.
Sumber: Merdeka.com
Senin, 06 April 2015
10 Strategi Hadapi Pertengkaran Kakak-Adik
Pertengkaran antara kakak dan adik di rumah adalah wajar. Misalnya,
berebut mainan, mengganti channel televisi, berebut tempat duduk dan
masih banyak lagi pertengkaran yang umumnya terjadi pada kakak dan adik.
Namun, jika dibiarkan lama kelamaan akan mengganggu hubungan kakak dan
adik loh bunda. Pertengkaran kakak dan adik ini juga bisa memicu stres
bagi Anda selaku orangtua.
Simak 10 strategi menghadapi pertengkaran kakak dan adik berikut ini agar Anda bijak dalam bertindak.
Simak 10 strategi menghadapi pertengkaran kakak dan adik berikut ini agar Anda bijak dalam bertindak.
Cara Menyapih Anak Dengan Cinta
Si Ayyash Ponakan tersayang Sudah waktunya di sapih sama umminya, dedek yayashnya sudah pinter tanpa susah-susah umminya menyapih, ternyata dedek dah mengerti sendiri.
ininih tips untuk bunda yang dalam fase menyapih, semoga bermanfaat...
Menyapih adalah kondisi dimana ibu
mengurangi menyusui secara perlahan hingga anak tidak menyusu lagi.
Menyapih sebaiknya dilakukan secara bertahap supaya anak dan ibu tetap
nyaman. Menyapih ini dimulai ketika ibu mengenalkan makanan lain sebagai
pendamping ASI, yaitu ketika umur bayi 6 bulan. Frekuensi menetek akan
berkurang setelah anak makan tapi tetap dituruti semau bayi.
Minggu, 05 April 2015
Perbedaan Pacaran Dengan Ta`aruf
Pacaran adalah suatu hubungan dekat yang dibuat oleh 2 orang (biasanya lawan jenis) tanpa ada ikatan resmi. Biasanya pacaran dilakukan karena adanya rasa saling suka. Dalam pacaran kadang disertai aktivitas yang terlalu intim dan dilarang agama, namun ada juga yang masih bisa menjaga dirinya masing2. Dalam hubungan pacaran, bisa jadi ada rencana pernikahan, namun kebanyakan belum memikirkan ke arah pernikahan. Dan bagi yang memikirkan pernikahan pun ada yang mau nikah dalam waktu dekat dan ada yang masih lama rencana nikahnya. Namun, persepsi umum dari pacaran adalah aktivitas intim (kedekatan) yang dilakukan 2 orang yang masih belum resmi menjadi suamu istri. Kedekatan itu bisa kedekatan secara fisik dan bisa jadi kedekatan komunikasi.
Banyak orang-orang yang berniat ta’aruf namun dalam prakteknya mereka
berbuat aktivitas seperti layaknya orang pacaran. Sehingga niat menikah
pun menjadi tertunda gara-gara mereka sudah merasa dekat, dan mereka
puas dengan kedekatan itu sehingga tidak jadi memikirkan ke arah
pernikahan.
Adapun perbedaan pacaran dengan ta’aruf yaitu:
1. Tujuan
- taaruf : mengenal calon istri/suami, dengan harapan ketika ada kecocokan antara kedua belah pihak berlanjut dengan pernikahan.
- pacaran : mengenal calon pacar, dengan harapan ketika ada kecocokan antara kedua belah pihak berlanjut dengan pacaran, syukur-syukur bisa nikah dan pacaran lebih kepada kenikmatan sesaat, zina dan maksiat.
1. Tujuan
- taaruf : mengenal calon istri/suami, dengan harapan ketika ada kecocokan antara kedua belah pihak berlanjut dengan pernikahan.
- pacaran : mengenal calon pacar, dengan harapan ketika ada kecocokan antara kedua belah pihak berlanjut dengan pacaran, syukur-syukur bisa nikah dan pacaran lebih kepada kenikmatan sesaat, zina dan maksiat.
2. Kapan dimulai
- ta’aruf : saat calon suami dan calon istri sudah merasa bahwa menikah adalah suatu kebutuhan, dan sudah siap secara fisik, mental serta materi.
- pacaran : saat sudah diledek sama teman:”koq masih jomblo?”, atau saat butuh temen curhat, atau yang lebih parah saat taruhan dengan teman.
- ta’aruf : saat calon suami dan calon istri sudah merasa bahwa menikah adalah suatu kebutuhan, dan sudah siap secara fisik, mental serta materi.
- pacaran : saat sudah diledek sama teman:”koq masih jomblo?”, atau saat butuh temen curhat, atau yang lebih parah saat taruhan dengan teman.
3. Pertemuan
- ta’aruf : pertemuan dilakukan sesuai dengan adab bertamu biasa, dirumah sang calon, atau ditempat pertemuan lainnya. Hanya semua itu harus dilakukan dengan cara yang benar dan dalam koridor syari`ah Islam. Minimal harus ditemani orang lain baik dari keluarga calon istri atau dari calon suami. Sehingga tidak dibenarkan untuk pergi jalan-jalan berdua, nonton, boncengan, kencan, ngedate dan seterusnya dengan menggunakan alasan ta`aruf. Dan frekunsi pertemuannya, lebih sedikit lebih baik karena menghindari zina hati.
- ta’aruf : pertemuan dilakukan sesuai dengan adab bertamu biasa, dirumah sang calon, atau ditempat pertemuan lainnya. Hanya semua itu harus dilakukan dengan cara yang benar dan dalam koridor syari`ah Islam. Minimal harus ditemani orang lain baik dari keluarga calon istri atau dari calon suami. Sehingga tidak dibenarkan untuk pergi jalan-jalan berdua, nonton, boncengan, kencan, ngedate dan seterusnya dengan menggunakan alasan ta`aruf. Dan frekunsi pertemuannya, lebih sedikit lebih baik karena menghindari zina hati.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:
“Jangan sekali-kali salah seorang kalian berkhalwat dgn wanita kecuali bersama mahram.”
