Sabtu, 31 Januari 2015
Perkembangan Otak Anak
06.18
No comments
Dari
usia tiga sampai sembilan tahun, otak menggunakan lebih banyak energi
dibanding kurun waktu lain dalam hidup. Inilah saatnya perkembangan otak
pada balita terjadi.
Pada otak anak
usia 3 tahun, terbentuk milyaran sel disebut neuron, yang mengirim dan
menerima informasi. Tugasnya lima tahun ke depan adalah mengelola neuron
ini jadi jaringan sambungan berkecepatan tinggi yang mengontrol emosi,
pikiran, dan gerakan. Pengelolaan seperti ini butuh seabrek upaya: Dari
usia tiga sampai sembilan tahun, otak menggunakan lebih banyak energi
dibanding kurun waktu lain dalam hidup.
Para pakar mendeskripsikan otak anak
seperti ‘plastik’. Artinya, otak sangat elastis alias luwes dalam
perubahan, dan pengalaman itu secara fisik mengubah, atau mengarahkan,
perkembangan sambungan antara bagian otak yang berbeda. (Ini terjadi
pada orang dewasa, juga, tapi dalam tahap yang jauh berbeda.) Sambungan
yang paling sering digunakan–seperti yang membuat anak
berjalan dan berbicara–meluas dan menguat. Sementara itu, perubahan
fisik lain terjadi sehingga pesan-pesan dalam otak yang dikirimkan makin
cepat sampai dan lebih efisien. Hasilnya: Tindakan anak Anda butuh lebih sedikit pikiran, dan pikiran itu sendiri jadi lebih cepat.
“Anda bisa tahu jika sambungan otak jenis ini mulai terbentuk,” kata Jane Healy, Ph.D., penulis dari Your Child’s Growing Mind: Brain Development and Learning From Birth to Adolescence. “Tiba-tiba anak mulai menanyakan hal-hal baru dan menggunakan kata-kata baru.”
Pada usia dua sampai tiga tahun, ada peningkatan aktivitas pada dua area utama otak yang memroses bahasa, hal ini terbukti dari meningkatnya secara drastis kosa kata anak prasekolah–mulai dari sekitar 900 kata sampai 2.500-3.000 kata sebelum mencapai umur lima tahun.
Di saat bersamaan, sambungan saraf yang tidak digunakan akan mati dalam proses yang dikenal sebagai pruning. Kedengarannya sih seram, tapi pruning merupakan proses alami dan perlu. Awalnya, otak manusia memiliki jauh lebih banyak sambungan dari yang dibutuhkan anak
(atau orang dewasa), termasuk, umpamanya, yang berkaitan dengan
kemampuan melafalkan bunyi semua bahasa di dunia. Dan, jangan pikir
ekstra sambungan berarti makin tingginya kecerdasan: Bila sambungan yang
tak terpakai itu tidak dibuang, otak pun kacau dan tidak bisa berfungsi
dengan baik, kata Healy.
Pengalaman
Miranda Gunawan, ibu Kristo (enam tahun) dan Karin (delapan tahun),
yang bermukim di Bintaro, Jakarta Selatan, cukup menarik disimak. “Sejak
usia lima tahun, Karin sangat pintar ‘menarikan’ jari-jemari mungilnya
di atas keyboard. Sementara Kristo, sudah setahun lebih les
musik, tapi tidak menunjukkan perkembangan berarti. Tapi, dalam urusan
olahraga, seperti bulutangkis, Kristo benar-benar berbakat. Tidak
demikian halnya dengan Karin,” ceritanya.
Faktanya nih, tiap anak
akan mengembangkan keunikan otak masing-masing. Semua jenis
keterampilan (bermain musik atau olahraga), plus setiap pikiran,
perasaan, dan pengalaman akan berinteraksi dengan bekal genetis yang
dimiliki dan menciptakan jaringan otak tersendiri.
Minggu, 25 Januari 2015
Mengasah Bakat Anak Sejak Kecil
06.39
No comments
Bakat seseorang sebetulnya sudah dapat terlihat pada saat berusia
dini, keuntungan nya kita bisa melihat bakat seseorang sedari kecil
adalah kita bisa mengasah atau mempertajam bakat itu sedari dini.
Diharapkan bakat itu menjadi lebih tajam saat anak beranjak dewasa. Kita
para orang tua bisa memperhatikan tingkah laku anak-anak di rumah
sehari-hari, misal nya anak perempuan yang sedari kecil senang
bernyanyi, kita bisa arahkan agar hobi bernyanyi nya menjadi lebih baik,
seperti contohnya memberikan cd lagu anak-anak atau lain nya. Jika kita
mengetahui bakat anak sedari dini, kita mempunyai banyak waktu untuk
memupuk bakat itu hingga dewasa, kita bisa arahkan dari mulai permainan
yang digemari, jika anak hobi bernyanyi kita bisa belikan mainan karoke
misalnya. Jika anak mempunyai hobi menggambar, bisa kita belikan alat
tulis yang bagus. dan selain itu jika anak sudah bersekolah kita bisa
mengarahkan anak itu untuk mengikuti ekstrakulikuler yang sejalan dengan
hobinya.
Untuk itulah selagi masih ada waktu, dan selagi anak berusia dini, kita harus serius mendidik mereka. jangan sia-siakan waktu kita hanya untuk mengerjakan hal yang tidak berguna, sejak kecil kita harus sudah mulai mendidik mereka, tapi tentu pelajaran yang di berikan harus sesuai umur anak tersebut, jika masih berusia dini cukup lah mendidik anak sambil mengajak bermain, tidak perlu menyediakan waktu khusus belajar, hanya di sela-sela pemainan itu kita bisa sisipkan pelajaran-pelajaran yang ringan.
