“Allah SWT telah berfirman : “Sesungguhnya
aku telah melarang semua para Nabi masuk ke dalam surga sebelum engkau
(Muhammad SAW) masuk terlebih dahulu, dan aku juga melarang semua umat
memasuki surga sebelum umatmu memasuki terlebih dahulu.”
Saya merinding membaca firman Allah di atas. Sekaligus bersyukur dan
bangga telah menjadi pengikut Nabi Muhammad. Plus, hari ini saya
menangis, gara-gara membaca sebuah buku. *lebay nggak sih?* .
Iya, saya menangis setelah membaca kisah mengharu biru dan
mengaduk-aduk emosi saya. Emosi yang saya keluarkan itu, bukan emosi
cengeng yang biasa keluar saat membaca buku roman percintaan. Tapi emosi
paling pol yang saya rasakan karena mengetahui betapa mulianya
seorang Nabi yang selama ini kita selalu mengagungkan Beliau,
Rasulullah SAW.
Saya tahu betapa mulianya akhlak Kekasih Allah itu, Muhammad
Rasulullah dari membaca, mengikuti majelis taklim dan acara keagamaan
lainnya. Tapi ya, sekedar tahu saja. Titik. Tidak mengetahui kisah-kisah
betapa “luar biasanya” Nabi Muhammad SAW di kalangan malaikat, sahabat
bahkan semua makhluk ciptaan Allah SAW. Terutama saat beliau akan
meninggal.
Buku Hikmah-hikmah Untuk Menuju Surga, ditulis Drs. Aep Saepulloh MH itulah yang membuat saya berderai air mata. Khususnya kisah Tangisan Abu Bakar dan Hari Wafatnya Rasulullah.
Setelah membaca kisah tersebut, baru terbuka mata hati saya. Betapa
mulia dan agungnya Beliau, bahkan malaikat Izrail pun mesti bertanya
dulu, apakah ia boleh masuk rumah Rasul, tatkala Izrail diperintahkan
Allah mencabut nyawa Rasulullah. Saya beruntung dan bersyukur tiada tara
(sambil berlinang air mata) menjadi salah satu pengikut Rasulullah.
Sangat disayangkan bila kisah mengharukan dan penuh hikmah ini
berlalu begitu saja, tanpa banyak orang yang ikut membaca. Oleh karena
itu, saya tulis di halaman ini. Dan untuk mereka yang pernah membaca
kisahnya, saya berharap bisa mengingatkan kembali. Agar cinta kita pada
Rasulullah tiada putus-putusnya, hingga akhir hayat kita.
Allah SWT berfirman :
“…Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk
(mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah engkau takut kepada mereka
dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk engkau
agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai
Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al-Maidah 5:3)
Diriwayatkan bahwa surat Al-Maidah ayat 3 di atas, turun setelah
waktu Ashar berselang, tepatnya pada hari Jumat di Padang Arafah saat
musim haji penghabisan (haji wada). Ketika itu Rasulullah SAW sedang
berada di atas onta Padang Arafah. Ketika ayat tersebut turun,
Rasulullah kurang begitu mengerti apa isyarat yang berhubungan dengan
turunnya ayat tersebut. Lalu, Beliau bersandar pada ontanya, kemudian
onta Beliau pun duduk secara perlahan-lahan.
Setelah itu turunlah Malaikat Jibril dan berkata :
“Wahai Muhammad, sesungguhnya pada hari ini telah disempurnakan
urusan agamamu, maka terputuslah apa yang diperintahkan oleh Allah SWT
dan demikian juga larangan-larangan-Nya. Oleh karena itu, kumpulkanlah
para sahabatmu dan beritahu mereka, hari ini adalah terakhir aku bertemu
denganmu.”
Kemudian Malaikat Jibril pergi, Rasulullah SAW pun berangkat ke Mekah
dan terus melanjutkan perjalanan ke Madinah. Rasulullah mengumpulkan
para sahabat dan menceritakan apa yang telah dikabarkan Malaikat Jibril
kepada dirinya. Mendengar hal ini, para sahabat pun gembira sambil
berkata :
“Agama kita telah sempurna . Agama kita telah sempurna.”
Tetapi berbeda dengan Abu Bakar Ash-Shidiq, mendengar keterangan
Rasulullah itu, ia tidak kuasa menahan kesedihannya dan langsung pulang
ke rumah. Lalu mengunci pintu rapat-rapat dan menangis sekuat-kuatnya.
