Parameter bahagia
kita kelak di akhirat tidak ditentukan oleh pendidikan akademis, bukan sekedar pasangan, harta, jabatan. Di
alam kubur nanti insyaAllah kita tak akan ditanya berapa nilai rapormu,berapa
rankingmu, berapa IP-mu,kita ditanya,apakah ilmu kita manfaat atau tidak. Kita harus memiliki motivasi sejati, saat motivasi hidup sejati terpatri dalam diri kita, kita tidak akan disibukkan dengan hal-hal sepele, kita tidak akan berbetah-betahan dengan yang namanya kata galau. Kita akan cepat bangkit kembali. InsyAllah....
Subhannallah, Di akirat kita tak akan
ditanya berapa gajimu, apa usahamu,berapa banyak tabungan
rekeningmu.Kita tak akan ditanya seberapa mahal harga mobil kita,seberapa luas
tanah kita,seberapa megah bangunan rumah kita.Kelak yang jadi pertanyaa
akhirat,darimana hartamu kau dapat,dan jalan apa kau belanjakan.lalu pertanyaannya,untuk
apa kita mengumpulkan sebanyak-banyaknya harta jika semua itu justru
memperberat beban kita di alam baqa.Untuk apa kita timbun kekayaam dengan jalan
meremahkan harta yang haram?
Di akhirat kia tak
ditanya,berapa banyak trofi kejuaraan yang kau raih.Kita tak akan ditanya
seberapa banyak tumpukan sertifikat kegiatan yang kita koleksi.kelak yang jadi
pertanyaan mahsyar,adalah terkait prestasi shalat kita,prestasi puasa
kita,prestasi ibadah-ibadah kita.Lalu mengapa kita malah mengejar prestasi dunia
dan malah lupa dengan ibadah ?
Sebagaimana Rasulullah bersabda,” Sabda Nabi saw "Takkan bergeser kedua kaki manusia pada hari kiamat sampai selesai ditanya tentang empat perkara:
1. Tentang umurnya, untuk apa dihabiskan
2. Tentang masa mudanya, untuk apa dipergunakan
3. Tentang hartanya, dari mana diperoleh dan untuk apa dibelanjakan
4. Tentang ilmunya, apa yang sudah diperbuat dengannya. " (HR. Tirmidzi)
Sebagaimana Rasulullah bersabda,” Sabda Nabi saw "Takkan bergeser kedua kaki manusia pada hari kiamat sampai selesai ditanya tentang empat perkara:
1. Tentang umurnya, untuk apa dihabiskan
2. Tentang masa mudanya, untuk apa dipergunakan
3. Tentang hartanya, dari mana diperoleh dan untuk apa dibelanjakan
4. Tentang ilmunya, apa yang sudah diperbuat dengannya. " (HR. Tirmidzi)
Maka saudaraku mari
kita saling mengingatkan,saling menasihatkan.Karena bisa jadi iman di jiwa kita
terus naik dan turun.Kita butuh pengingat,kita perlu hadirnya sahabat yang member
nasihat.Mari kita jadikan segala prestasi dunia hanya sebagai perantara untuk
lebih dekat dengan Allah,lebih taat pada-Nya,lebih aktif memperjuangkan
agama-Nya.
"Jangan sampai perolehan
dunia malah membuat kita semakin sombong,makin cinta dunia,makin lupa
akhirat.Karena bukankah kita hidup di sini hanya untuk mencari bekal
menghadap-Nya.Hanya itu."
Kalau kita begitu
berambisi untuk mengumpulkan sebanyak mungkin harta,mengoleksi sebanyak mungkin penghargaan,mengumpulkan sebanyak
mungkin gelar,lantas karena ambisi-ambisi itu kita melupakan ambisi
akhirat,maka sungguh kita bagaikan orang ang sibuk mencari jarum hingga lupa
bahwa saat sedang mencari jarum itu ia sedang kehilangan perhiasan emasnya.
Maka mari kita menjadi pribadi yang bijak dalam memprioritaskan hidup.Menyadari dengan penuh bahwa dunia adalah ladang tempat kita bercocok tanam.Silahkan menanam apapun di lahan usia kita.Yang pasti,kelak di akhirat kita akan menjalani panen raya.Jika kita tanam kebaikan,maka yang akan kita raih adalah kebahagiaan.Namun jika yang kita tabor adala benih keburukan,maka bersiaplah menuai balasan siksa yang amat pedih dari-Nya
Maka mari kita menjadi pribadi yang bijak dalam memprioritaskan hidup.Menyadari dengan penuh bahwa dunia adalah ladang tempat kita bercocok tanam.Silahkan menanam apapun di lahan usia kita.Yang pasti,kelak di akhirat kita akan menjalani panen raya.Jika kita tanam kebaikan,maka yang akan kita raih adalah kebahagiaan.Namun jika yang kita tabor adala benih keburukan,maka bersiaplah menuai balasan siksa yang amat pedih dari-Nya
"Disarikan dari buku (Jangan sampai Ada dan Tiadamu di Dunia Tak ada Bedanya ) Writter Ahmad Rifai Rifan"

Tidak ada komentar:
Posting Komentar