Sabtu, 17 Januari 2015
8 Jenis Makanan yang Bisa Mendukung Kecerdasan Otak Anak
08.00
No comments
Masa
pertumbuhan dari bayi hingga remaja merupakan waktu yang paling tepat
untuk merangsang perkembangan anak, termasuk juga perkembangan
kecerdasan otaknya. Ada banyak faktor yang mempengaruhi kecerdasan
anak, mulai dari faktor keturunan, lingkungan dan pastinya asupan
makanan yang ia peroleh. Nah jika Bunda ingin si kecil tumbuh menjadi
anak yang cerdas, berikanlah ia asupan makanan yang bergizi agar nutrisi
otaknya dapat terpenuhi. Berikut makanan-makanan terbaik yang bisa
merangsang perkembangan dan kecerdasan otak anak.
1. Produk susu
Susu baik itu ASI maupu susu formula merupakan minuman sehat yang
kaya akan sumber nutrisi seperti protein, kalsium, kalium, vitamin B dan
D yang berperan sebagai nutrisi penting yang berperan dalam
pertumbungan jaringan otak, neurotransmitter dan juga enzim. Anak-anak,
mulai dari bayi hingga usia remaja yang sedang dalam proses pertumbuhan
sangat membutuhkan manfaat susu.
Selain dikonsumsi dalam bentuk susu, Bunda juga bisa memberikan
manfaat susu kepada buah hati Bunda dalam bentuk lain seperti yogurt dan
keju.
2. Buah beri
Buah-buahan jenis beri seperti strawberry, raspberry, blueberry dan
sebagainya mengandung banyak nutrisi yang penting untuk perkembangan
otak. Bahkan beberapa penelitian menunjukkan bahwa strawberry dan
blueberry dapat memperbaiki fungsi daya ingat otak, sehingga dapat
meningkatkan kemampuan daya ingat si kecil. Tidak hanya daging buahnya
saja yang bermanfaat, biji buah beri ternyata juga mengandung asam lemak
omega 3 yang selama ini sudah dikenal sebagai salah satu nutrisi yang
berperan dalam perkambangan kecerdasan anak. Selain itu, antioksidan dan
vitamin C yang terkandung di dalamnya, juga dapat mengurangi stres
serta berperan dalam meningkatkan kekebalan tubuh dan mencegah penyakit
yang berbahaya seperti kanker.
3. Telur
Telur merupakan sumber protein yang paling mudah di dapatkan dan
mudah diolah. Selain harganya yang murah, telur juga dapat divariasikan
menjadi berbagai makanan yang menarik untuk si kecil. Kuning telur
diketahui mengandung kolin yang dapat membantu perkembangan otak,
terutama perkembangan fungsi memori atau daya ingat. Zat ini akan
meningkatkan produksi sel induk memori di otak, dan juga membuat anak
tidak mudah lelah. Namun konsumsi telur juga tidak boleh terlalu
berlebihan, usahakan cukup berikan satu butir telur kepada si kecil
setiap harinya. Karena kuning telur juga mengandung kolesterol yang
tidak baik bagi kesehatan si kecil jika dikonsumsi secara berlebihan.
Dengan alat ini, Bunda dapat memasak telur dengan lebih mudah dan bervariasi
4. Kacang
Jika si kecil suka ngemil, berikanlah ia cemilan yang sehat seperti kacang-kacangan.
Kacang merupakan salah satu makanan yang kaya akan vitamin E dan
antioksidan yang dapat berperan sebagai pelindung sel-sel otak terhadap
radikal bebas. Selain baik untuk kemampuan berpikir, kacang juga bisa
menjadi sumber energi yang baik karena kandungan vitamin E dan thiamin
di dalamnya dapat mengubah glukosa menjadi energi yang dibutuhkan oleh
tubuh. Bahkan dari salah satu penelitian, diketahui bahwa kacang merah
mengandung banyak asam lemak omega 3, khususnya ALA yang penting bagi
pertumbuhan dan perkembangan fungsi otak.
5. Gandum utuh dan beras merah
Biji-bijian dengan karbohidrat komplek seperti beras merah dan gandum
utuh atau oat meal, terbukti mengandung glukosa dan vitamin B yang baik
untuk kecerdasan otaknya karena berfungsi memelihara sistem saraf.
Dalam hal ini, vitamin B berfungsi dalam meningkatkan aliran darah ke
seluruh sistem saraf, yang berguna untuk memberikan pasokan ke seluruh
organ tubuh yang aktif, salah satunya otak. Selain itu, gandum utuh juga
kaya akan vitamin E, potasium dan zinc yang mendukung tubuh dan otak
untuk bekerja secara seimbang dan optimal. Kandungan seratnya yang
tinggi pun akan sangat baik bagi kesehatan anak, terutama kesehatan
organ pencernaannya.
Jadi mulai dari sekarang, gantilah nasi putih yang biasa Bunda
sajikan kepada si kecil saat sarapan dengan oat meal, agar nutrisi yang
dibutuhkan oleh otaknya dapat terpenuhi. Jika ia tidak menyukai oatmeal,
Bunda bisa menggantikannya dengan sereal dengan tambahan susu putih
atau susu cokelat, yang biasanya lebih digemari oleh anak-anak.
6. Ikan
Memang sudah tidak bisa dipungkiri bahwa hampir semua jenis ikan
terutama Salmon, sangat baik untuk perkembangan dan kecerdasan otak
anak. Tidak heran jika banyak produsen yang mengeluarkan produk untuk
perkembangan anak, menggunakan ikan sebagai bahan utama pembuatan produk
mereka, salah satunya minyak ikan.
Bahkan penelitian pun telah membuktikan bahwa anak yang mengonsumsi
ikan akan memiliki daya ingat dan kemampuan nalar yang lebih tajam
dibanding dengan anak yang tidak mengonsumsi ikan. Selain tinggi akan
protein, salmon juga mengandung DHA dan EPA yang merupakan sumber utama
asam lemak omega 3.
7. Sayuran berwarna
Bahan makanan alami yang berwarna cerah seperti wortel, tomat dan
bayam merupakan makanan yang kaya akan segudang nutrisi, salah satunya
kandungan antioksidan yang sangat tinggi. Semakin cerah dan segar warna
sayuran, maka semakin tinggi pula kandung antioksidannya. Antioksidan
dan nutrisi baik lain yang terkandung pada sayuran berwarna
dapat mendorong sel-sel otak untuk berkembang menjadi lebih kuat dan
sehat, yang akhirnya juga dapat menunjang kecerdasan otak anak.
