“inilah aksi beberapa orang yang rela berkorban demi
keselamatan orang lain meskipun harus kehilangan nyawa sendiri....”
Rara duduk di depan tv sambil menyimak berita yang
disampaikan. Umminya duduk di belakang Rara di sebuah kursi malas dari rotan,
umminya sedang merajut sebuah kaus kaki. Sesekali umminya melihat ke arah tv
dan melihat berita sambil menggerak-gerakkan bahu dan tangannya yang pegal.
“ummi, kenapa orang-orang itu mau ya mengorbankan nyawanya
sendiri buat orang lain?” Tiba-tiba Rara duduk dan bicara di dekat umminya.
“bantu orang lain itu dapat pahala sayang, itu adalah
sebuah kebaikan dan kemuliaan. Rela berkorban demi orang lain itu adalah salah
satu sifat para sahabat rasulullah” ummi mengelus kepala Rara.
“Tapi coba deh ummi lihat padahalkan mereka masih
bisa hidup kalau nggak bantuin orang lain”
Ummi tersenyum akan pertanyaan putrinya. Ummi lalu
menghentikan aktifitasnya dan mengajak Rara duduk di teras rumah yang diterpa
angin senja yang sejuk. Ummi lalu merangkulkan tangannya di bahu Rara.
“Rara anak ummi yang paling ummi sayang, kalau suatu
saat ummi jatuh ke dalam sungai dan ummi tidak bisa berenang Rara mau berbuat
apa?”
“ya tolongin ummi dong” jawab Rara cepat
“nah, begitu juga dengan orang-orang di TV tadi.
Mereka ingin membantu keluarga yang mereka kasihi sayang”
“tapi ada juga yang bukan keluarganya sendiri tetap
juga dibantu”
“hm, Rara suka kucing kan?! Kalau Rara ketemu
kucing sedang terbawa arus sungai Rara mau berbuat apa?”
“bantuin kucing itu ummi, kan kasihan dia nggak bisa
berenang” jawab Rara polos
“kenapa? Kalau Rara yang hanyut gimana?”
“hm....tapi Rara bisa berenang ummi”
“kalau Rara misalnya nggak bisa berenang, apa Rara
mau biarkan kucingnya hanyut begitu sajakah?”
“hm nggak ummi, kasihan kucingnya. Rara akan
berusaha minta bantu sama orang lain. Kalau dibiarkan saja Rara pasti gelisah
sekali mikirin nasib kucing itu”
“Rara sayang, kalau sama kucing saja Rara punya
rasa iba dan kasih apalagi kepada sesama manusia ciptaan Allah. Ketika kita
punya kemampuan untuk menolong dan membantu maka hati kecil kita akan
menggerakkan kita untuk membantu begitulah kodrat kita sebagai ciptaan Allah”
“Terus kalau mereka yang kehilangan nyawa itu masih
punya keluarga gimana? Kan kasihan keluarganya. Malah nolong yang lain”.
“tadi kan ummi nanya kalau ummi jatuh ke sungai Rara
mau bantu selamatkan ummi, iya kan?!. Nah apa Rara nggak mau menyelamatkan
diri juga supaya bisa sama-sama ummi pulang ke rumah?”
“ya, mau lah ummi”
“begitu juga dengan mereka sayang, mereka berusaha
menyelamatkan orang lain tapi mereka sendiri juga tidak berharap kehilangan
nyawa mereka. Mereka juga berusaha untuk menyelamatkan diri. Namun karena
kemuliaan hatinya mereka lebih mendahulukan yang lain tanpa mementingkan diri
sendiri. Sungguh nyawa seseorang adalah milik Allah sayang. Meskipun tidak
membantu menyelamatkan orang lain, jika ajal kita sudah datang maka ia akan
datang dengan cara yang tidak kita ketahui. Pengorbanan ummi dalam melahirkan
anaknya juga bisa dijadikan contoh, meski kesakitan tapi ummi tetap berusaha
melahirkan anaknya dengan harapan ia masih tetap kuat untuk hidup dan dapat
melihat serta membesarkan anaknya kelak. Dan masih banyak contoh yang lain
pengornanan juga tidak harus kehilangan nyawa sayang, jika bisa selamat semua
itu pasti lebih membahagiakan”
Ummi lalu memegang pipi Rara dengan telapak
tangannya
“Rara tahu apa yang paling istimewa lagi dari
orang-orang tersebut? Mereka meninggal
dengan syahid sayang. Dan balasan bagi kesyahid-an adalah surganya Allah”
“benar ummi?! Wah mulia sekali mereka. Kalau begitu Rara mau bantu orang lain juga ah”
“eit, bantu sesuai kemampuan ya. Perbuatan sia-sia
itu juga tidak berguna lho..”
“sip ummi, makasih ya ummi sudah ngajarin Rara
tentang pengorbanan” Rara memeluk umminya.
“sifat saling membantu, menolong,
tidak mementingkan diri sendiri harus dipupuk dari usia dini agar kita dapat
mengamalkan dengan baik dalam kehidupan kini dan nanti”.
#Halaman Perempuan







0 komentar:
Posting Komentar