Abu Bakar menangis dari pagi hingga malam.
Alam Semesta Ikut Menangis
Kisah tentang Abu Bakar menangis itu kemudian sampai kepada para
sahabat ynag lain. Lalu berkumpullah para sahabat di hadapan rumah Abu
Bakar, dan mereka berkata:
“Wahai Abu Bakar, apakah yang telah membuat engkau menangis seperti
ini? Bukankah, seharusnya engkau gembira sebab agama kita telah
sempurna.”
Mendengar pertanyaan dari para sahabat tersebut, Abu Bakar pun berkata :
“Wahai para sahabatku, kalian tidak tahu tentang musibah yang akan
menimpa kita. Tidakkah engkau tahu, saat suatu perkara itu sempurna,
akan terlihat kekurangannya. Karena itu dengan turunnya ayat tersebut
suatu pertanda telah datang waktu yang sangat menyedihkan, yaitu
sebentar lagi kita akan berpisah dengan Rasulullah SAW. Fatimah menjadi
yatim dan para isteri Nabi menjadi janda.”
Setelah mereka mendengar penjelasan Abu Bakar, sadarlah mereka akan
kebenaran kata-kata Abu Bakar. Mereka pun menangis dengan
sekencang-kencangnya. Tangisan mereka itu kemudian didengar oleh
sahabat-sahabat lainnya, lantas mereka pun memberitahu Rasullah tentang
apa yang terjadi.
Berkatalah salah seorang dari sahabat :
“Ya, Rasulullah, kami baru pulang dari rumah Abu Bakar dan kami
melihat banyak orang sedang menangis dengan suara kuat di rumah beliau.”
Ketika Rasulullah SAW mendengar keterangan dari para sahabat itu,
berubahlah air muka Beliau dan bergegas menuju ke rumah Abu Bakar.
Setelah sampai di rumah Abu Bakar, Beliau melihat semua menangis dan
Beliau pun bertanya :
“Wahai para sahabatku, kenapa kalian menangis?”
Ali bin Abi Thalib berkata :
“Ya, Rasulullah, Abu Bakar mengatakan bahwa dengan turunnya ayat ini
membawa tanda bahwa waktu wafatmu telah dekat. Adakah ini benar ya
Rasulullah?”
Lalu Rasulullah berkata :
“Semua yang dikatakan Abu Bakar adalah benar dan sesungguhnya waktuku untuk meninggalkan kalian semua sudah dekat.”
Setelah Abu Bakar mendengar pengakuan Rasulullah SAW, ia justru
menangis sekuat tenaga, sampai ia jatuh pingsan. Sementara Ali bergetar
kemudian terkapar tubuhnya. Para sahabat lain pun menangis dengan
sekuat-kuat yang mereka mampu. Sehingga gunung-gunung, batu-batu, semua
malaikat yang di langit, cacing-cacing yang menggeliat di bumi dan semua
binatang, baik yang di darat maupun di laut turut menangis.
Kemudian Rasulullah bersalaman dengan para sahabat satu persatu dan berwasiat kepada mereka.
Rasulullah diQishash
Jangka waktu Rasulullah SAW hidup setelah turunya ayat tersebut, ada
yang mengatakan 81 hari, ada yang mengatakan Beliau hidup 50 hari, ada
yang mengatakan hidup selama 35 hari dan ada pula yang mengatakan bahwa
beliau hidup 21 hari.
Pada saat ajal Rasulullah SAW sudah dekat, Beliau menyuruh Bilal
adzan untuk mengerjakan salat. Lalu berkumpullah para Muhajirin dan
Anshar di Masjid Rasulullah. Kemudian Beliau menunaikan salat dua rakaat
bersama semua yang hadir. Setelah selesai salat, Beliau bangkit lalu
naik ke atas mimbar, seraya berkata :
“Alhamdulillah, wahai para muslimin, sesungguhnya saya adalah seorang
nabi yang diutus dan mengajak manusia kepada jalan Allah dengan
ijin-Nya. Saya ini adalah saudara kandung kalian, kasih sayangku pada
kalian seperti seorang ayah pada anaknya. Oleh karena itu kalau ada
siapapun di antara kalian yang mempunyai hak untuk menuntut, maka
hendaklah ia berdiri dan membalasku, sebelum saya dituntut di hari
kiamat.”