Namun sayangnya sebagian besar anak kecil
cenderung tidak menyukai sayuran. Nah bagi Bunda yang juga mengalami
kesulitan dalam memberikan sayuran segar kepada si kecil, Bunda dapat
memvariasikan menu dan menyamarkan bentuk sayuran tersebut. Misalnya
jika buah hati Bunda menyukai cup cake, Bunda dapat mencampurkan parutan
wortel ke dalam adonan cup cake tersebut. Selain itu, Bunda juga dapat
membentuk sayuran-sayuran menjadi bentuk-bentuk yang unik dan lucu,
seperti bentuk kartun kesukaannya.
Membentuk makanan dengan Cetakan Panda yang lucu ini pastinya akan membuat si kecil lebih bersemangat untuk melahap makananannya
8. Daging sapi bebas lemak
Daging sapi tanpa lemak bisa Bunda jadikan sebagai sumber zat besi,
yang merupakan salah satu mineral esensial yang akan membantu anak untuk
tetap berenergi dan berkonsentrasi saat belajar di sekolah. Bahkan
makanan ini merupakan sumber zat besi terbaik yang paling mudah diserap
oleh tubuh. Kandungan zinc yang terdapat pada daging sapi tanpa lemak
ini juga akan membantu memelihara daya ingat dan kecerdasan otak si
kecil.
Kamis, 15 Januari 2015
Pentingnya Keterlibatan Orang Tua Dalam Perkembangan Anak
08.16
No comments
Pentingnya Memahami Perkembangan Anak
Masa balita merupakan
masa emas (golden age) bagi anak. Di masa ini, anak mengalami tumbuh kembang
yang luar biasa, baik dari segi fisik, emosi, kognitif maupun psikososial. Apa
sebaiknya yang dilakukan orang tua?
Perkembangan anak
adalah segala perubahan yang terjadi pada anak, dilihat dari berbagai aspek,
antara lain aspek fisik (motorik), emosi, kognitif, dan psikososial (bagaimana
anak berinteraksi dengan lingkungannya). Orang tua sebaiknya memperhatikan
perkembangan anak sejak dini, bahkan sejak orang tua berencana untuk memiliki
anak. Kesiapan orang tua untuk memiliki anak akan sangat memengaruhi
perkembangan anak tersebut selanjutnya.
Saat calon ibu
mengetahui kehamilannya, perkembangan janin mulai dapat diperhatikan, antara
lain menjaga pola makan (misalnya menghindari makanan berlemak), menghilangkan
kebiasaan merokok atau penggunaan obat-obatan yang dapat memengaruhi janin,
serta menerapkan pola hidup sehat. Bentuk perhatian lainnya adalah dengan
memeriksakan kesehatan calon ibu dan janin secara rutin ke dokter kandungan.
Dengan demikian,
perkembangan janin dapat terus dipantau, dan bila ada keterlambatan ataupun
gangguan, misalnya gerakan janin lemah atau terjadi keterlambatan pada
pertumbuhan organ-organ tubuh, dapat segera diketahui dan segera dicari
alternatif tindakan atau pengobatannya.
Perkembangan anak
meliputi seluruh perubahan, baik perubahan fisik, perkembangan kognitif, emosi,
maupun perkembangan psikososial yang terjadi dalam usia anak (infancytoddlerhood
di usia 0-3 tahun, early childhood usia 3-6 tahun, dan middle childhood usia
6-11 tahun).
Masing-masing aspek
di atas memiliki tahapan-tahapan sendiri. Pada usia 1 bulan, misalnya pada
aspek motorik kasarnya, anak sudah bisa menggerakkan tangan dan kakinya. Pada
motorik halus, misalnya anak sudah bisa menolehkan kepalanya.
Yang juga harus
dipahami orang tua, tahap perkembangan pada masing-masing anak berbeda. Anak
bisa terlambat berjalan tapi cepat berbicara. Toleransinya adalah enam bulan.
Jika lebih dari enam bulan anak belum bisa melaksanakan tugas perkembangan
sesuai usianya, sebaikya segera ditangani.
Sejauh masih dalam
rentang toleransi yang enam bulan itu, tidak masalah. Beri anak stimulasi,
latihan, dan dukungan. Orang tua juga harus siap, misalnya jika pada usia
setahun anak belum bisa berdiri sendiri, padahal harusnya sudah bisa berdiri
sendiri tanpa dipegangi. Kita lihat, apakah memang secara fisik terhambat atau
dari kecil memang terbiasa dipegangi terus.
Jika kasusnya adalah
lingkungan yang tidak mendukung, kita tidak bisa bilang bahwa perkembangan anak
terlambat. Harus dicoba mengubah lingkungan lebih dulu. Kalau ternyata setelah
distimulasi anak mampu, berarti bukan motoriknya yang terganggu, tetapi lebih
pada lingkungan yang kurang memberi stimulant.
Keterlambatan 6
bulan dalam tumbuh kembang merupakan peringatan bagi orang tua dan harus segera
diperiksa. Oleh karena itu, selalu memperhatikan perkembangan anak sangat
penting, karena semakin cepat keterlambatan diketahui dan ditangani, semakin
besar kemungkinan anak untuk dapat kembali berfungsi sesuai tahap perkembangannya.
Jika orang tua
mengabaikan, hal-hal kecil seperti ini akan lewat begitu saja. Akibatnya, pada
saat beberapa aspek itu menyatu menjadi hambatan, sulit bagi profesional
(dokter atau psikolog) untuk memberikan intervensi, karena sudah terlambat.
Intervensi dini terhadap keterlambatan anak akan memberikan hasil yang lebih
optimal dibandingkan jika penanganan tidak segera dilakukan.
Apa saja aspek-aspek
perkembangan anak yang harus diketahui orang tua?
1.