“Jangan sekali-kali salah seorang kalian berkhalwat dgn wanita kecuali bersama mahram.”
Hal itu krn tidaklah terjadi khalwat kecuali setan bersama keduanya
sebagai pihak ketiga sebagaimana dlm hadits Jabir bin Abdillah
radhiyallahu ‘anhuma:
“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir mk jangan sekali-kali dia berkhalwat dgn seorang wanita tanpa disertai mahram krn setan akan menyertai keduanya.”
“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir mk jangan sekali-kali dia berkhalwat dgn seorang wanita tanpa disertai mahram krn setan akan menyertai keduanya.”
Selama pertemuan pihak laki dan wanita dipersilahkan menanyakan apa
saja yang kira-kira terkait dengan kepentingan masing-masing nanti
selama mengarungi kehidupan, kondisi pribadi, keluarga, harapan, serta
keinginan di masa depan.
Menjadi jelas pula bahwa tidak boleh mengungkapkan perasaan sayang atau cinta kepada calon istri selama belum resmi menjadi istri. Baik ungkapan itu secara langsung atau lewat telepon, ataupun melalui surat. Karena saling mengungkapkan perasaan cinta dan sayang adalah hubungan asmara yang mengandung makna pacaran yang akan menyeret ke dalam fitnah.
Adapun cara yang lebih syar’i untuk mengenal wanita yang hendak dilamar adalah dengan mencari keterangan tentang yang bersangkutan melalui seseorang yang mengenalnya, baik tentang biografi (riwayat hidup), karakter, sifat, atau hal lainnya yang dibutuhkan untuk diketahui demi maslahat pernikahan. Bisa pula dengan cara meminta keterangan kepada wanita itu sendiri melalui perantaraan seseorang seperti istri teman atau yang lainnya. Dan pihak yang dimintai keterangan berkewajiban untuk menjawab seobyektif mungkin, meskipun harus membuka aib wanita tersebut karena ini bukan termasuk dalam kategori ghibah yang tercela. Hal ini termasuk dari enam perkara yang dikecualikan dari ghibah, meskipun menyebutkan aib seseorang. Demikian pula sebaliknya dengan pihak wanita yang berkepentingan untuk mengenal lelaki yang berhasrat untuk meminangnya, dapat menempuh cara yang sama.
Menjadi jelas pula bahwa tidak boleh mengungkapkan perasaan sayang atau cinta kepada calon istri selama belum resmi menjadi istri. Baik ungkapan itu secara langsung atau lewat telepon, ataupun melalui surat. Karena saling mengungkapkan perasaan cinta dan sayang adalah hubungan asmara yang mengandung makna pacaran yang akan menyeret ke dalam fitnah.
Adapun cara yang lebih syar’i untuk mengenal wanita yang hendak dilamar adalah dengan mencari keterangan tentang yang bersangkutan melalui seseorang yang mengenalnya, baik tentang biografi (riwayat hidup), karakter, sifat, atau hal lainnya yang dibutuhkan untuk diketahui demi maslahat pernikahan. Bisa pula dengan cara meminta keterangan kepada wanita itu sendiri melalui perantaraan seseorang seperti istri teman atau yang lainnya. Dan pihak yang dimintai keterangan berkewajiban untuk menjawab seobyektif mungkin, meskipun harus membuka aib wanita tersebut karena ini bukan termasuk dalam kategori ghibah yang tercela. Hal ini termasuk dari enam perkara yang dikecualikan dari ghibah, meskipun menyebutkan aib seseorang. Demikian pula sebaliknya dengan pihak wanita yang berkepentingan untuk mengenal lelaki yang berhasrat untuk meminangnya, dapat menempuh cara yang sama.
- pacaran : pertemuan yang dilakukan hanya berdua saja, pagi boleh,
siang oke, sore ayo, malam bisa, dini hari klo ngga ada yang komplain
juga ngga apa-apa. Pertemuannya di rumah sang calon, kantor, mall, cafe,
diskotik, tempat wisata, kendaraan umum & pribadi, pabrik dll.
Frekuensi pertemuan lazimnya seminggu sekali, pas malem minggu. Adapun
yang dibicarakan cerita apa aja kejadian minggu ini, ngobrol
ngalur-ngidul, ketawa-ketiwi.
4. Lamanya
- ta’aruf : ketika sudah tidak ada lagi keraguan di kedua belah pihak, lebih cepat lebih baik. dan ketika informasi sudah cukup (bisa sehari, seminggu, sebulan, 2 bulan), apa lagi yang ditunggu-tunggu?
- pacaran : bisa 3 bulan, 6 bulan, setahun, 2 tahun, bahkan mungkin 10 tahun.
- ta’aruf : ketika sudah tidak ada lagi keraguan di kedua belah pihak, lebih cepat lebih baik. dan ketika informasi sudah cukup (bisa sehari, seminggu, sebulan, 2 bulan), apa lagi yang ditunggu-tunggu?
- pacaran : bisa 3 bulan, 6 bulan, setahun, 2 tahun, bahkan mungkin 10 tahun.
5. Saat tidak ada kecocokan saat proses
- ta’aruf : salah satu pihak bisa menyatakan tidak ada kecocokan, dan proses stop dengan harus cara yang baik dan menyebut alasannya.
- pacaran : salah satu pihak bisa menyatakan tidak ada kecocokan, dan proses stop dengan/tanpa menyebut alasannya.
- ta’aruf : salah satu pihak bisa menyatakan tidak ada kecocokan, dan proses stop dengan harus cara yang baik dan menyebut alasannya.
- pacaran : salah satu pihak bisa menyatakan tidak ada kecocokan, dan proses stop dengan/tanpa menyebut alasannya.
Dengan demikian jelaslah bahwa pacaran bukanlah alternatif yang ditolerir dalam Islam untuk mencari dan memilih pasangan hidup.
6)} Kira-kira hal apa saja yang perlu diketahui atau diperhatikan dari pasangan ta’aruf agar merasa tidak tertipu?