Rasulullah berkata demikian sebanyak 3 kali, kemudian bangkitlah seorang lelaki bernama ‘Ukasyah bin Muhshan dan berkata :
“Demi ayahku dan ibuku ya, Rasulullah SAW, kalau anda tidak
mengumumkan kepada kami berkali-kali soal ini, sudah tentu saya tidak
mau mengemukakan hal ini.”
Lalu ‘Ukasyah berkata lagi :
“Sesungguhnya dalam Perang Badar saya turut bersamamu ya Rasulullah,
pada saat itu saya mengikuti onta Anda dari belakang. Setelah dekat,
saya pun turun menghampiri Anda dengan tujuan supaya saya dapat mencium
paha Anda. Tetapi Anda telah mengambil tongkat dan memukul onta Anda
untuk berjalan cepat. Pada saat itu saya pun Anda pukul dan pukulan itu
mengenai tulang rusuk saya. Oleh karena itu saya ingin tahu, apakah Anda
sengaja memukul saya atau hendak memukul onta tersebut.”
Rasulullah berkata :
“Wahai ‘Ukasyah, saya sengaja memukul engkau.”
Kemudian Rasulullah SAW berkata kepada Bilal:
“Wahai Bilal, pergilah engkau ke rumah Fatimah dan ambilkan tongkatku.”
Saat keluar dari masjid menuju rumah Fatimah, ia meletakkan tangannya di atas kepala seraya berkata :
“Rasulullah SAW telah mempersiapkan dirinya untuk dibalas (diqishash).”
Ketika Bilal sampai di rumah Fatimah, Bilal memberi salam dan mengetuk pintu. Kemudian Fatimah menyahut dengan berkata :
“Siapakah yang ada di pintu?”
Bilal menjawab :
“Saya Bilal, saya telah diperintah Rasulullah untuk mengambil tongkat Beliau.”
Kemudian Fatimah berkata :
“Wahai Bilal untuk apa ayahku minta tongkatnya.”
Berkata Bilal :
“Wahai Fatimah Rasulullah telah menyiapkan dirinya untuk diqishash.”
Fatimah berkata lagi :
“Wahai Bilal siapakah manusia yang sampai hati mengqishash Rasulullah SAW?”
Bilal tidak menjawab pertanyaan Fatimah. Setelah Fatimah memberikan
tongkat tersebut, Bilal pun membawa tongkat itu ke hadapan Rasulullah
SAW.
Pembelaan Para Sahabat
Setelah Rasulullah SAW menerima tongkat tersebut dari Bilal, beliau
pun menyerahkan pada ‘Ukasyah. Melihat kejadian mengharukan ini, Abu
Bakar dan Umar bin Khattab tampil ke hadapan sambil berkata :
“ ‘Ukasyah janganlah engkau qishash Baginda Nabi, tetapi engkau qishashlah kami berdua.”
Ketika Rasulullah SAW mendengar kata-kata Abu Bakar dan Umar, dengan segera Beliau berkata :
“Wahai Abu Bakar, Umar, duduklah engkau berdua, sesungguhnya Allah SWT telah menetapkan tempatnya untuk engkau berdua.”
Kemudian Ali berdiri, lalu berkata :
“Wahai ‘Ukasyah! Aku adalah orang yang senantiasa berada di samping
Rasulullah SAW, oleh karena itu, engkau pukullah aku dan janganlah
engkau mengqishash Rasulullah.”
Lalu Rasulullah SAW berkata :
“Wahai Ali, duduklah engkau, sesungguhnya Allah SWT telah menetapkan tempatmu dan mengetahui isi hatimu.”
Setelah itu Hasan dan Husein berdiri dan berkata :
“Wahai ‘Ukasyah, bukankah engkau tahu bahwa kami ini adalah cucu Rasulullah, kalau engkau mengqishash kami sama dengan engkau mengqishash Rasululullah SAW.”
Mendengar kata-kata dari cucunya, Rasulullah SAW pun berkata :
“Wahai buah hatiku, duduklah engkau berdua.”
Berkata Rasulullah SAW :
“Wahai ‘Ukasyah pukullah saya kalau engkau hendak memukul.”
Kemudian ‘Ukasyah berkata :
“Ya, Rasulullah SAW, Anda telah memukul saya sewaktu saya tidak memakai baju.”
Lantas, Rasulullah pun membuka baju. Setelah Beliau membuka baju, menangislah semua yang hadir.