PERKEMBANGAN FISIK
Berkaitan dengan perkembangan gerakan motorik, yakni
perkembangan pengendalian gerakan tubuh melalui kegiatan yang terkoordinir
antara susunan saraf, otot, otak, dan spinal cord. Perkembangan motorik
meliputi motorik kasar dan halus. Motorik kasar adalah gerakan tubuh yang
menggunakan otot-otot besar atau sebagian besar atau seluruh anggota tubuh yang
dipengaruhi oleh kematangan anak itu sendiri.
Contohnya kemampuan duduk, menendang, berlari, naik-turun
tangga dan sebagainya.
Sedangkan motorik halus adalah gerakan yang menggunakan otot-otot halus atau sebagian anggota tubuh tertentu, yang dipengaruhi oleh kesempatan untuk belajar dan berlatih. Misalnya, kemampuan memindahkan benda dari tangan, mencoret-coret, menyusun balok, menggunting, menulis dan sebagainya.
Sedangkan motorik halus adalah gerakan yang menggunakan otot-otot halus atau sebagian anggota tubuh tertentu, yang dipengaruhi oleh kesempatan untuk belajar dan berlatih. Misalnya, kemampuan memindahkan benda dari tangan, mencoret-coret, menyusun balok, menggunting, menulis dan sebagainya.
Mana
yang lebih penting? Keduanya diperlukan agar anak dapat berkembang optimal.
Bedanya, kalau perkembangan motorik kasar sangat tergantung kematangan anak.
“Kita tidak bisa memosisikan anak untuk berjalan atau berlari saat itu juga,
padahal anak belum siap baik secara fisik maupun psikis misalnya.
Sementara motorik halus bisa dilatih. Anak-anak yang
perkembangan motorik halusnya kurang, biasanya disebabkan stimulasi dari
lingkungan juga kurang.
Latihan menulis, meronce atau meremas-remas lilin misalnya
bisa dilakukan melatih motorik halus.
2.
PERKEMBANGAN EMOSI
Ini harus dipupuk sejak dini. Misalnya, orang tua harus bisa
memberikan kehangatan, sehingga anak akan merasa nyaman. Anak juga akan belajar
dari model di lingkungannya. Nah, apa yang ia rasakan akan ia berikan kembali
ke lingkungannya. Jika orang tuanya bersikap hangat, ia pun akan bersikap yang
sama terhadap lingkungannya. Bayangkan jika orang tua tak pernah memberikan
kehangatan pada anak. Anak akan merasa ditolak. Akibatnya, ia bisa depresi yang
tentu akan memengaruhi kemampuannya berinteraksi dengan lingkungan. Akibat
lain, anak bisa takut mencoba, malu bertemu dengan orang, dan sebagainya.
3.
PERKEMBANGAN KOGNITIF
Perkembangan kognitif atau proses berpikir anak adalah
proses menerima, mengolah sampai memahami info yang diterima. Aspeknya antara
lain intelegensi, kemampuan memecahkan masalah, serta kemampuan berpikir logis.
Intinya adalah kemampuan anak mengembangkan kemampuan berpikir.
Kemampuan ini berkaitan dengan bahasa dan bisa dilatih sejak
anak mulai memahami kata. Pada tahap dimana anak mulai memberikan respon dan
memahami kata, bisa dimasukkan informasi-informasi sederhana. Misalnya,
aturan-aturan yang ada di lingkungan. Bisa juga mengenalkan konsep-konsep
dasar, seperti warna, angka, dan sebagainya. Dn perlu diingat bahwa proses
pengenalan ini harus dilakukan dengan cara bermain.
Hambatan dalam bidang kognitif bisa dilihat dari seberapa
cepat atau lambat anak menangkap informasi yang diberikan, atau seberapa sulit
anak mengungkapkan pikiran. Keterlambatan seperti ini berkaitan dengan
kapasitas intelektual yang akan menjadi terbatas pula.
4.
PERKEMBANGAN PSIKOSOSIAL
Berkaitan dengan interaksi anak dengan lingkungannya. Misalnya, di usia setahun, anak sudah bisa bermain dengan teman-teman seusianya. Jika anak sudah punya kemampuan itu, orang tua bisa memberikan dukungan. Anak juga sebaiknya juga dikenalkan dengan lingkungan baru. Ajarkan ia cara beradaptasi.
Hambatan perkembangan psikososial akan membuat anak
mengalami kecemasan, sulit berinteraksi dengan orang yang baru dikenal, bisa
juga jadi pemalu. Atau sebaliknya, jika orang tua overprotektif, anak menjadi
sulit berpisah dengan orang tua, sulit mengerjakan segala sesuatuya sendiri
karena tidak pernah diberi kesempatan untuk itu. Pemahaman mengenai pentingnya
usia dini.
Faktor-faktor
yang Mempengaruhi Tumbuh Kembang Anak
Ada
4 faktor yang berperan dalam tumbuh kembang anak, yakni:
1.
Biologik/fisiologik: Genetika, adanya kelainan fisiologis (seperti:
disfungsi saraf pusat, malnutiri, dan lainnya).
2.
Psikologik: Proses mental-psikologiks (seperti: hubungan
emosional, motivasi, minat, bakat, perkembangan kognisi, persepsi, dan
kreativitas).
3.
Lingkungan: Keadaan lingkungan, stimulasi, fasilitas
(seperti: kesehatan lingkungan, instrumen lingkungan, ketersediaan permainan,
dan lainnya).
4.
Interaksi dari beberapa faktor.
Stimulasi, Deteksi, dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang Si Kecil Antisipasi Kelainan
Anak adalah buah
hati. Orang tua akan selalu memberikan yang terbaik bagi anak-anak mereka.
Terkadang tanpa sadar orang tua sering mengabaikan mengenai pertumbuhan dan
perkembangan anak.
Berbeda dengan otak orang dewasa, otak
balita (bawah lima tahun) lebih plastis.
Oleh karena itu, masa liam tahun pertama kehidupan merupakan masa
yang sangat peka terhadap lingkungan dan masa ini berlangsung sangat
pendek serta tidak dapat diulang lagi, maka masa balita disebut sebagai “masa keemasan” (golden period), “jendela kesempatan” (window of opportunity) dan
“masa kritis” (critical period).