Adapun yang perlu kita ketahui dari pasangan ta’aruf kita (diambil dari http://www.eramuslim.com) yaitu:
Pertama, kenalilah calon pasangan anda. Apakah ia seorang yang memiliki komitmen terhadap agamanya? Apakah ia konsisten menjalankannya? Apakah ia selalu memperdalam pengetahuan agamanya? Apakah ia siap berubah sesuai arahan NabiNya (Muhammad Sallallahu Alaihi Wassalam)?
Pertama, kenalilah calon pasangan anda. Apakah ia seorang yang memiliki komitmen terhadap agamanya? Apakah ia konsisten menjalankannya? Apakah ia selalu memperdalam pengetahuan agamanya? Apakah ia siap berubah sesuai arahan NabiNya (Muhammad Sallallahu Alaihi Wassalam)?
Kedua, amati bagaimana caranya mengatasi masalah hidup. Apakah ia
mencari arahan dari Al Qur’an atau Sunnah Nabi ? Apakah ia cukup sabar
dan tidak mengeluh dan menyalahkan nasib?
Ketiga, kenali bagaimana calon anda dalam menghadapi saat-saat senang
atau gembira? Apakah ia mudah bersyukur? Apakah dalam bergembira ia
tidak berlebihan?
Keempat, bagaimana caranya berinteraksi dengan anda dan orang lain?
Apakah mudah berkomunikasi atau sulit? Apakah sering mengumbar janji
muluk dan kata pujian? Dalam berbicara apakah siap bermusyawarah atau
lebih suka menang sendiri? Apakah ia mudah menghargai orang lain?
Kelima, tentang sikap dan pandangannya tentang diri sendiri? Apakah ia
terlalu percaya diri? Ataukah percaya diri secara proporsional dan
berdasar? Apakah ia minder dan mudah putus asa?
Keenam, tentang sikap terhadap ilmu, apakah berwawasan luas dan mau
belajar ataukah lebih suka membatasi minat dan perhatiannya terhadap
hal-hal yang sempit?
Ketujuh, bagaimana sikapnya terhadap atasan dan bawahan dirinya? Apakah
ia terlalu takut pada atasan? Apakah ia sewenang-wenang terhadap
bawahan?
Kedelapan, kenalilah selera-seleranya, apakah ada yang sangat
bertentangan dengan anda sendiri? Apakah tidak bisa saling memahami
perbedaan selera ini?
Kesembilan, kenali keluarganya. Apakah ada hal-hal yang perlu menjadi
catatan seperti apakah calon mertua sangat dominan terhadap anaknya
ataukah biasa-biasa saja?
Mungkin masih banyak contoh-contoh pertanyaan dan pengamatan yang dapat
diujikan kepada calon pasangan. Cari tahulah dengan berbagai cara, baik
bertanya langsung, bertanya ke pada orang-orang dekatnya atau
mengamati.
Sesudah mengumpulkan berbagai bahan ini, kemudian diskusikanlah dengannya beberapa hal berikut:
1. Bagaimana atau dari mana akan mengambil sumber hukum dalam kebijakan
rumahtangga? Darimana sumber hukumnya dan bagaimana proses penetapan
keputusannya?
2. Bagaimana cara menghadapi perbedaan pendapat dan ke mana mencari penengah?
Diskusikan juga berbagai hal kecil namun mungkin penting, misal akan
tinggal di mana kelak? Dari mana sumber penghasilan keluarga? Apakah ada
diantara anda berdua yang masih ingin melanjutkan sekolah? Apakah istri
kelak akan bekerja? Bagaimana mengasuh anak? Dan masih banyak lagi,
namun pilihlah yang bagi anda lebih penting.
Jika ha-hal ini sudah dibicarakan dan ternyata tak ada masalah atau
perbedaan pendapat yang terlalu tajam antara anda berdua, barulah dapat
dikatakan Insya Allah anda berdua cocok. Wallahua’lam .
7)} Bagaimana Bila Ta’aruf Gagal?
Karena ta’aruf adalah sarana pertama menuju pernikahan, maka adakalanya
ia berhasil lalu berlanjut ke khitbah dan akad nikah, ada kalanya pula
ia tidak berlanjut ke pernikahan. Bagaimana bila ta’aruf gagal? Ada
empat tips dalam buku Tak Kenal Maka Ta’aruf yaitu :
Pertama, Yakinilah bahwa ini yang terbaik dari Allah. Bukankah lebih baik ta’aruf tidak dilanjutkan daripada menikah tetapi tidak ada kecocokan lalu timbul perselisihan dan banyak permasalahan?
Kedua, tetaplah memperbaiki diri. Kembali kepada QS. An-Nur : 26 bahwa perempuan yang baik hanya untuk lelaki yang baik, demikian sebaliknya.
Ketiga, tak perlu malu dan trauma. Jangan takut untuk melakukan ta’aruf lagi.
Keempat, lakukan muhasabah dan evaluasi diri. Bisa jadi ta’aruf yang gagal membuat kita tersadar ada kelemahan yang harus diperbaiki. Dengan demikian kita menjadi lebih baik dan sempurna.
Pertama, Yakinilah bahwa ini yang terbaik dari Allah. Bukankah lebih baik ta’aruf tidak dilanjutkan daripada menikah tetapi tidak ada kecocokan lalu timbul perselisihan dan banyak permasalahan?
Kedua, tetaplah memperbaiki diri. Kembali kepada QS. An-Nur : 26 bahwa perempuan yang baik hanya untuk lelaki yang baik, demikian sebaliknya.
Ketiga, tak perlu malu dan trauma. Jangan takut untuk melakukan ta’aruf lagi.
Keempat, lakukan muhasabah dan evaluasi diri. Bisa jadi ta’aruf yang gagal membuat kita tersadar ada kelemahan yang harus diperbaiki. Dengan demikian kita menjadi lebih baik dan sempurna.
Sumber : Sahabat Dari Hati
Jodoh Menurut Islam
Bismillahir-Rah maanir-Rahim ... Allah SWT mempunyai tiga pilihan dalam
menjodohkan manusia satu sama lain. Pilihan pertama adalah cepat
mendapatkan jodoh. Pilihan kedua, lambat mendapatkan jodoh, tapi suatu
ketika pasti mendapatkannya di dunia. Pilihan ketiga adalah menunda
mendapatkan jodoh sampai di akhirat kelak (di dunia kita tidak
mendapatkan jodoh).
Apapun pilihan jodoh yang ditentukan Allah, maka hal itu adalah hal yang terbaik untuk kita.
Allah SWT berfirman : “Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” (QS. 2 : 216).
Lalu upaya apa yang perlu dilakukan agar kita segera mendapatkan jodoh? di Bawah ini ada beberapa upaya yang dapat dilakukan yaitu :
1. Memperbaiki diri ...
Jika kita ingin mendapatkan jodoh yang sholih, maka kita harus menjadi orang yang sholihah juga. Itulah maksud Allah dalam firman-Nya :
“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga)” (QS. 24 : 26).
Memperbaiki diri disini pengertiannya ada dua, lahiriah dan batiniah. Secara lahiriah kita perlu menjadi orang yang bersih, rapi dan menjaga bau badan. Tidak perlu berdandan yang berlebihan (tidak Islami), tapi perlu kelihatan sebagai orang yang menarik. Sebagian orang yang ingin menikah sangat berharap mendapatkan jodoh yang sholih, tapi ia sendiri orang yang salah (tidak sholih). Ini ibarat pungguk merindukan bulan.
2. Tidak putus asa berdoa ...
Jangan pernah berputus asa untuk berdoa. Doa yang baik untuk mendapatkan jodoh adalah doa yang terdapat dalam surah Al Furqon ayat 74 :
“Ya Rob kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”.
Agar doa lebih terkabul, perhatikan juga adab-adab berdoa dalam Islam. Jadi jangan berdoa menurut versi kita sendiri. Berdoalah menurut apa yang diajarkan Allah dan Rasul-Nya kepada kita, niscaya doa kita akan lebih terkabul.
3. Ibadah sunnah diperbanyak ....
Agar jodoh kita semakin cepat datang, kita juga perlu mendekati Allah dengan ekstra dekat. Caranya tidak hanya mengandalkan ibadah wajib, tapi juga dengan menambah ibadah-ibadah sunnah (nawafil), seperti sholat tahajjud, sholat dhuha, shaum, tilawah Al Qur’an, infaq, dan lain-lain. Lakukan ibadah sunnah ini secara rutin setiap hari agar iman kita bertambah dan do’a kita semakin dikabulkan Allah SWT.
4. Memiliki kriteria yang tidak muluk ...
Mengapa jodoh sulit datang kepada kita? Salah satunya mungkin disebabkan karena kriteria jodoh kita terlalu muluk. Kita ingin jodoh yang mapan, ganteng/ cantik, berpangkat, keturunan baik-baik dan beriman. Keinginan semacam itu sah-sah saja, tapi jika hal tersebut dijadikan syarat untuk jodoh kita maka kita telah mempersulit diri sendiri.
Itulah sebabnya Rasulullah mengatakan jika kita tidak dapat memperoleh semuanya, maka pilihlah yang agamanya paling baik. Hal itu berarti mungkin saja jodoh kita orang yang miskin, tidak berpangkat, bukan keturunan orang baik, akan tetapi kita perlu menerimanya asalkan memiliki agama/akhlaq yang baik. Jangan kita menginginkan kesempurnaan dari orang lain, padahal diri kita tidak sempurna.
5. Memperluas pergaulan ...
Cara yang lain agar cepat mendapatkan jodoh adalah memperluas pergaulan. Dengan pergaulan yang luas kita juga lebih banyak mendapatkan pilihan. Seringkali jodoh itu datang bukan dari perkenalan langsung, tapi dari kenalan teman kita. Bahkan dari kenalan dari kenalan teman kita. Itulah gunanya pergaulan yang luas. Ibarat seorang nelayan yang menebarkan jaringan yang luas untuk mendapatkan ikan yang lebih banyak.
6. Meminta tolong orang lain ...
Cara lain agar cepat mendapatkan jodoh adalah meminta tolong kepada orang lain yang reputasinya baik. Orang tersebut bisa saja guru mengaji, murobbi, teman, orang tua, saudara, dan lain-lain. Jangan malu-malu untuk meminta bantuan kepada mereka dan jangan malu-malu juga untuk mengulangi permintaan kita secara rutin agar orang tersebut ingat bahwa kita meminta bantuan kepadanya.
7. Menyatakan hasrat secara langsung ...
Bisa juga seorang wanita mendapatkan jodoh dengan cara menyatakan langsung kepada lelaki yang kita taksir bahwa kita siap menikah dengannya. Ini adalah cara yang masih asing dalam budaya Indonesia. Namun cara ini sebenarnya Islami, karena pernah dilakukan Khadijah ra kepada Nabi Muhammad saw. Khadijah ra yang lebih dahulu menyetkan hasratnya kepada Nabi melalui perantaranya.
Menurut saya, cara ini perlu dimasyarakatkan di Indonesia, sehingga tidak ada lagi wanita yang malu-malu kucing, padahal hatinya sudah ingin sekali dilamar oleh lelaki yang diharapkannya.
itulah 7 upaya yang InsyaAllah dapat membantu Anda dalam mencari jodoh..
Apapun pilihan jodoh yang ditentukan Allah, maka hal itu adalah hal yang terbaik untuk kita.
Allah SWT berfirman : “Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” (QS. 2 : 216).
Lalu upaya apa yang perlu dilakukan agar kita segera mendapatkan jodoh? di Bawah ini ada beberapa upaya yang dapat dilakukan yaitu :
1. Memperbaiki diri ...
Jika kita ingin mendapatkan jodoh yang sholih, maka kita harus menjadi orang yang sholihah juga. Itulah maksud Allah dalam firman-Nya :
“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga)” (QS. 24 : 26).
Memperbaiki diri disini pengertiannya ada dua, lahiriah dan batiniah. Secara lahiriah kita perlu menjadi orang yang bersih, rapi dan menjaga bau badan. Tidak perlu berdandan yang berlebihan (tidak Islami), tapi perlu kelihatan sebagai orang yang menarik. Sebagian orang yang ingin menikah sangat berharap mendapatkan jodoh yang sholih, tapi ia sendiri orang yang salah (tidak sholih). Ini ibarat pungguk merindukan bulan.
2. Tidak putus asa berdoa ...
Jangan pernah berputus asa untuk berdoa. Doa yang baik untuk mendapatkan jodoh adalah doa yang terdapat dalam surah Al Furqon ayat 74 :
“Ya Rob kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”.
Agar doa lebih terkabul, perhatikan juga adab-adab berdoa dalam Islam. Jadi jangan berdoa menurut versi kita sendiri. Berdoalah menurut apa yang diajarkan Allah dan Rasul-Nya kepada kita, niscaya doa kita akan lebih terkabul.
3. Ibadah sunnah diperbanyak ....
Agar jodoh kita semakin cepat datang, kita juga perlu mendekati Allah dengan ekstra dekat. Caranya tidak hanya mengandalkan ibadah wajib, tapi juga dengan menambah ibadah-ibadah sunnah (nawafil), seperti sholat tahajjud, sholat dhuha, shaum, tilawah Al Qur’an, infaq, dan lain-lain. Lakukan ibadah sunnah ini secara rutin setiap hari agar iman kita bertambah dan do’a kita semakin dikabulkan Allah SWT.
4. Memiliki kriteria yang tidak muluk ...
Mengapa jodoh sulit datang kepada kita? Salah satunya mungkin disebabkan karena kriteria jodoh kita terlalu muluk. Kita ingin jodoh yang mapan, ganteng/ cantik, berpangkat, keturunan baik-baik dan beriman. Keinginan semacam itu sah-sah saja, tapi jika hal tersebut dijadikan syarat untuk jodoh kita maka kita telah mempersulit diri sendiri.
Itulah sebabnya Rasulullah mengatakan jika kita tidak dapat memperoleh semuanya, maka pilihlah yang agamanya paling baik. Hal itu berarti mungkin saja jodoh kita orang yang miskin, tidak berpangkat, bukan keturunan orang baik, akan tetapi kita perlu menerimanya asalkan memiliki agama/akhlaq yang baik. Jangan kita menginginkan kesempurnaan dari orang lain, padahal diri kita tidak sempurna.
5. Memperluas pergaulan ...
Cara yang lain agar cepat mendapatkan jodoh adalah memperluas pergaulan. Dengan pergaulan yang luas kita juga lebih banyak mendapatkan pilihan. Seringkali jodoh itu datang bukan dari perkenalan langsung, tapi dari kenalan teman kita. Bahkan dari kenalan dari kenalan teman kita. Itulah gunanya pergaulan yang luas. Ibarat seorang nelayan yang menebarkan jaringan yang luas untuk mendapatkan ikan yang lebih banyak.
6. Meminta tolong orang lain ...
Cara lain agar cepat mendapatkan jodoh adalah meminta tolong kepada orang lain yang reputasinya baik. Orang tersebut bisa saja guru mengaji, murobbi, teman, orang tua, saudara, dan lain-lain. Jangan malu-malu untuk meminta bantuan kepada mereka dan jangan malu-malu juga untuk mengulangi permintaan kita secara rutin agar orang tersebut ingat bahwa kita meminta bantuan kepadanya.
7. Menyatakan hasrat secara langsung ...
Bisa juga seorang wanita mendapatkan jodoh dengan cara menyatakan langsung kepada lelaki yang kita taksir bahwa kita siap menikah dengannya. Ini adalah cara yang masih asing dalam budaya Indonesia. Namun cara ini sebenarnya Islami, karena pernah dilakukan Khadijah ra kepada Nabi Muhammad saw. Khadijah ra yang lebih dahulu menyetkan hasratnya kepada Nabi melalui perantaranya.
Menurut saya, cara ini perlu dimasyarakatkan di Indonesia, sehingga tidak ada lagi wanita yang malu-malu kucing, padahal hatinya sudah ingin sekali dilamar oleh lelaki yang diharapkannya.
itulah 7 upaya yang InsyaAllah dapat membantu Anda dalam mencari jodoh..
Sabtu, 04 April 2015
Shalat Gerhana Bulan
Malam hari ini Sabtu, 4 April 2015 terjadi gerhana bulan total
di beberapa wilayah di Indonesia. Dalam Islam, mengerjakan salat
gerhana hukumnya sunnah muakkad (sunnah yang dianjurkan). Oleh
karenanya, tata cara shalat gerhana bulan dan doa sholat gerhana bulan
menjadi topik pokok untuk umat Islam demi menjalankan sunnah Rasul.
Rasulullah Muhammad saw. bersabda, “Sesungguhnya matahari dan bulan
adalah bukti tanda-tanda kekuasaan Allah. Sejatinya tidak terjadi
gerhana pada keduanya karena kematian seseorang, dan tidak pula (terjadi
gerhana) karena hidupnya seseorang. Oleh karena itu, bila kalian
melihatnya, maka berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, shalat dan
bersedekahlah.” (Muttafaqun ‘alaihi).
Berdasarkan riwayat di atas, telah dijelaskan bahwa gerhana adalah sesuatu yang alamiah,
bukan perkara mistis, tetapi merupakan bukti kebesaran Allah semata.
Oleh karenanya, kaum muslimin hendaknya menunaikan shalat gerhana, baik
untuk gerhana matahari atau bulan.
Lebih diutamakan shalat ini dikerjakan secara berjamaah.
Diriwayatkan, “Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam keluar
menuju masjid, kemudian beliau berdiri, selanjutnya bertakbir dan
sahabat berdiri dalam shaf di belakangnya.” (Muttafaqun ‘alaihi).
Lalu, kapan waktu yang tepat untuk mengerjakan shalat gerhana tersebut? Shalat dikerjakan sejak terjadinya gerhana hingga peristiwa tersebut berakhir.