Setelah ‘Ukasyah melihat tubuh Rasulullah SAW, ia pun mencium Beliau dan berkata :
“Saya tebus Anda dengan jiwa saya, ya Rasulullah SAW. Siapakah yang
sanggup memukul Anda? Saya melakukan ini karena saya ingin menyentuh
(memeluk) tubuh Anda yang dimuliakan oleh Allah SWT dengan badan saya.
Dan semoga Allah SWT menjaga saya dari neraka atas kehormatanmu.”
Kemudian Rasulullah SAW berkata :
“Dengarlah engkau sekalian, sekiranya engkau hendak melihat ahli surga, inilah orangnya.”
Kemudia semua para sahabat bersalam-salaman atas kegembiraan mereka
terhadap peristiwa yang sangat genting itu. Setelah itu para sahabat pun
berkata :
“Wahai ‘Ukasyah, inilah keuntungan yang paling besar bagimu, engkau
telah memperoleh derajat tinggi dan bertemankan Rasulullah SAW dalam
surga.”
Wasiat Rasulullah SAW
Ketika ajal Rasulullah makin dekat, Beliau pun memanggil para sahabat ke rumah Siti Aisyah dan Beliau bersabda:
“Selamat datang, semoga Allah SWT mengasihi kalian, saya berwasiat kepada
kalian agar senantiasa bertakwa kepada Allah SWT dan mentaati segala
perintah-Nya. Sesungguhnya hari perpisahan saya dengan kalian sudah
dekat, itu berarti semakin dekat pula kembalinya seorang hamba kepada
Allah SWT dan menempatkannya di surga-Nya.
“Kalau sampai ajalku, hendaklah Ali yang memandikanku, Fadhl bin Abas
hendaklah menuangkan air dan Usamah bin Zaid hendaklah menolong
keduanya. Setelah itu kafanilah aku dengan pakaianku sendiri. Jika
kalian menghendaki, kafanilah aku dengan kain Yaman yang putih. Jika
engkau memandikan aku, hendaklah engkau letakkan aku di atas balai
tempat tidurku dalam rumahku ini. Setelah itu kalian keluarlah sebentar
meninggalkan aku.”
“Pertama yang akan menshalati aku ialah Allah SWT, kemudian diikuti
oleh malaikat Israfil, Malaikat Mikail dan yang terakhir malaikat Izrail
beserta dengan semua para pembantunya. Setelah itu, barulah kalian
masuk semua mensalatiku.”
Setelah para sahabat mendengar ucapan yang sungguh menyayat hati itu, mereka pun menangis dengan suara yang keras dan berkata :
“Ya, Rasulullah SAW Anda adalah seorang Rasul yang diutus kepada kami
dan untuk semua, selama ini Anda memberi kekuatan pada kami dan Anda
pula pemimpin yang mengurus semua perkara kami. Apabila Anda sudah tiada
nanti, kepada siapakah kami bertanya setiap ada persoalan muncul?.”
Kemudian Rasulullah SAW bersabda :
“Dengarlah para sahabatku, aku tinggalkan kepada kalian jalan yang
benar dan jalan yang terang, dan telah aku tinggalkan dua penasehat.
Yang satu pandai bicara dan yang satu lagi diam saja. Yang pandai bicara
itu adalah Alquran dan yang diam itu ialah maut. Apabila ada persoalan
yang sulit dan berbelit di antara kalian, hendaklah kalian kembali
kepada Alquran dan Hadistku dan sekiranya hati engkau keras, lembutkan
dia dengan mengambil pelajaran dari mati.”
Setelah Rasulullah SAW berkata demikian, Beliau kemudian mulai
merasakan sakit. Dalam bulan Safar Rasulullah sakit selama 18 hari dan
sering diziarahi para sahabat.
Dalam sebuah kitab diterangkan, bahwa Rasulullah diutus pada Hari
Senin dan wafat pada Hari Senin. Pada Hari Senin penyakit Beliau
bertambah berat. Setelah Bilal selesai adzan subuh, Bilal pun pergi ke
rumah Rasulullah SAW. Sampai di sana, Bilal memberi salam :
“Assalamu’alaika ya Rasulullah.”
Lalu dijawab Fatimah :
“Rasulullah SAW masih sibuk dengan urusan Beliau.”