Pembinaan tumbuh kembang anak secara
komprehensif dan berkualitas yang diselenggarakan melalui kegiatan stimulasi,
deteksi dan intervensi dini penyimpangan tumbuh kembang balita dilakukan pada
“masa kritis” (0-5 tahun). Melakukan
stimulasi yang memadai artinya merangsang otak balita sehingga perkembangan
kemampuan gerak, bicara, dan bahasa, sosialisasi dan kemandirian pada balita
berlangsung secara optimal sesuai dengan umur anak. Melakukan deteksi dini
penyimpangan tumbuh kembang artinya melakukan skrining atau mendeteksi secara
dini adanya penyimpangan tumbuh kembang
balita termasuk menindaklanjuti setiap keluhan orang tua terhadap masalah
tumbuh kembang balitanya. Melakukan intervensi dini penyimpangan tumbuh
kembang balita artinya melakukan tindakan
koreksi dengan memanfaatkan plastisitas otak anak untuk memperbaiki
penyimpangan tumbuh kembang pada anak agar tumbuh kembangnya kembali normal
atau penyimpangannya tidak semakin berat. Apabila balita perlu dirujuk, maka
rujukan juga harus dilakukan sedini mungkin sesuai dengan indikasi.
Apek-Aspek
Perkembangan yang Dipantau
1. Gerak kasar (motorik kasar): aspek yang
berhubungan dengan kemampuan melakukan gerakan dan sikap tubuh yang melibatkan
otot-otot besar seperti duduk, berdiri, dan sebagainya.
2. Gerak halus (motorik halus): aspek yang
berhubungan dengan kemampuan melakukan gerakan yang melibatkan bagian-bagian
tubuh tertentu dan dilakukan oleh otot-otot kecil, tetapi memerlukan koordinasi
yang cermat seperti, menulis, menjimpit dsb.
3. Kemampuan bicara dan bahasa: aspek yang berhubungan dengan kemampuan untuk
memberi respon terhadap suara, berbicara, berkomunikasi, mengikuti perintah,
dsb.
4. Sosialisasi dan kemandirian: aspek yang
berhubungan dengan kemampuan mandiri anak, berpisah dengan ibu/pengasuh,
bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungannya, dsb.
3 Jenis Deteksi Tumbuh Kembang:
1. Deteksi Dini Penyimpangan Pertumbuhan
(status gizi)
2. Deteksi Dini Penyimpangan perkembangan:
untuk mengetahui gangguan perkembangan anak (keterlambatan), gangguan daya
lihat, gangguan daya dengar
3. Deteksi Dini penyimpangan mental
emosional, yaitu untuk mengetahui adanya masalah mental emosional, autism, dan
gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktifitas.
Bagaimana Menstimulasi anak?
Untuk tumbuh kembang anak yang optimal
harus dilakukan stimulasi. Stimulasi dapat dilakukan dengan Alat Permainan
Edukasi (APE). Syarat APE yang baik adalah aman, desain harus jelas, mempunyai
aspek pengembangan, ukuran dan berat APE harus sesuai dengan usia anak. Contoh
APE antara lain bola (menstimulasi motorik kasar), pensil (motorik halus),
puzzle dan buku gambar (kecerdasan kognitif). Peran orang tua sangat besar
dalam tumbuh kembang anak baik stimulasinya maupun pengawasannya.
Cara Menstimulasi (Merangsang) Perkembangan Anak
Cara Menstimulasi (Merangsang) Perkembangan Anak
Umur 0 - 4 Bulan
Sering memeluk dan menimang bayi dengan penuh kasih sayang.
Gantung benda berwarna cerah yang bergerak dan bisa dilihat bayi.
Ajak bayi tersenyum dan bicara.
Perdengarkan musik pada bayi.
Umur 1 Bulan
Pada umur 1 Bulan, bayi bisa :
Menatap ke ibu
Mengeluarkan suara o...o...o
Tersenyum
Menggerakkan tangan dan kaki
Pada umur 3 bulan, bayi bisa:
Mengangkat kepala tegak ketika tengkurap
Tertawa
Menggerakkan kepala ke kiri dan kanan
Membalas tersenyum ketika diajak bicara/terseyum
Mengoceh spontan atau bereaksi dengan mengoceh
JIka pada usia 3 bulan, bayi belum bisa melakukan hal di atas, bawa bayi ke tenaga kesehatan.
Mengangkat kepala tegak ketika tengkurap
Tertawa
Menggerakkan kepala ke kiri dan kanan
Membalas tersenyum ketika diajak bicara/terseyum
Mengoceh spontan atau bereaksi dengan mengoceh
JIka pada usia 3 bulan, bayi belum bisa melakukan hal di atas, bawa bayi ke tenaga kesehatan.
Umur 4 - 6 Bulan
Sering tengkurapkan bayi.
Gerakkan benda ke kiri dan kanan, di depan matanya.
Perdengarkan berbagai bunyi-bunyian.
Beri mainan benda yang besar dan berwarna
6 BULAN
Pada umur 6 bulan, Bayi bisa:
Berbalik dari telungkup ke telentang
Mempertahankan posisi kepala tetap tegak
Meraih benda yang ada di dekatnya
Menirukan bunyi
Menggenggam mainan
Tersenyum ketika melihat mainan/gambar yang menarik
JIka pada usia 6 bulan, bayi belum bisa melakukan hal di atas, bawa bayi ke bidan/perawat/dokter
Umur 6 - 12 bulan
Ajari bayi duduk
Ajak main ci-luk-ba
Ajari memegang dan makan biskuit
Ajari memegang benda kecil dengan 2 jari
Ajari berdiri dan berjalan dengan berpegangan
Ajak bicara sesering mungkin Latih mengucapkan ma.. ma.. pa.. pa
Beri mainan yang aman dipukul-pukul
Pada umur 9 bulan, bayi bisa:
Merambat
Mengucapkan ma..ma.., da..da..da…
Meraih benda sebesar kacang
Mencari benda/mainan yang dijatuhkan
Bermain tepuk tangan atau ci-luk-ba
Makan kue/biskuit sendiri
Pada umur 12 bulan, bayi bisa
Berdiri dan berjalan berpegang
Memegang benda kecil
Meniru kata sederhana seperti ma..ma… pa..pa….
Mengenal anggota keluarga
Takut pada orang yang belum dikenal
Menunjuk apa yang diinginkan tanpa menangis/merengek
Jika pada usia 9 atau 12 bulan, bayi belum bisa melakukan hal di atas, bawa bayi ke bidan/perawat/dokter
Umur 1 - 2 tahun
Ajari berjalan di undakan/tangga
Ajak membersihkan meja dan menyapu
Ajak membereskan mainan
Ajari mencoret-coret di kertas
Ajari menyebut bagian tubuhnya
Sering tengkurapkan bayi.
Gerakkan benda ke kiri dan kanan, di depan matanya.
Perdengarkan berbagai bunyi-bunyian.
Beri mainan benda yang besar dan berwarna
6 BULAN
Pada umur 6 bulan, Bayi bisa:
Berbalik dari telungkup ke telentang
Mempertahankan posisi kepala tetap tegak
Meraih benda yang ada di dekatnya
Menirukan bunyi
Menggenggam mainan
Tersenyum ketika melihat mainan/gambar yang menarik
JIka pada usia 6 bulan, bayi belum bisa melakukan hal di atas, bawa bayi ke bidan/perawat/dokter
Umur 6 - 12 bulan
Ajari bayi duduk
Ajak main ci-luk-ba
Ajari memegang dan makan biskuit
Ajari memegang benda kecil dengan 2 jari
Ajari berdiri dan berjalan dengan berpegangan
Ajak bicara sesering mungkin Latih mengucapkan ma.. ma.. pa.. pa
Beri mainan yang aman dipukul-pukul
Pada umur 9 bulan, bayi bisa:
Merambat
Mengucapkan ma..ma.., da..da..da…
Meraih benda sebesar kacang
Mencari benda/mainan yang dijatuhkan
Bermain tepuk tangan atau ci-luk-ba
Makan kue/biskuit sendiri
Pada umur 12 bulan, bayi bisa
Berdiri dan berjalan berpegang
Memegang benda kecil
Meniru kata sederhana seperti ma..ma… pa..pa….
Mengenal anggota keluarga
Takut pada orang yang belum dikenal
Menunjuk apa yang diinginkan tanpa menangis/merengek
Jika pada usia 9 atau 12 bulan, bayi belum bisa melakukan hal di atas, bawa bayi ke bidan/perawat/dokter
Umur 1 - 2 tahun
Ajari berjalan di undakan/tangga
Ajak membersihkan meja dan menyapu
Ajak membereskan mainan
Ajari mencoret-coret di kertas
Ajari menyebut bagian tubuhnya
Bacakan cerita
anak
Ajak bernyanyi
Ajak bermain
Berikan pujian kalau ia berhasil melakukan sesuatu
Ajak bernyanyi
Ajak bermain
Berikan pujian kalau ia berhasil melakukan sesuatu
Umur 2 Tahun
Pada umur 2 tahun, anak bisa:
Naik tangga dan berlari-lari
Mencoret-coret pensil pada kertas
Dapat menunjuk 1 atau lebih bagian tubuhnya
Menyebut 3 – 6 kata yang mempunyai arti, seperti bola, piring, dan sebagainya
Memegang cangkir sendiri
Belajar makan-minum sendiri
Jika pada usia 2 tahun, anak belum bisa melakukan hal di atas, bawa anak ke bidan/perawat/dokter.
Umur 2 - 3 tahun
Ajari berpakaian sendiri
Ajak melihat buku bergambar
Bacakan cerita anak
Ajari makan di piringnya sendiri
Ajari cuci tangan
Ajari buang air besar dan kecil di tempatnya
Umur 3 tahun
Pada umur 3 tahun, anak bisa:
Mengayuh sepeda roda tiga
Berdiri di atas satu kaki tanpa berpegangan
Bicara dengan baik menggunakan 2 kata
Mengenal 2 – 4 warna
Menyebut nama, umur dan tempat
Menggambar garis lurus Bermain dengan teman
Melepas pakaiannya sendiri Mengenakan sepatu sendiri
Jika pada usia 2 – 3 tahun, anak belum bisa melakukan hal di atas, bawa anak ke bidan/perawat/dokter.
Umur 3 - 5 tahun
Minta anak menceritakan apa yang ia lakukan
Dengarkan ia ketika bicara
Jika ia gagap, ajari bicara pelan-pelan
Awasi dia mencoba hal baru
Pada umur 5 tahun, anak bisa:
Melompat-lompat 1 kaki, menari, dan berjalan lurus
Menggambar orang 3 bagian (kepala, badan, tangan/kaki)
Menggambar tanda silang dan lingkaran
Menangkap bola kecil dengan kedua tangan
Menjawab pertanyaan dengan kata-kata yang benar
Menyebut angka, menghitung jari
Bicaranya mudah dimengerti
Berpakaian sendiri tanpa dibantu
Mengancing baju atau pakaian boneka
Pada umur 2 tahun, anak bisa:
Naik tangga dan berlari-lari
Mencoret-coret pensil pada kertas
Dapat menunjuk 1 atau lebih bagian tubuhnya
Menyebut 3 – 6 kata yang mempunyai arti, seperti bola, piring, dan sebagainya
Memegang cangkir sendiri
Belajar makan-minum sendiri
Jika pada usia 2 tahun, anak belum bisa melakukan hal di atas, bawa anak ke bidan/perawat/dokter.
Umur 2 - 3 tahun
Ajari berpakaian sendiri
Ajak melihat buku bergambar
Bacakan cerita anak
Ajari makan di piringnya sendiri
Ajari cuci tangan
Ajari buang air besar dan kecil di tempatnya
Umur 3 tahun
Pada umur 3 tahun, anak bisa:
Mengayuh sepeda roda tiga
Berdiri di atas satu kaki tanpa berpegangan
Bicara dengan baik menggunakan 2 kata
Mengenal 2 – 4 warna
Menyebut nama, umur dan tempat
Menggambar garis lurus Bermain dengan teman
Melepas pakaiannya sendiri Mengenakan sepatu sendiri
Jika pada usia 2 – 3 tahun, anak belum bisa melakukan hal di atas, bawa anak ke bidan/perawat/dokter.
Umur 3 - 5 tahun
Minta anak menceritakan apa yang ia lakukan
Dengarkan ia ketika bicara
Jika ia gagap, ajari bicara pelan-pelan
Awasi dia mencoba hal baru
Pada umur 5 tahun, anak bisa:
Melompat-lompat 1 kaki, menari, dan berjalan lurus
Menggambar orang 3 bagian (kepala, badan, tangan/kaki)
Menggambar tanda silang dan lingkaran
Menangkap bola kecil dengan kedua tangan
Menjawab pertanyaan dengan kata-kata yang benar
Menyebut angka, menghitung jari
Bicaranya mudah dimengerti
Berpakaian sendiri tanpa dibantu
Mengancing baju atau pakaian boneka
Menggosok gigi
tanpa bantuan
Jika pada usia 5
tahun, anak belum bisa melakukan hal di atas, bawa anak ke
bidan/perawat/dokter.
Media Belajar bagi Anak Penyandang Autisme
08.11
No comments
Berbeda dengan anak-anak normal pada
umumnya, anak-anak autis membutuhkan penanganan khusus sehubungan dengan
kegiatan belajar dan media belajar anak.
Jika anak-anak normal bisa duduk tenang di dalam kelas sambil mendengarkan penjelasan guru, anak-anak autis tidak bisa melakukan hal serupa. Inilah alasannya mengapa mengajar anak autis menjadi salah satu hal yang menarik dan menantang.
Sekalipun tidak selancar atau secepat anak-anak normal, anak autis sebenarnya memiliki kemampuan untuk bisa diajar membaca, menulis, atau bahkan belajar hal-hal lain.
Hanya saja prosesnya akan lebih lama sehingga dibutuhkan ketekunan dan kesabaran yang ekstra. Tentunya, dengan menggunakan media belajar anak yang berbeda pula.
Pada dasarnya, autisme akan mempengaruhi kemampuan sesorang untuk berkomunikasi, berinteraksi, dan bersosialisasi secara efektif. Pasalnya, autisme merupakan bentuk kelainan genetik yang bahkan tidak mungkin disembuhkan.
Namun, hal ini tentu saja tidak bisa diartikan bahwa anak autis tidak bisa menjalani kehidupan normal layaknya kebanyakan orang. Pasalnya, masing-masing anak autis akan mengalami pengaruh autism yang berbeda-beda.
Seorang anak autis mungkin saja sangat sedikit bicara dan bahkan menjadi sangat pendiam. Sementara anak autis yang lain justru berperilaku hiperaktif, kompulsif dan bahkan ekstrim.
Jika menengok ke sekolah-sekolah khusus untuk anak autism, maka Anda akan melihat bagaimana anak-anak autis juga bisa belajar bahasa, aritmatika, kesenian, dan lain sebagainya persis seperti anak-anak normal.
Namun, pembelajaran di sekolah khusus autism tentu menggunakan metode dan media belajar anak yang khusus. Hal ini salah satunya didasarkan pada perilaku anak autis yang bisa agresif dan mudah marah, yang tentu saja akan menyulitkan guru-guru yang memberikan pelajaran.
Nah, berikut ini akan dijelaskan tentang beberapa hal yang bisa dijadikan sebagai metode dan media belajar anak autis, diantaranya:
Gunakan gambar
Langkah paling simpel untuk mengajarkan sesuatu bagi anak penyandang autisme adalah dengan menggunakan gambar. Misalnya, ketika ingin melatih anak autis untuk membaca atau berhitung.
Pengajar harus menyiapkan properti berupa gambar-gambar yang bisa membantunya mengerti angka atau huruf. Dengan begitu, anak autis akan lebih mudah mengingat huruf-huruf atau angka-angka yang sudah diajarkan.
Dengan bercerita
Cerita bisa digunakan sebagai media belajar anak autis. Misalnya, ketika pengajar ingin menceritakan tentang cara kerja mobil. Selain membutuhkan gambar-gambar mobil, pengajar juga harus bisa membacakan cerita-cerita yang berhubungan dengan mobil, entah cara kerjanya, jenis-jenisnya, maupun cara-cara penggunaannya.
Gunakan video
Anak autis akan mudah bosan ketika pengajar banyak memberikan penjelasan atau terlalu banyak menerangkan. Hal inilah yang kemudian menyebabkan mereka tidak bisa diam, berlarian, atau bahkan keluar dari kelas. Nah, cara yang paling efektif untuk mengatasi masalah ini adalah menjadikan video sebagai media belajar.
Caranya, dengan memutarkan video-video yang sifatnya edukasi atau medidik. Biasanya, di dalam video-video tersebut bisa disisipi pelajaran berhitung ataupun mengeja. Inilah salah satu trik untuk mengajar anak autis yang cenderung bisa diterima mereka.
Berkesenian
Salah satu yang tergolong baik untuk diajarkan pada anak autis adalah tentang kesenian. Beberapa jenis kesenian seperti menggambar, melukis, memahat, menari, bernyanyi, atau bahkan bermain musik akan sangat baik untuk dijadikan media belajar.
Misalnya, dengan menari, anak-anak autis akan memahami irama, ketukan, dan hitungan. Dengan begitu, secara tidak langsung mereka sudah belajar berhitung.
Bisa juga menerapkan pemahaman atas benda-benda disekitar dengan cara menggambar dan mewarnai. Sediakan gambar benda-benda di sekitar yang belum diwarnai. Ajaklah anak-anak autis untuk belajar menghubungkan garis dan mewarnai gambar tersebut. (bil)
Jika anak-anak normal bisa duduk tenang di dalam kelas sambil mendengarkan penjelasan guru, anak-anak autis tidak bisa melakukan hal serupa. Inilah alasannya mengapa mengajar anak autis menjadi salah satu hal yang menarik dan menantang.
Sekalipun tidak selancar atau secepat anak-anak normal, anak autis sebenarnya memiliki kemampuan untuk bisa diajar membaca, menulis, atau bahkan belajar hal-hal lain.
Hanya saja prosesnya akan lebih lama sehingga dibutuhkan ketekunan dan kesabaran yang ekstra. Tentunya, dengan menggunakan media belajar anak yang berbeda pula.
Pada dasarnya, autisme akan mempengaruhi kemampuan sesorang untuk berkomunikasi, berinteraksi, dan bersosialisasi secara efektif. Pasalnya, autisme merupakan bentuk kelainan genetik yang bahkan tidak mungkin disembuhkan.
Namun, hal ini tentu saja tidak bisa diartikan bahwa anak autis tidak bisa menjalani kehidupan normal layaknya kebanyakan orang. Pasalnya, masing-masing anak autis akan mengalami pengaruh autism yang berbeda-beda.
Seorang anak autis mungkin saja sangat sedikit bicara dan bahkan menjadi sangat pendiam. Sementara anak autis yang lain justru berperilaku hiperaktif, kompulsif dan bahkan ekstrim.
Jika menengok ke sekolah-sekolah khusus untuk anak autism, maka Anda akan melihat bagaimana anak-anak autis juga bisa belajar bahasa, aritmatika, kesenian, dan lain sebagainya persis seperti anak-anak normal.
Namun, pembelajaran di sekolah khusus autism tentu menggunakan metode dan media belajar anak yang khusus. Hal ini salah satunya didasarkan pada perilaku anak autis yang bisa agresif dan mudah marah, yang tentu saja akan menyulitkan guru-guru yang memberikan pelajaran.
Nah, berikut ini akan dijelaskan tentang beberapa hal yang bisa dijadikan sebagai metode dan media belajar anak autis, diantaranya:
Gunakan gambar
Langkah paling simpel untuk mengajarkan sesuatu bagi anak penyandang autisme adalah dengan menggunakan gambar. Misalnya, ketika ingin melatih anak autis untuk membaca atau berhitung.
Pengajar harus menyiapkan properti berupa gambar-gambar yang bisa membantunya mengerti angka atau huruf. Dengan begitu, anak autis akan lebih mudah mengingat huruf-huruf atau angka-angka yang sudah diajarkan.
Dengan bercerita
Cerita bisa digunakan sebagai media belajar anak autis. Misalnya, ketika pengajar ingin menceritakan tentang cara kerja mobil. Selain membutuhkan gambar-gambar mobil, pengajar juga harus bisa membacakan cerita-cerita yang berhubungan dengan mobil, entah cara kerjanya, jenis-jenisnya, maupun cara-cara penggunaannya.
Gunakan video
Anak autis akan mudah bosan ketika pengajar banyak memberikan penjelasan atau terlalu banyak menerangkan. Hal inilah yang kemudian menyebabkan mereka tidak bisa diam, berlarian, atau bahkan keluar dari kelas. Nah, cara yang paling efektif untuk mengatasi masalah ini adalah menjadikan video sebagai media belajar.
Caranya, dengan memutarkan video-video yang sifatnya edukasi atau medidik. Biasanya, di dalam video-video tersebut bisa disisipi pelajaran berhitung ataupun mengeja. Inilah salah satu trik untuk mengajar anak autis yang cenderung bisa diterima mereka.
Berkesenian
Salah satu yang tergolong baik untuk diajarkan pada anak autis adalah tentang kesenian. Beberapa jenis kesenian seperti menggambar, melukis, memahat, menari, bernyanyi, atau bahkan bermain musik akan sangat baik untuk dijadikan media belajar.
Misalnya, dengan menari, anak-anak autis akan memahami irama, ketukan, dan hitungan. Dengan begitu, secara tidak langsung mereka sudah belajar berhitung.
Bisa juga menerapkan pemahaman atas benda-benda disekitar dengan cara menggambar dan mewarnai. Sediakan gambar benda-benda di sekitar yang belum diwarnai. Ajaklah anak-anak autis untuk belajar menghubungkan garis dan mewarnai gambar tersebut. (bil)
Selasa, 13 Januari 2015
Dzikir Itu Sehat
08.34
No comments
hidup sehat dengan dzikir
Dokter dari
RS Satyanegara, Sunter, dr. Arman Yurisaldi Saleh, mengungkapkan bahwa Dzikir
dapat menyehatkan.Ia membuktikan melalui penelitian terhadap pasien-pasiennya
dimana pasien yang berdzikir sembuh lebih cepat dibanding yang tidak berzikir.
Pasien yang mengalami gangguan alzheimer & stroke, akan membaik kondisinya setelah
membiasakan dzikir dengan mengucapkan kalimat tauhid "Laa iIlaaha
illallah" dan kalimat istighfar "Astaghfirullah". Menurutnya,
ditinjau dari ilmu kedokteran kontemporer, pengucapan "Laa iIlaaha
illallah" dan "Astaghfirullah" dapat menghilangkan nyeri dan
bisa menumbuhkan ketenangan serta kestabilan saraf bagi penderita.Sebab, dalam
kedua bacaan dzikir tersebut terdapat huruf JAHR yang dapat mengeluarkan CO2
dari otak.
Jumat, 09 Januari 2015
Pengertian Aurat dan Batasan Aurat
07.42
No comments
Pengertian Aurat dan Batasan Aurat
Aurat
secara bahasa berasal dari kata ‘araa , dari kata tersebut muncul
derivasi kata bentukan baru dan makna baru pula. Bentuk ‘awira
(menjadikan buta sebelah mata), ‘awwara (menyimpangkan, membelokkan dan
memalingkan), a’wara (tampak lahir atau auratnya), al-‘awaar (cela atau
aib), al-‘wwar (yang lemah, penakut), al-‘aura’ (kata-kata dan perbuatan
buruk, keji dan kotor), sedangkan al-‘aurat adalah segala perkara yang
dirasa malu.
Langganan:
Komentar (Atom)