Adapun untuk memanggil umat untuk mengerjakan salat tersebut, tidak
ada azan atau iqamah. Meskipun demikian, umat bisa diingatkan dengan
seruan agar berjamaah salat gerhana, misalnya dengan mengumandangkan pengumuman “ash-shalatu jâmi’ah” (sesungguhnya shalat akan didirikan).
Bagaimana tata cara shalat gerhana? Shalat tersebut dilakukan dalam
dua rakaat, dengan masing-masing rakaat dilakukan dua ruku’. Setelah
membaca Surah Al fatihah dan surah lain, kita melakukan ruku’ pertama.
Kemudian, bangkit berdiri lagi untuk membaca surat Al Fatihah dan surah
lain. Barulah kemudian ruku’, i’tidal, dan seterusnya hingga rakaat
pertama selesai. Kemudian, tata cara tersebut diulang pada rakaat kedua.
Urut-urutan tata cara shalat gerhana adalah sebagai berikut.
1. Niat
2. Takbiratul Ikram
3. Membaca surat Al Fatihah dan surat panjang
4. Ruku’ panjang
5. Bangkit dari ruku’ (i’tidal) dengan mengucapkan ‘sami’allahu liman hamidah’. Kemudian membaca Al Fatihah dan surat lainnya
6. Ruku’ lagi (panjang, tetapi lebih pendek dari ruku’ pertama)
7. I’tidal
8. Sujud
9. Duduk di antara dua sujud
10. Sujud kedua
11. Berdiri lagi untuk rakaat kedua, membaca surat Al Fatihah dan surah lain
12. Ruku’
13. Bangkit dari ruku’ (i’tidal) dengan mengucapkan ‘sami’allahu liman hamidah’. Kemudian membaca Al Fatihah dan surat lainnya.
14. Ruku’ lagi
15. I’tidal
16. Sujud
17. Duduk di antara dua sujud
18. Sujud kedua
19. Duduk Tahiyah akhir
20. Salam
2. Takbiratul Ikram
3. Membaca surat Al Fatihah dan surat panjang
4. Ruku’ panjang
5. Bangkit dari ruku’ (i’tidal) dengan mengucapkan ‘sami’allahu liman hamidah’. Kemudian membaca Al Fatihah dan surat lainnya
6. Ruku’ lagi (panjang, tetapi lebih pendek dari ruku’ pertama)
7. I’tidal
8. Sujud
9. Duduk di antara dua sujud
10. Sujud kedua
11. Berdiri lagi untuk rakaat kedua, membaca surat Al Fatihah dan surah lain
12. Ruku’
13. Bangkit dari ruku’ (i’tidal) dengan mengucapkan ‘sami’allahu liman hamidah’. Kemudian membaca Al Fatihah dan surat lainnya.
14. Ruku’ lagi
15. I’tidal
16. Sujud
17. Duduk di antara dua sujud
18. Sujud kedua
19. Duduk Tahiyah akhir
20. Salam
Bila Jodoh tak Kunjung Tiba ??
Siang
datang bukan untuk mengejar malam, malam tiba bukan untuk mengejar
siang. Siang dan malam datang silih berganti dan takkan pernah kembali
lagi. Menanti adalah hal yang paling membosankan, apalagi jika menanti
sesuatu yang tidak pasti. Sementara waktu berjalan terus dan usia
semakin bertambah, namun satu pertanyaan yang selalu mengganggu “Kapan aku menikah ??“.
Resah
dan gelisah kian menghantui hari-harinya. Manakala usia telah melewati
kepala tiga, sementara jodoh tak kunjung datang. Apalagi jika melihat
disekitarnya, semua teman-teman seusianya, bahkan yang lebih mudah
darinya telah naik ke pelaminan atau sudah memiliki keturunan. Baginya,
ini suatu kenyataan yang menyakitkan sekaligus membingungkan.
Menyakitkan tatkala masyarakat memberinya gelar sebagai “bujang lapuk” atau”perawan tua” , “tidak laku“.Membingungkan tatkala tidak ada yang mau peduli dan ambil pusing dengan masalah yang tengah dihadapinya.
Apalagi
anggapan yang berkembang di kalangan wanita, bahwa semakin tua usia
akan semakin sulit mendapatkan jodoh. Sehingga menambah keresahan dan
mengikis rasa percaya diri. Sebagian wanita yang masih sendiri terkadang
memilih mengurung diri dan hari-harinya dihabiskan dengan
berandai-andai.
Ini
adalah kenyataan yang tidak dapat dipungkiri sebab hal ini bisa saja
terjadi pada saudari kita, keponakan, sepupu atau keluarga kita. Salah
satu faktor yang menyebabkan hal ini, tingginya batas mahar dan uang
nikah yang ditetapkan. Hal ini banyak terjadi dinegeri kita -khususnya
di daerah sulawesi-. Telah banyak kisah para pemuda yang sudah ingin
sekali menikah, mundur dari lamarannya hanya karena tidak mampu
menghadapi mahar yang ditetapkan. Setan pun mendapatkan celah untuk
menggelincirkan anak-anak Adam sehingga melakukan perkara-perkara
terlarang mulai dari kawin lari sampai pada perbuatan-perbuatan yang
hina (zina), bahkan sampai menghamili sebagai solusi dari semua ini.
Padahal agama yang mulia ini telah menjelaskan bahwa jangankan zina,
mendekati saja diharamkan,
“Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk.”. (QS. Al-Israa’:32 )
Al-Allamah
Muhammad bin Ali Asy-Syaukaniy-rahimahullah- berkata, “Di dalam
larangan dari mendekati zina dengan cara melakukan
pengantar-pengantarnya terdapat larangan dari zina –secara utama-,
karena sarana menuju sesuatu, jika ia haram, maka tujuan tentunya haram
menurut konteks hadits”.[Lihat Fathul Qodir (3/319)]
Pembaca
yang budiman, sesungguhnya islam adalah agama yang mudah; Allah I telah
anugerahkan kepada manusia sebagai rahmat bagi mereka. Hal ini nampak
jelas dari syari’at-syari’at dan aturan yang ada di dalamnya, dipenuhi
dengan rahmat, kemurahan dan kemudahan. Allah I telah menegaskan di
dalam kitab-Nya yang mulia,
“Thaahaa.
Kami tidak menurunkan Al Quran Ini kepadamu agar kamu menjadi susah;
Tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah)“. (QS.Thohaa :1-3)
Allah I berfirman
“Allah
tidak menghendaki menyulitkan kalian, tetapi Dia hendak membersihkan
kalian dan menyempurnakan nikmat-Nya bagi kalian, supaya kalian
bersyukur.”(QS. : Al-Maidah: 6)
Namun
sangat disayangkan kalau kemudahan ini, justru ditinggalkan. Malah
mencari-cari sesuatu yang sukar dan susah sehingga memberikan dampak
negatif dalam menghalangi kebanyakan orang untuk menikah, baik dari
kalangan lelaki, maupun para wanita, dengan meninggikan harga uang
pernikahan dan maharnya yang tak mampu dijangkau oleh orang yang datang
melamar. Akhirnya seorang pria membujang selama bertahun-tahun lamanya,
sebelum ia mendapatkan mahar yang dibebankan. Sehingga banyak
menimbulkan berbagai macam kerusakan dan kejelekan, seperti menempuh
jalan berpacaran. Padahal pacaran itu haram, karena ia adalah sarana
menuju zina. Bahkan ada yang menempuh jalan yang lebih berbahaya, yaitu
jalan zina !!
Di
sisi yang lain, hal tersebut akan menjadikan pihak keluarga wanita
menjadi kelompok materealistis dengan melihat sedikit banyaknya mahar
atau uang nikah yang diberikan. Apabila maharnya melimpah ruah, maka
merekapun menikahkannya dan mereka tidak melihat kepada akibatnya;
orangnya jelek atau tidak yang penting mahar banyak !! Jika maharnya
sedikit, merekapun menolak pernikahan, walaupun yang datang adalah
seorang pria yang diridhoi agamanyadan akhlaknya serta memiliki
kemampuan menghidupi istri dan anak-anaknya kelak. Padahal Rasulullah
-Shollallahu ‘alaihi wasallam-telah mamperingatkan,
إِذَا
أَتَاكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ خُلُقَهُ وَدِيْنَهُ فَزَوِّجُوْهُ . إِلَّا
تَفْعَلُوْا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِيْ الْأَرْضِ وَفَسَادٌ عَرِيْضٌ
“Jika
datang seorang lelaki yang melamar anak gadismu, yang engkau ridhoi
agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia. Jika tidak, maka akan terjadi
fitnah (musibah) dan kerusakan yang merata dimuka bumi “[HR.At-Tirmidziy
dalam Kitab An-Nikah(1084 & 1085), dan Ibnu Majah dalam Kitab
An-Nikah(1967). Di-hasan-kan oleh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (1022)]
Jadi,
yang terpenting dalam agama kita adalah ketaatan kepada Allah dan
Rasul-Nya, bukan sekedar kekayaan dan kemewahan. Sebuah rumah yang
berhiaskan ketaqwaan dan kesholehan dari sepasang suami istri adalah
modal surgawi, yang akan melahirkan kebahagian, kedamaian, kemuliaan,
dan ketentraman. Namun sangat disayangkan sekali, realita yang terjadi
di masyarakat kita, jauh dari apa yang dituntunkan oleh Allah dan
Rasul-Nya. Hanya karena perasaan “malu” dan “gengsi” hingga rela
mengorbankan ketaatan kepada Allah; tidak merasa cukup dengan sesuatu
yang telah Allah tetapkan dalam syari’at-Nya. Mereka melonjakkan biaya
nikah, dan mahar yang tidak dianjurkan di dalam agama yang mudah ini.
Akhirnya pernikahan seakan menjadi komoditi yang mahal, sehingga menjadi
penghalang bagi para pemuda untuk menyambut seruan Nabi -Shollallahu
‘alaihi wasallam-
يَا
مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ
وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ
“Wahai
para pemuda! Barang siapa diantara kalian yang telah mampu, maka
menikahlah, karena demikian (nikah) itu lebih menundukkan pandangan dan
menjaga kemaluan. Barang siapa yang belum mampu, maka berpuasalah,
karena puasa akan menjadi perisai baginya“. [HR. Al-Bukhoriy (4778), dan Muslim (1400), Abu Dawud (2046), An-Nasa’iy (2246)]
Rasulullah
-Shollallahu ‘alaihi wasallam- telah menganjurkan umatnya untuk
mempermudah dan jangan mempersulit dalam menerima lamaran dengan
sabdanya,
مِنْ يُمْنِ الْمَرْأَةِ تَسْهِيْلُ أَمْرِهَا وَقِلَّةُ صَدَاقِهَا
“Diantara berkahnya seorang wanita, memudahkan urusan (nikah)nya, dan sedikit maharnya“.
[HR. Ahmad dalam Al-Musnad (24651), Al-Hakim dalam Al-Mustadrok (2739),
Al-Baihaqiy dalam Al-Kubro (14135), Ibnu Hibban dalam Shohih-nya
(4095), Al-Bazzar dalam Al-Musnad (3/158), Ath-Thobroniy dalam
Ash-Shoghir (469). Di-hasan-kan Al-Albaniy dalam Shohih Al-Jami’ (2231)]
Oleh
karena itu, pernah seseorang datang kepada Nabi -Shollallahu ‘alaihi
wasallam- seraya berkata,”Sesungguhnya aku telah menikahi seorang
wanita.” Beliau bersabda, “Engkau menikahinya dengan mahar berapa?”
orang ini berkata:”empat awaq (yaitu seratus enam puluh dirham)”. Maka
Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:
عَلَى
أَرْبَعِ أَوَاقٍ ؟ كَأَنَّمَا تَنْحِتُوْنَ الْفِضَّةَ مِنْ عَرْضِ هَذَا
الْجَبَلِ مَا عِنْدَنَا مَا نُعْطِيْكَ وَلَكِنْ عَسَى أَنْ نَبْعَثَكَ
فِيْ بَعْثٍ تُصِيْبُ مِنْهُ
“Dengan
empat awaq (160 dirham)? Seakan-akan engkau telah menggali perak dari
sebagian gunung ini. Tidak ada pada kami sesuatu yang bisa kami berikan
kepadamu. Tapi mudah-mudahan kami dapat mengutusmu dalam suatu utusan
(penarik zakat) ; engkau bisa mendapatkan (empat awaq tersebut)“. [HR, Muslim(1424)].
Al-Imam
Abu Zakariyya Yahya bin Syarof An-Nawawiy-rahimahullah- berkata tentang
sabda Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- yang kami huruf tebalkan, “Makna ucapan ini, dibencinya memperbanyak mahar hubungannya dengan kondisi calon suami“.[Lihat Syarh Shohih Muslim (6/214)]
Perkara
meninggikan mahar, dan mempersulit pemuda yang mau menikah, ini telah
diingkari oleh Umar -radhiyallahu ‘anhu-. Umar -radhiyallahu ‘anhu-
berkata,
أَلَا
لَا تَغَالُوْا بِصُدُقِ النِّسَاءِ فَإِنَّهَا لَوْ كَانَتْ مَكْرَمَةً
فِيْ الدُّنْيَا أَوْ تَقْوًى عِنْدَ اللهِ لَكَانَ أَوْلَاكُمْ بِهَا
النََّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا أَصْدَقَ رَسُوْلُ اللهِ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اِمْرَأَةً مِنْ نِسَائِهِ وَلَا
أُصْدِقَتْ اِمْرَأَةٌ مِنْ بَنَاتِهِ أَكْثَرَ مِنْ ثِنْتَيْ عَشَرَ
أُوْقِيَةٌ
“Ingatlah,
jangan kalian berlebih-lebihan dalam memberikan mahar kepada wanita
karena sesungguhnya jika hal itu adalah suatu kemuliaan di dunia dan
ketaqwaan di akhirat, maka Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- adalah
orang yang palimg berhak dari kalian. Tidak pernah Nabi -Shollallahu
‘alaihi wasallam- memberikan mahar kepada seorang wanitapun dari
istri-istri beliau dan tidak pula diberi mahar seorang wanitapun dari
putri-putri beliau lebih dari dua belas uqiyah (satu uqiyah sama dengan
40 dirham)” .[HR.Abu Dawud (2106), At-Tirmidzi(1114),Ibnu Majah(1887), Ahmad(I/40&48/no.285&340). Di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Takhrij Al-Misykah (3204)]
Pembaca
yang budiman, pernikahan memang memerlukan materi, namun itu bukanlah
segala-galanya, karena agungnya pernikahan tidak bisa dibandingkan
dengan materi. Janganlah hanya karena materi, menjadi penghalang bagi
saudara kita untuk meraih kebaikan dengan menikah. Yang jelas ia adalah
seorang calon suami yang taat beragama, dan mampu menghidupi
keluarganyanya kelak. Sebab pernikahan bertujuan menyelamatkan manusia
dari perilaku yang keji (zina), dan mengembangkan keturunan yang
menegakkan tauhid di atas muka bumi ini.
Oleh karena itu, Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- perkah bersabda,
ثَلَاثَةٌ
كُلُّهُمْ حَقٌّ عَلَى اللهِ عَوْنُهُ الْغَازِيْ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ
وَالْمُكَاتَبُ الَّذِيْ يُرِيْدُ الْأَدَاءَ وَالنَّاكِحُ الَّذِيْ
يُرِيْدُ التَّعَفُّفَ
“Ada
tiga orang yang wajib bagi Allah untuk menolongnya: Orang yang
berperang di jalan Allah, budak yang ingin membebaskan dirinya, dan
orang menikah yang ingin menjaga kesucian diri”. [HR. At-Tirmidziy
(1655), An-Nasa’iy (3120 & 1655), Ibnu Majah (2518). Di-hasan-kan
oleh Al-Albaniy dalam Takhrij Al-Misykah (3089)]
Orang
tua yang bijaksana tidak akan tentram hatinya sebelum ia menikahkan
anaknya yang telah cukup usia. Karena itu adalah tanggung-jawab orang
tua demi menyelamatkan masa depan anaknya. Oleh karena itu, diperlukan
kesadaran orang tua semua untuk saling tolong-menolong dalam hal
kebaikan. Ingatlah sabda Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam-
إِنَّ الدِّيْنَ يُسْرٌ وَلَنْ يُشَادَّ الدِّيْنَ أَحَدٌ إِلَّا غَلَبَهُ
“Agama adalah mudah dan tidak seorangpun yang mempersulit dalam agama ini, kecuali ia akan terkalahkan“. [HR. Al-Bukhary (39), dan An-Nasa’iy(5034)]
Rasulullah
-Shollallahu ‘alaihi wasallam- memerintahkan umatnya untuk menerapkan
prinsip islam yang mulia ini dalam kehidupan mereka sebagaimana dalam
sabda Beliau,
يَسِّرُوْا وَلَا تُعَسِّرُوْا وَبَشِّرُوْا وَلَا تُنَفِّرُوْا
“permudahlah dan jangan kalian mempersulit, berilah kabar gembira dan jangan kalian membuat orang lari“. [HR.Al-Bukhary(69& 6125), dan Muslim(1734)]
Syaikh
Al-Utsaimin-rahimahullah- berkata, “Kalau sekiranya manusia mencukupkan
dengan mahar yang kecil, mereka saling tolong menolong dalam hal
mahar(yakni tidak mempersulit) dan masing-masing orang melaksanakan
masalah ini, niscaya masyarakat akan mendapatkan kebaikan yang banyak,
kemudahan yang lapang, serta penjagaan yang besar, baik kaum lelaki
maupun wanitanya”.[Lihat Az-Zawaaj]
Sumber : Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 54 Tahun I. dikutip dari http://almakassari.com, Judul asli : Jeritan Anak Muda