Setelah Bilal mendengar penjelasan dari Fatimah, Bilal pun kembali ke
masjid tanpa memahami kata-kata Fatimah itu. Ketika waktu subuh hampir
habis, Bilal pergi sekali lagi ke rumah SAW dan memberi salam seperti
tadi. Kali ini salam Bilal telah didengar Rasulullah SAW. Baginda
berkata :
“Masuklah wahai Bilal, sesungguhnya penyakitku ini semakin berat,
oleh karena itu, kau suruhlah Abu Bakar mengimami salat subuh berjamaah
dengan mereka yang hadir.”
Setelah mendengar kata-kata Rasulullah, Bilal pun berjalan menuju
masjid sambil meletakkan tangan di atas kepala, seraya berkata :
“Aduh musibah.”
Setelah Bilal sampai di masjid, Bilal pun memberitahu Abu Bakar tentang apa yang telah Rasulullah SAW katakan kepadanya.
Abu Bakar tidak dapat menahan dirinya saat ia melihat mimbar kosong.
Lantas dengan suara keras Abu Bakar menangis hingga ia jatuh pingsan.
Melihat peristiwa itu maka riuhlah dalam masjid, sehingga Rasulullah
bertanya kepada Fatimah :
“Wahai Fatimah apa yang telah terjadi?”
Fatimah pun berkata :
“Keriuhan kaum muslimin, sebab Anda tidak pergi ke masjid.”
Kemudian Rasulullah SAW memanggil Ali dan Fadhl bin Abas, lalu beliau
bersandar pada kedua bahu mereka dan terus pergi ke masjid. Setelah
sampai di masjid, Rasulullah pun salat subuh bersama dengan para jamaah.
Setelah selesai salat subuh, Beliau berkata :
“Wahai kaum muslimin, kalian senantiasa dalam pertolongan dan
penjagaan Allah. Oleh karena itu, hendaklah kalian bertakwa kepada Allah
SWT dan mengerjakan segala perintah-Nya. Sesungguhnya aku akan
meninggalkan dunia ini dan kalian. Hari ini adalah hari pertamaku di
akhirat dan hari terakhirku di dunia.”
Setelah berkata demikian, Rasulullah SAW pun pulang ke rumah.
Izrail Menjemput Rasulullah
Kemudian Allah SWT mewahyukan kepada Malaikat Izrail :
“Wahai Izrail, pergilah engkau kepada kekasihku dengan sebaik-baik
wajah, dan jika engkau hendak mencabut rohnya, hendaklah engkau
melakukan dengan cara yang paling lembut sekali. Jika engkau pergi ke
rumahnya, minta izinlah terlebih dahulu. Kalau ia izinkan engkau masuk,
maka masuklah engkau ke rumahnya dan kalau ia tidak izinkan engkau
masuk, hendaklah engkau kembali padaku.”
Setelah Malaikat Izrail mendapat perintah dari Allah SWT, Malaikat
Izrail pun turun menyerupai orang Arab Baduwi. Setelah Malaikat Izrail
sampai di hadapan rumah Rasulullah, ia pun memberi salam :
“Assalamu’alaikum yaa ahla bait nubuwwati wa ma danir risaalatia adkhulu?” (mudah-mudahan keselamatan tetap untuk kalian, wahai penghuni rumah Nabi dan sumber risalah, bolehkah saya masuk?)
Ketika Fatimah mendengar ada orang memberi salam, ia pun berkata :
“Wahai hamba Allah, Rasulullah SAW sedang sibuk, sebab sakitnya yang semakin berat.”
Kemudian Malaikat Izrail berkata lagi seperti semula, dan kali ini
seruan malaikat itu telah didengar oleh Rasulullah SAW, lantas beliau
bertanya kepada Fatimah :
“Wahai Fatimah, siapakah di depan pintu itu.”
Fatimah menjawab :
“Ya Rasulullah, ada seorang Arab Baduwi memanggilmu, aku telah
katakan padanya bahwa Anda sedang sibuk sebab sakit, sebaliknya dia
memandang saya dengan tajam sehingga badan saya terasa menggigil.”
Kemudian Rasulullah SAW berkata :
“Wahai Fatimah, tahukah engkau siapakah orang itu?”
Jawab Fatimah : “Tidak ayah.”
“Dia adalah Malaikat Izrail , malaikat yang akan memutuskan segala
macam nafsu syahwat yang memisahkan perkumpulan-perkumpulan dan yang
memusnahkan semua rumah serta meramaikan kubur.”
Fatimah tidak dapat menahan air matanya lagi setelah mengetahui,
bahwa saat perpisahan dengan ayahandanya semakin dekat, ia pun menangis
sejadi-jadinya.Ketika Rasulullah mendengar tangisan Fatimah, Beliau pun
berkata :
“Janganlah engkau menangis wahai Fatimah, engkaulah orang pertama dalam keluargaku yang akan bertemu denganku.”
Kemudian Rasulullah SAW pun menjemput Malaikat Izrail masuk. Malaikat Izrail pun masuk dengan mengucap :
“Assalamu’alaikum ya Rasulullah.”
Lalu Rasulullah SAW menjawab :
“Waalaikassaalam, wahai Izrail, engkau datang menziarahi aku atau untuk mencabut rohku?”
Berkata malaikat Izrail :
“Kedatangan saya adalah untuk menziarahimu dan untuk mencabut rohmu,
itupun kalau engkau izinkan. Kalau tidak engkau izinkan, aku akan
kembali.”
Berkata Rasulullah SAW :
“Wahai Izrail, dimanakah engkau tinggalkan Jibril?”
Berkata Izrail :
“Saya tinggalkan Jibril di langit dunia, semua para malaikat sedang memuliakan dia.”
Tidak berapa lama, Jibril pun turun dan duduk dekat (di samping)
kepala Rasulullah SAW. Ketika Rasulullah SAW melihat kedatangan Jibril,
Beliau pun berkata :
“Wahai Jibril, tahukah engkau bahwa ajalku sudah dekat.”
Berkata Jibril : “Ya aku tahu.”
Rasulullah bertanya lagi : “Wahai Jibril, beritahu kepadaku kemuliaan yang menggembirakanku di sisi Allah SWT.”
Berkata Jibril :
“Sesungguhnya semua pintu langit telah dibuka, para malaikat berbaris
rapi menanti rohmu di langit. Semua pintu surga telah dibuka, dan semua
para bidadari sudah berhias menanti kehadiran rohmu.”
Berkata Rasulullah SAW :
“Alhamdulillah. Sekarang engkau katakan tentang umatku di hari kiamat nanti.”
Berkata Jibril :
“Allah SWT telah berfirman : “Sesungguhnya aku telah melarang
semua para Nabi masuk ke dalam surga sebelum engkau masuk terlebih
dahulu, dan aku juga melarang semua umat memasuki surga sebelum umatmu memasuki terlebih dahulu.”
Berkata Rasulullah SAW:
“Sekarang aku telah lega dan telah hilang rasa susahku. Wahai Izrail, dekatlah engkau padaku.”
Setelah itu Malaikat Izrail pun mengawali tugasnya. Ketika rohnya sampai pada ubun-ubun (pusat), Rasulullah SAW pun berkata :
“Wahai Jibril, alangkah dahsyatnya kematian itu.”
Jibril nampak mengalihkan pandangan dari Rasulullah SAW, ketika
mendengar kata-kata Beliau. Melihat sikap Jibril itu Rasulullah SAW pun
berkata :
“Wahai Jibril, apakah engkau tidak suka melihat wajahku?”
Jibril berkata :
“Wahai kekasih Allah, siapakah orang yang sanggup melihat wajahmu di kala engkau dalam sakaratul maut ?”
Anas bin Malik RA bercerita, ketika roh Rasulullah SAW sampai di dada, Beliau bersabda :
“Aku wasiatkan kepada engkau agar kalian menjaga salat dan apa-apa yang telah diperintahkan kepadamu.”
Ali bin Abi Thalib berkata :
“Sesungguhnya Rasulullah ketika menjelang saat terakhir, telah
menggerakkan kedua bibir Beliau sebanyak dua kali, dan saya meletakkan
telinga saya dekat dengan Rasulullah, seraya Beliau berkata :
“Umatku, umatku.”
Kemudian Rasulullah bersabda :
“Malaikat Jibril telah berkata kepadaku: Wahai Muhammad, sesungguhnya
Allah SWT telah menciptakan sebuah laut di belakang gunung Qaf,
dan di laut itu terdapat ikan yang selalu membaca shalawat untukmu,
barang siapa yang mengambil seekor ikan dari laut tersebut, maka akan
lumpuhlah kedua belah tangannya dan ikan tersebut akan menjadi batu.”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar